muder teresa

Beriman dengan Hati yang Dibaharui

Jumat, 5 September 2025, Jumat Pekan Biasa XXII
Bacaan: Kol. 1:15-20Mzm. 100:2,3,4,5Luk. 5:33-39.

“Tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Luk 5: 37 – 38)

Injil hari ini menampilkan para Farisi yang menegur Yesus karena kegembiraan dan kebebasan para murid-Nya. Para Farisi terbiasa dengan agama yang penuh aturan — berpuasa pada waktu-waktu tertentu, berdoa pada jam-jam tertentu, dan menunjukkan kesalehan dengan wajah pucat dan muram. Bagi mereka, agama terasa berat dan tidak nyaman.

Namun Yesus mengungkapkan sesuatu yang sangat berbeda: iman bukanlah tentang penderitaan, melainkan tentang kegembiraan. Ia membandingkan hidup bersama-Nya dengan pesta pernikahan, di mana teman-teman pengantin pria ikut merasakan kebahagiaan pasangan tersebut. Kristianitas bukanlah untuk menindas hidup, melainkan untuk mengisinya dengan cahaya, sukacita, kegembiraan dan harapan.

Ibu Teresa dari Kalkuta yang kita peringati hari ini, sering mengingatkan para susternya bahwa kegembiraan adalah tanda kekudusan. Ia berkata, “Hati yang gembira adalah hasil yang tak terelakkan dari hati yang terbakar oleh cinta.” Seperti Yesus, ia tahu bahwa iman yang hidup dalam kegelapan kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, kesaksian Kristen seharusnya membuat orang lain merasa “diterangi sinar matahari.”

Namun Yesus juga memperingatkan bahwa kegembiraan tidak dapat dikurung dalam pikiran kaku dan tradisi yang membatu. Ia berbicara tentang tambalan baru pada pakaian lama dan anggur baru dalam kantong kulit yang baru. Iman harus tetap terbuka terhadap Roh Kudus, siap untuk bertumbuh, beradaptasi, dan berbuah dalam zaman yang berubah. Memegang teguh cara lama dapat merobek kantong kulit dan mengoyak kain.

Injil menantang kita: Apakah hati kita cukup lentur dan terbuka untuk menerima “anggur baru” Roh Allah? Atau apakah kita telah menjadi kaku seperti kantong kulit tua, tidak mampu meregang? Kemuridan sejati berarti menjaga pikiran dan hati kita tetap terbuka, tidak takut terhadap gerakan-gerakan kasih karunia yang baru.

Mari kita berani hidup dengan iman seperti Yesus dan Ibu Teresa — dengan sukacita, dengan kebebasan, dan dengan keberanian untuk menerima yang baru. Sebab dalam Kristus, anggur terbaik selalu masih akan datang.

Tuhan, semoga kami senantiasa menghidupi iman kami dengan sukacita dan semoga hati kami selalu terbuka untuk dibaharui. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *