yesus mengajar mengasihi musuh

Berbuat Lebih

Sabda Hidup
Kamis, 10 September 2026, Kamis Pekan Biasa XXIII
Bacaan: 1Kor 8:1b-7.11-13Mzm 139:1-3.13-14ab.23-24Luk 6:27-38.

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati,” (Luk 6: 36).

Bagaimana kira-kira reaksi para pendengar Yesus terhadap perkataan-Nya dalam bacaan Injil hari ini? Apakah mereka berbalik dan pergi sambil berkata, “Itu terlalu berat”?

Jika sebagian besar dari Sepuluh Perintah Allah diawali dengan kata “Jangan”, Yesus justru memberikan kepada kita perintah secara lebih positif. Dan itulah yang membuat ajaran Yesus ini begitu sulit untuk dipraktikkan. Lebih mudah menahan diri agar tidak melakukan hal yang buruk daripada melakukan sesuatu yang ekstra. Lebih mudah menghindari hal yang kurang baik daripada bersusah payah berbuat lebih dari yang diharapkan. “Bebuat lebih” adalah tantangan yang dapat membentuk seorang Kristen. Saya mungkin dapat mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen yang sama baiknya dengan sesama saya, tetapi Yesus menantang kita untuk menjadi ornag-orang Kristen yang lebih baik daripada sesama kita. Itu bukan untuk membanggakan diri atau menjadi sombong, melainkan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus. Lagipula, Kristus benar-benar telah melakukan lebih jauh.

Yesus sudah “berbuat lebih” ketika Ia bangkit berdiri saat Perjamuan Terakhir dan membasuh kaki para murid-Nya. Dan sesuai dengan bacaan Injil hari ini, Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya yang terkejut, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu,” (Yohanes 13:15).

Banyak orang memandang Kekristenan sebagai “agama larangan”. Namun, kenyataannya bukan! Kekristenan adalah agama yang menekankan “hal-hal yang harus dilakukan” daripada “hal-hal yang dilarang.” Kekristenan adalah agama yang positif, bukan negatif. Seandainya kita memahami hal ini, agama kita dapat menjadi sumber sukacita dan kebahagiaan yang lebih besar. Setelah melakukan sesuatu yang positif, sesuatu yang ekstra, dan melihat dampaknya pada penerima perbuatan baik kita, di situlah letak sukacita kita.

Setiap kali menyaksikan Paus “berbaur” di tengah kerumunan di Lapangan Santo Petrus, selalu meninggalkan kesan tersendiri. Ia melambaikan tangan dan tersenyum, mencium bayi-bayi, serta memeluk orang yang sakit. Ia tidak wajib melakukan hal itu, tetapi ia “berbuat lebih”.

Misi yang mustahil? Tidak! Kita hanya perlu mengatasi kemalasan dan keegoisan kita untuk menjangkau dan membawa sukacita kepada orang lain dengan “berbuat lebih” dari yang biasa-biasa.

Apakah Anda enggan melakukan sesuatu yang lebih untuk orang lain? Apa yang menghalangi Anda untuk meneladani Kristus yang rela berbuat lebih dari yang biasa?

Tuhan, firman-Mu terasa berat, tetapi teladan-Mu sangat menginspirasi. Bantulah aku untuk mengulurkan tangan. Bantulah aku untuk melakukan sesuatu yang lebih bagi orang lain dan dengan demikian membawa sukacita bagi mereka. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *