hakim yang lalim dan janda gigih

Jadilah Kehendak-Mu

Sabtu, 15 November 2025, Sabtu Pekan Biasa XXXII
Bacaan: Keb. 18:14-16,19:6-9Mzm. 105:2-3,36-37,42-43Luk. 18:1-8.

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk 18: 7).

Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang hakim yang lalim dan seorang janda yang gigih. Pada pandangan pertama, situasi janda itu tampak mengenaskan. Dia tidak punya uang, tidak punya pengaruh, dan tidak punya kekuatan untuk menuntut keadilan. Namun, dia memiliki satu senjata: kegigihan. Setiap hari dia memohon keadilan atas kasusnya hingga bahkan hakim yang lalim dan tidak takut akan Allah itu, yang lelah dengan permohonannya yang terus-menerus, memberikan apa yang dia minta.

Namun Yesus tidak membandingkan Allah dengan hakim ini; justru Ia membedakannya. Jika seorang hakim yang egois dan tidak adil akhirnya menyerah pada ketekunan, betapa lebih lagi Allah, yang adalah Bapa yang penuh kasih, akan mendengarkan tangisan anak-anak-Nya? Doa bukanlah tentang membuat Allah lelah; melainkan tentang bertumbuh dalam kepercayaan dan keyakinan bahwa Ia tahu dan memberikan yang terbaik bagi kita.

Namun, inilah tantangannya: jawaban Allah tidak selalu datang dengan cara atau pada waktu yang kita harapkan. Seperti anak-anak, kita kadang-kadang meminta hal-hal yang akan merugikan kita, meskipun kita tidak menyadarinya. Hanya Allah yang melihat gambaran keseluruhan — masa lalu, sekarang, dan masa depan — dan oleh karena itu hanya Dia yang tahu apa yang benar-benar baik bagi kita. Itulah mengapa doa harus selalu diakhiri dengan kata-kata Yesus: “Jadilah kehendak-Mu.”

Ketekunan dalam doa bukanlah kekakuan; itu adalah iman. Itu berarti percaya bahwa Allah mendengarkan kita, bahkan dalam keheningan. Itu berarti menolak untuk menyerah, bahkan ketika penundaan tampak tak berujung. Yesus mengakhiri dengan pertanyaan yang menggetarkan: “Ketika Anak Manusia datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” Tugas kita adalah menjaga lampu iman tetap menyala, berdoa tanpa henti, dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan kasih Allah.

Mari kita berdoa dengan ketekunan, tetapi juga dengan kerendahan hati, memohon bukan hanya apa yang kita inginkan, tetapi apa yang Allah tahu kita benar-benar butuhkan. Di sinilah letak inti iman.

Tuhan, jadilah kehendak-Mu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *