Rabu, 28 Januari 2026, Peringatan St. Thomas Aquinas
Bacaan: 2Sam. 7:4-17; Mzm. 89:4-5,27-28,29-30; Mrk. 4:1-20.
"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur….. sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat," (Mrk 4: 3 – 8)
Dalam perumpamaan tentang penabur, ada detail kecil yang menarik perhatian kita: banyak benih terbuang sia-sia dalam jumlah besar di tanah yang tandus. Penekanan pada pemborosan, kegagalan, dan prospek yang mengecewakan merupakan unsur penting dalam perumpamaan Yesus. Hal ini mencerminkan realitas dunia di mana kejahatan tampak jauh lebih kuat dan berhasil daripada kebaikan. Dalam kebanyakan kasus, benih tidak bertunas; yang bertunas tidak tumbuh; dan yang tumbuh tercekik oleh semak duri.
Mengapa hal ini terjadi? Jika Allah baik, jika Ia Mahakuasa, mengapa Kerajaan-Nya tidak tumbuh tanpa hambatan? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab oleh Yesus. Petani dalam perumpamaan tampak bekerja sia-sia dan membuang benih serta memboroskan energinya. Yesus menceritakan perumpamaan ini pada saat yang sulit dalam hidup-Nya. Di Nazaret, Ia ditolak; di Kapernaum, Ia dianggap tidak waras; para Farisi ingin membunuh-Nya; dan para murid-Nya meninggalkan-Nya. Semua pengajaran-Nya jatuh pada telinga yang tuli. Kondisi terlalu tidak menguntungkan; firman-Nya nampak seperti ditakdirkan untuk mati (lih. Mat 11–12).
Dengan perumpamaan ini, Ia ingin menyampaikan pesan kepada murid-murid-Nya yang putus asa dan meragukan kegunaan pekerjaan kerasulan dan pewartaan yang Ia lakukan. Meskipun ada banyak tantangan dan rintangan, firman-Nya akan menghasilkan buah yang melimpah karena di dalamnya terdapat kekuatan hidup yang tak terbendung. Berlawanan dengan semua harapan, kedatangan Mesias tidak sensasional. Ia tidak mengubah apa pun dalam kehidupan sosial dan politik orang-orang. Yohanes Pembaptis lebih terkenal daripada Dia. Yesus “menghilang” ke dalam tanah seperti benih yang kecil, lemah, dan hampir tak terlihat. Namun, dalam waktu yang singkat, benih itu mulai bertunas. Injil telah membangkitkan umat manusia, dan kita, hari ini, dapat membuktikan bahwa kesuburan perumpamaan sang penabur sedang terjadi.
Tak jarang kita semua bertanya-tanya apakah masih layak untuk memberitakan Firman Allah di dunia dan masyarakat yang korup, seperti yang kita tinggali; apakah masih masuk akal untuk mengajarkan nilai-nilai Injil kepada orang-orang yang tidak mendengarkan, yang hatinya telah mengeras, yang hanya memikirkan uang, hiburan, dan kehidupan yang nyaman. Bukankah para penginjil dan katekis, mungkin menabur dengan sia-sia? Ketika pikiran-pikiran ini muncul, saatnya untuk meneguhkan iman pada kuasa ilahi yang terkandung dalam Sabda Tuhan.
Injil hari ini menyadarkan kita, bahwa untuk bekerja bagi Allah, dan bekerja dengan semangat Allah maka:
- Kita harus bekerja dengan sabar. Menabur benih adalah pekerjaan yang melelahkan. Penabur harus membungkuk dan menaburkan/menanam benih yang baik dekat dengan tanah yang baik. Jika kita sekadar menyebarkan benih tanpa membungkuk dekat dengan tanah, maka risiko bahwa banyak benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu atau di tengah semak duri menjadi lebih besar. Dengan membungkuk dekat dengan tanah yang baik, maka benih yang ditabur tidak akan terbuang percuma.
- Kita harus bekerja dengan murah hati. Hanya seperempat dari benih yang ditaburkan itu menghasilkan buah, tetapi sang penabur tak pernah berhenti menabur benih. Hasil yang sedikit tak boleh membuat kita putus asa.
Semoga kita tidak hanya menjadi tanah yang menerima benih, tetapi kita juga menjadi rekan kerja SANG PENABUR yang baik, yang bekerja dengan tekun dan tanpa kenal lelah.
Tuhan, meski banyak tantangan, kuatkan kami dalam usaha kami menjadi rekan-rekan kerja-Mu untuk menabur benih-benih Kerajaan-Mu dengan tekun dan tanpa kenal lelah. St. Thomas Aquinas, doakanlah kami. Amin.

