Minggu, 3 Mei 2026, Minggu Paskah V Tahun A
Bacaan: Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2,4-5,18-19; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.
"Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku,” (Yoh 14: 11)
Bacaan I Hari Minggu Paskah V hari ini, Kisah Para Rasul 6, menggambarkan bagaimana perbedaan dan perselisihan diselesaikan pada masa-masa awal gereja. Kaum Helenis (orang-orang yang baru bertobat dan berbahasa Yunani) mengeluh bahwa para janda di kalangan mereka tidak mendapatkan bagian yang adil dari pelayanan sosial gereja. Solusi yang diberikan para rasul terhadap masalah ini menunjukkan bahwa perubahan dalam praktik tidak hanya mungkin, tetapi juga diperlukan demi kesehatan gereja.
Solusi tersebut menunjukkan dua dimensi penting dalam kehidupan gereja: doa dan pelayanan; serta bahwa dalam menjalani panggilan Kristiani, kita memerlukan keseimbangan antara keduanya. Setiap dari kita dipanggil secara pribadi untuk berdoa, untuk beribadah, kepada Allah; dan kita juga dipanggil untuk melayani. Apa pun yang kita lakukan dalam hidup, pekerjaan kita memengaruhi orang lain atas cara tertentu. Kita harus melayani sesama; bahkan melalui hal paling sederhana dalam penghargaan kita kepada sesama, tidak ada yang dianggap remeh. Doa dan pemberitaan firman merupakan hal yang paling penting bagi para rasul; namun pelayanan kepada janda-janda dan orang-orang miskin di komunitas juga sangat vital, karena itu mereka menunjuk tujuh orang yang dipercaya untuk mengurusnya, dan mengukuhkan mereka melalui upacara yang penuh makna.
Akibatnya, jumlah murid di Yerusalem bertambah. Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana pertumbuhan semacam ini dalam Gereja dapat dihidupkan kembali di zaman kita. Apakah firman Tuhan masih tersebar atau jumlah murid bertambah? Dalam surat St. Petrus, Gereja digambarkan sebagai rumah rohani, dengan kita sebagai batu-batu yang hidup yang membentuk rumah Allah yang hidup. Setiap kali kita mengucapkan Doa Bapa Kami, kita berkata, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Hal ini menyiratkan bahwa kita harus mengambil tanggung jawab untuk menyebarkan firman dan melakukan sesuatu untuk membangun Gereja. Kita dapat bekerja untuk Kerajaan Allah melalui perilaku dan sikap kita sehari-hari.
Batu penjuru Gereja adalah Kristus sendiri, dan Ia memberikan kita penghiburan bahkan hingga hari ini. Jika Ia pergi, itu untuk mempersiapkan tempat bagi kita di rumah Bapa-Nya, yang memiliki banyak tempat. Jadi, ada tempat bagi kita semua dalam Kerajaan-Nya. Setiap orang memiliki karunia dan anugerah, setiap orang seharusnya memiliki peran dalam kehidupan Gereja, sebagaimana dicontohkan oleh para rasul dalam bacaan pertama.
Banyak orang saat ini menganggap iman tidak relevan karena pemahaman mereka tentang Allah keliru atau terdistorsi. Untuk gambaran yang autentik tentang bagaimana Allah itu, kita harus melihat kepada Yesus yang berkata, “Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku.” Dalam Diri-Nya Ia menunjukkan bagaimana Bapa yang tak terlihat itu: peduli pada semua, tertarik pada semua, menghormati semua orang, dan memanggil para pendosa kembali ke rumah. Allah yang ramah inilah yang disembah oleh Gereja kita, dan kita memperbarui kepercayaan kita kepada-Nya. Dapatkah kita juga menjadi gambaran yang terlihat dari Allah yang sama?
Ya Tuhan, bantulah kami menjadi batu-batu yang hidup untuk membangun Gereja-Mu. Jadikan kami tanda dan sarana kehadiran-Mu. Amin.

