Senin, 12 Januari 2026, Senin Pekan Biasa I
Bacaan: 1Sam. 1:1-8; Mzm. 116:12-13,14,17,18-19; Mrk. 1:14-20.
“Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia,” (Mrk 1: 16 – 20)
Saya masih ingat saat saya mendaftar ke Seminari karena ingin menjadi imam. Saya menjalani proses dan melewati beberapa tahap seperti: ujian masuk, serangkaian tes, wawancara awal, rekomendasi dari pastor paroki, dan lainnya. Setelah diterima di seminari, saya tinggal di sana selama 4 tahun untuk menjalani pembinaan di seminari menengah. Kemudian di akhir pembinaan di Seminari Menengah, saya menulis surat lamaran ke Tarekat yang ingin saya masuki. Saya jalani wawancara, tes, dan sebagainya. Setelah diterima menjalani masa postulan, novisiat, studi filsafat, tahun pastoral, studi teologi, persiapan kaul kekal, tahbisan Diakon, menjalani tahun Diakonal, baru kemudian ketika dianggap layak, ditahbiskan menjadi imam. Tentu semuanya itu dijalani dalam proses yang panjang dan tak jarang dilewati dengan pelbagai macam pergumulan.
Tentu saja, murid-murid Yesus tidak menjalani proses semacam itu ketika dipanggil oleh-Nya. Dalam Injil hari ini, Andreas dan Simon sedang melempar jala di danau, sementara Yakobus dan Yohanes sedang membereskan jala mereka ketika Yesus memanggil mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Segera mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Saat itu juga, dengan rela dan siap! Mereka menjalani “pembinaan seminari” bersama Yesus hanya selama kurang lebih tiga tahun.
Perikope Injil hari ini, tentang panggilan para murid pertama, memberi kita tiga hal untuk merenungkan panggilan kita sendiri sebagai orang Kristen: Pertama, Yesus memanggil kita dalam aktivitas sehari-hari kita. Yesus “melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.” Mereka sedang bekerja dan menjalankan rutinitas harian mereka, dan Kristus masuk ke dalam hidup mereka secara tiba-tiba dan memanggil mereka untuk menjadi rasul-Nya. Mereka menjawab ‘ya’ karena mereka terbuka kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Kita mendengar panggilan Kristus dengan lebih jelas dan berusaha menanggapinya dalam aktivitas harian kita.
Kedua, panggilan Yesus bersifat mendesak. Ia berkata: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Kata-kata Yesus menyampaikan rasa urgensi dan tuntutan untuk mengikuti-Nya. Simon dan Andreas menyadari pentingnya momen itu, sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk menganalisis situasi atau mempertimbangkan pilihan lain. Kristus membutuhkan murid-murid-Nya sekarang.
Kita sering mendengar panggilan Kristus yang mendesak. Panggilan-Nya seolah-olah selalu menuntut namun penuh kasih. Ia ingin kita secara pribadi mengalami-Nya dan kabar baik yang merupakan kasih-Nya.
Ketiga, mengikuti Yesus seringkali berarti mengubah hidup kita. Dia memanggil kita untuk bertobat dari kebiasaan lama, cara berpikir, dan cara hidup kita agar dapat sepenuhnya percaya dan hidup sesuai dengan sabda-Nya. Jika kita ingin benar-benar hidup sesuai dengan tuntutan sabda Allah, kita harus berada dalam pertobatan terus-menerus, yaitu meninggalkan diri yang lama di masa lalu dan hidup sesuai dengan diri baru dalam Kristus saat ini.
Banyak jiwa yang menanti keselamatan Kristus. Dia membutuhkan “nelayan-nelayan” yang akan pergi dan “menjala” mereka. Misi yang Dia percayakan kepada kita ini akan menghasilkan tangkapan terbesar. Mari kita cintai misi kita.
Tuhan, bantu kami untuk menerima Injil-Mu dengan serius, menghidupinya bersama-Mu dan mewartakannya dengan semangat dan tekun. Amin.

