Sabda Hidup
Minggu, 18 Oktober 2026, Minggu Biasa XXIX, Hari Minggu Misi Sedunia ke-100
Bacaan: Yes 45:1,4-6; Mzm 96; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22: 21)
Seorang Pastor Paroki mempunyai seekor burung beo yang sangat pintar. Diajarnya burung itu menyanyi. Jika Pastor itu menyentuh kaki kiri burung itu, maka burung itu akan menyanyi “Indonesia Raya”. Jika Pastor itu menyentuh kaki kanan burung itu, maka burung itu akan menyanyi “Bapa Kami.”
Suatu hari Bapak Uskup datang berkunjung ke Paroki itu. Dengan bangga Pastor Paroki menunjukkan kelihaian burung beonya kepada Uskup. Bapak Uskup pun heran ada burung beo yang sepintar itu. Maka disentuhnya kaki kiri burung itu dan burung itu menyanyi: “Indonesia tanah airku…..tanah tumpah darahku…” Kemudian disentuhnya kaki kanan burung itu dan burung itu mulai menyanyi: “Bapa kami yang ada di surga…. dimuliakanlah nama-Mu…” Tetapi Bapak Uskup ingin iseng. Disentuhnya kedua kaki burung itu sekaligus, dan burung itu menyanyi: “Indonesia….di dalam surga…..”
* * *
Kita adalah warga dari dua dunia: warga Indonesia dan warga surga, warga dunia tempat kita berpijak dan warga Kerajaan Allah. Kita memiliki kewajiban dan tanggungjawab di dua dunia itu, yaitu kewajiban terhadap sesama dan terhadap Tuhan. Injil hari ini mengingatkan kita akan hal itu. Namun pada Hari Minggu Misi Sedunia ke-100 ini, saat kita berdoa bagi para misionaris di seluruh dunia dan bagi semua orang yang sedang mereka layani, Injil hari ini juga mengingatkan: bahwa Allah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, bahwa kita adalah milik-Nya, dan bahwa Ia memanggil kita untuk hidup bersama-Nya.
Kebenaran ini terungkap dalam percakapan Yesus dengan orang-orang Farisi dan Herodian. Kedua kelompok ini yang masing-masing dikenal karena sikap mereka: para Farisi yang keras dan orang-orang Herodian yang longgar, dan karena itu biasanya saling berseberangan. Namun karena kepentingan yang sama mereka bersekongkol untuk menjebak Yesus. Pertanyaan mereka tampak sederhana, tetapi sesungguhnya dirancang dengan niat buruk: “Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Jika Yesus menjawab “ya”, mereka tahu bahwa Ia berisiko kehilangan dukungan rakyat. Jika Ia menjawab “tidak”, Ia dapat dituduh menghasut rakyat memberontak terhadap Roma. Namun Yesus tidak membiarkan diri-Nya terjebak. Ia meminta sebuah uang logam dan mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Ketika mereka menjawab, “Kaisar,” Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hakAllah.”
Jawaban Yesus lebih dari sekadar jalan keluar yang cerdas dari sebuah persoalan politik. Ia mengarahkan kita kepada kebenaran yang lebih dalam tentang identitas kita. Jika uang logam itu memuat gambar Kaisar dan karena itu menjadi milik Kaisar, maka apa yang memuat gambar Allah adalah milik Allah.
Apa yang memuat gambar Allah? Seperti ditegaskan dalam bab pertama Kitab Kejadian, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Melalui baptisan, kenyataan itu semakin diperdalam: kita dipersatukan dengan Kristus, dijadikan anak-anak Bapa, dan menjadi bait Roh Kudus. Kita bukan hanya sebagian milik Allah. Kita sepenuhnya milik-Nya. Ia mengklaim kita sebagai milik-Nya dengan kasih. Inilah dasar kehidupan Kristiani dan misi Kristiani kita.
Misi tidak dimulai dari apa yang kita katakan atau lakukan, melainkan dari siapa diri kita. Ketika kita menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah dari Allah dan pada akhirnya menjadi milik-Nya, segalanya berubah. Waktu kita, relasi kita, pekerjaan kita, dan segala yang kita miliki menjadi bagian dari persembahan diri kepada-Nya dengan penuh syukur dan kasih. Dalam pesannya untuk Hari Minggu Misi Sedunia 2026, Paus Leo XIV menulis bahwa “semakin kita bersatu dalam Kristus, semakin kita mampu bersama-sama melaksanakan misi yang dipercayakan-Nya kepada kita.” Dari persatuan dengan Allah, dan di dalam Dia persatuan satu sama lain, mengalirlah seluruh kesuburan misioner.
Inilah sebabnya Injil hari ini menantang kita.
Banyak dari kita berusaha menjalani hidup yang terpecah-pecah. Kita membagi-bagi hidup kita ke dalam berbagai ruang. Mungkin kita memberikan sesuatu kepada Allah, bahkan banyak hal kepada Allah, tetapi masih menyisakan sebagian untuk diri sendiri. Namun Yesus memanggil kita untuk memberikan diri secara total, untuk mengasihi Allah bukan hanya dengan sebagian, atau bahkan sebagian besar pikiran, hati, jiwa, dan kekuatan kita, melainkan dengan seluruh keberadaan kita.
“Memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah” berarti menyerahkan kepada-Nya apa yang telah Ia berikan kepada kita. Ia telah memberikan hidup kita, waktu kita, talenta kita, relasi kita, serta segala yang kita miliki dan kita hayati. Itu berarti menempatkan Allah bukan hanya sebagai bagian dari hidup kita, melainkan sebagai sumber, puncak, akar, dan pusat seluruh hidup kita. Hal itu juga berarti hidup menurut citra Tritunggal Mahakudus, dalam persekutuan kasih dengan saudara-saudari kita. Inilah inti misi Gereja: mewartakan kepada dunia bahwa mereka diciptakan menurut gambar Allah dan mengajak mereka masuk ke dalam persekutuan yang sejati dengan Allah dan dengan sesama.
Pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, kita diingatkan bahwa Allah menghendaki keselamatan setiap orang. Allah memperhatikan seratus dari seratus, delapan miliar dari delapan miliar manusia. Seperti ditulis Santo Paulus VI dalam perayaan ini pada tahun 1971: “Jika pernah ada suatu masa ketika umat Kristiani dipanggil untuk menjadi terang yang menerangi dunia, kota yang terletak di atas gunung, dan garam yang memberi rasa bagi kehidupan manusia, maka masa itu adalah masa kita sekarang. Kita memiliki penawar bagi pesimisme, kecemasan, keputusasaan, dan ketakutan yang melanda zaman ini. Kita memiliki Kabar Baik!”
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk kembali memandang hidup kita, bukan sebagai sesuatu yang kita miliki, melainkan sebagai anugerah yang dipercayakan kepada kita untuk dikelola. Ia mengajak kita mempersembahkan kembali anugerah itu kepada-Nya dengan bebas dan sepenuh hati, terutama melalui cara kita menggunakan hidup untuk membantu sesama datang kepada-Nya
Cara paling nyata untuk mencerminkan gambar Allah adalah dengan mengambil bagian dalam misi Putra dan Roh Kudus serta bekerja sama dengan rencana kasih keselamatan Allah Bapa, sehingga tidak seorang pun dari anak-anak-Nya binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Tuhan, Perbaruilah semangat misioner kami, agar semakin bersatu dalam Kristus dan semakin setia mengambil bagian dalam misi-Mu, sehingga melalui kesaksian hidup kami banyak orang mengenal kasih dan kerahiman-Mu. Amin.

