Senin, 11 Mei 2026, Senin Pekan paskah VI
Bacaan: Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Yoh. 15:26-16:4a.
“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku," (Yoh 15: 26 – 27)
Tiga hal dapat ditarik dari bacaan-bacaan hari ini. Pertama, “Tuhan berkenan kepada umat-Nya”, sebagaimana tertulis dalam Mazmur Tanggapan. Kedua, Yesus menjanjikan kepada kita bahwa pada saat-saat kita sangat membutuhkan, kita dapat mengandalkan “Penolong” yang agung, yaitu Roh Kudus. Ketiga, interaksi antara Paulus dan Lidia menunjukkan bagaimana Allah memberkati dan menolong kita melalui sesama. Kita diciptakan untuk saling bergantung, sebuah komunitas yang saling peduli dan menghargai. Dengan menghargai apa yang orang lain lakukan untuk kita, kita dipandu oleh suatu “kewajiban mulia” untuk mencari cara membalasnya.
Setelah berlayar ke Eropa, Paulus memulai fase baru dalam pelayanannya. Sebelum melakukan langkah ini, ia dikejar oleh lawan-lawan yang mempertanyakan kredensialnya sebagai rasul dan menolak pandangannya tentang makna ajaran Yesus. Di bagian utara Yunani, ia memulai fase pelayanan yang lebih damai, dimulai di sebuah kota yang terkemuka, Filipi. Di sana, Paulus beruntung bertemu dengan seorang perempuan, pedagang kain ungu, yang baik hati dan kaya bernama Lidia, yang dengan cepat menerima iman dan ingin memberikan dukungan apa pun yang ia bisa kepada para misionaris itu.
Kebaikan Lidia menjadi berkat besar bagi Paulus dan timnya. “Marilah menumpang di rumahku,” katanya — dan ia tidak mau Paulus dan teman-temannya menolaknya. Setelah menerima anugerah iman melalui Paulus, ia membalasnya dengan keramahan. Setelah diberkati dengan Injil, ia memberkati para misionaris itu dengan tempat tinggal sementara mereka berkhotbah di kotanya.
Kita semua telah diberkati dengan berbagai cara dalam hidup kita sejauh ini. Tanggapan yang tepat atas berkat yang kita terima adalah membalasnya dengan memberkati orang lain, saling berbagi berkat. Kita telah menerima banyak, kita harus memberi banyak kembali. Di awal Injilnya, Yohanes mengatakan bahwa “kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” Sebagai balasannya, kita berusaha memberkati orang lain sebagaimana kita telah diberkati. Lidia menggambarkan semangat ini melalui keramahannya kepada Paulus. Semoga Tuhan juga menunjukkan kepada kita bagaimana memberi dengan murah hati dari apa yang telah kita terima. Dengan saling membantu itulah kita melaksanakan perintah Yesus: “Kamu juga harus bersaksi,” (Yoh 15: 27).
Paulus segera “jatuh cinta” pada gereja yang didirikannya di Filipi. Suratnya kepada mereka termasuk yang paling hangat di antara tulisan-tulisannya. Ia menulis: “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita,” (Fil 1: 3-4). Ia berkata: “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.” (Fil 1: 8). Kesediaannya untuk menggunakan rumah Lidia sebagai “markas”-nya di Filipi membantu mengoreksi anggapan bahwa Paulus adalah seorang yang kaku dalam berhubungan dengan perempuan. Dapat dikatakan bahwa gereja rumah pertama di Eropa dipimpin oleh seorang perempuan, dan bahwa Lidia seharusnya diakui sebagai seorang kudus.
Semoga semangat yang sama hidup dalam diri kita masing-masing dan dalam komunitas kita. Dengan itulah kita bersaksi.
Tuhan, semoga semangat saling berbagi berkat hidup dan bertumbuh di tengah-tengah kami. Amin.

