Kamis, 4 September 2025, Kamis Pekan Biasa XXII
Bacaan: Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
“Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. [Luk 5: 4 – 6]
Danau Galilea, yang juga disebut Danau Gennesaret, adalah tempat di mana Yesus memulai babak baru dalam misi-Nya. Tidak lagi terikat pada sinagoga, Ia pergi ke tepi danau, ke jalan-jalan, ke tempat-tempat di mana orang biasa bekerja dan berjuang dalam kehidupan. Mimbar-Nya menjadi perahu, pendengar-Nya adalah kerumunan orang yang haus akan Firman Allah.
Di situlah para nelayan yang lelah, yang telah bekerja sepanjang malam dan tidak menangkap apa-apa, bertemu dengan Yesus. Ia meminta mereka untuk kembali ke tengah danau, menebarkan jala mereka lagi. Dan di sana, melawan segala kemustahilan, datanglah tangkapan ikan yang besar.
Kisah ini mengungkapkan syarat-syarat setiap mujizat. Pertama, mata yang benar-benar melihat. Yesus memperhatikan apa yang diabaikan orang lain. Di mana orang lain hanya melihat air yang kosong, Ia melihat kelimpahan. Iman mempertajam penglihatan kita, membantu kita menemukan kehadiran Allah di tempat-tempat di mana keputusasaan mengatakan tidak ada yang mungkin.
Kedua, kemauan untuk mencoba lagi. Berapa banyak dari kita yang berhenti hanya satu langkah sebelum anugerah diberikan karena lebih dulu merasa lelah, putus asa, atau takut gagal? Petrus taat, bahkan ketika sepertinya mustahil dan sia-sia. Dan dalam ketaatannya, jala-jala mereka terisi penuh bahkan hampir koyak.
Ketiga, keberanian untuk bertindak ketika keadaan tampaknya tanpa harapan. Iman bukan menunggu kondisi yang sempurna. Iman berarti mempercayai Sabda Yesus bahkan ketika segala sesuatu mengatakan itu tidak akan berhasil.
Reaksi pertama Petrus adalah kerendahan hati: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Tetapi Yesus tidak meninggalkannya; malahan Ia memanggil Petrus. “Jangan takut; mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”
Mukjizat tangkapan ikan ini sebenarnya adalah mukjizat panggilan. Yesus memanggil masing-masing dari kita untuk percaya, mengikuti, dan menemukan bahwa bersama-Nya, bahkan jaring yang kosong pun dapat dipenuhi dengan kehidupan.
Ya Tuhan terkasih, berikanlah aku harapan di saat-saat mengalami cobaan dan karunia untuk belajar melalui kesulitan-kesulitan yang aku alami. Amin.

