Rabu, 8 April 2026, Rabu dalam Oktaf Paskah
Bacaan: Kis 3:1-10; Mzm 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Luk 24:13-35.
“Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" [Luk 24: 32]
Hari ini, Injil menceritakan perjalanan dua murid ke Emaus. Peristiwa di Emaus hanya dicatat dalam Injil Lukas. Perjalanan ke Emaus ini melambangkan perjalanan kita melewati berbagai kekecewaan dalam hidup. Impian mereka telah hancur oleh rasa malu dan penghinaan akibat salib. “Kami berharap bahwa Dialah yang akan menyelamatkan kami,” kata para murid di jalan menuju Emaus.
Seperti para murid itu, ada banyak harapan dan impian dalam hidup kita. Kita berharap agar pernikahan tetap utuh dan keluarga tetap bersatu. Kita berharap agar hidup komunitas dan perutusan membahagiakan. Kita berharap agar perang, kekerasan, dan terorisme akan segera berakhir. Kita berharap anak-anak kita akan terus menjadi anggota aktif Gereja. Kita pun sering kali seperti para murid, mengalami mimpi dan harapan kita hancur.
Sama seperti kedua murid itu sedang bergumul dengan kekecewaan mereka, apa pergumulan anda saat ini? Mungkin kekecewaan, pertanyaan yang tak terjawab, atau beban hidup sehari-hari? Yesus mengundang kita untuk melakukan seperti yang dilakukan para murid: menceritakan segalanya kepada-Nya. Ia merindukan kejujuran kita, bukan kata-kata yang sempurna. Ketika kita membawa sukacita dan pergumulan kita kepada-Nya, Ia dapat menyalakan kembali “api” di dalam hati kita.
Bagi kedua murid, perjalanan mereka sebenarnya dilakukan pada waktu dan arah yang salah. Dalam Matius 28:7, disebutkan bahwa malaikat di kubur memerintahkan Maria Magdalena untuk segera pergi dan memberitahu kepada para murid bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan bahwa Dia akan mendahului mereka ke Galilea, di mana mereka akan melihat-Nya. Namun, dua orang murid ini mengabaikan perintah Tuhan tersebut dan melakukan perjalanan yang salah. Injil mengajarkan kepada kita pentingnya mengikuti ajaran Tuhan untuk tetap berada di jalan yang benar dan menghindari penyimpangan.
Dalam Pemecahan Roti mereka mengenali Yesus. Penjabaran Kitab Suci saat mereka berada di jalan maupun pemecahan Roti pada malam hari merupakan Ekaristi pada hari itu. Pengalaman itu adalah pengalaman transformatif dan mengubah mereka selamanya. Ketika kita bertemu Tuhan dalam Ekaristi, dalam Firman Allah, dan di antara orang-orang di sekitar kita, kita tidak akan bisa tetap sama lagi. Sejauh manakah Sabda Tuhan yang anda dengarkan dan Ekaristi yang anda rayakan mengubah anda? Perubahan seperti apa yang anda alami?
Tuhan, kami telah mendengar Sabda-Mu. Kami juga telah duduk semeja dengan-Mu dan Engkau memecah-mecahkan roti bagi kami. Utuslah kami sekarang kepada saudara-saudari kami untuk menyampaikan Kabar Baik kepada mereka, bahwa Engkau telah bangkit dan hidup, dan bahwa sekarang, kami dapat bersama-sama menempuh perjalanan hidup kami dalam pengharapan. Amin.

