the good samaritan

Anda Akan Lewat Atau Bertindak?

Sabda Hidup
Senin, 5 Oktober 2026, Senin Pekan Biasa XXVII
Bacaan: Gal 1:6-12; Mzm 111:1-2.7-8.9.10c; Luk 10:25-37.

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk 10: 36 – 37)

Kisah tentang Orang Samaria Yang Baik Hati sangat familiar bagi kita, bahkan mungkin kita sudah hafal jalan ceritanya. Seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho dirampok, dipukuli dan ditinggalkan setengah mati. Seorang imam yang melintasi tempat itu menyimpang, menghindarinya. Demikian juga seorang Lewi. Akhirnya seorang Samaria yang peduli, menolong dan merawatnya dengan murah hati.

Menarik bahwa Yesus bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu,” kepada ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus di awal cerita. Ia tidak menjawab “Orang Samaria”, melainkan “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.”

Barangkali orang itu malu mengakui bahwa dalam cerita itu justru orang Samarialah yang berbelas-kasihan. Sebab bagi orang Yahudi, orang Samaria adalah musuh bebuyutan. Selain itu, belas kasihlah yang menjadi fokus utama dalam kisah ini.

Sangatlah mudah bagi kita untuk menilai dan menghakimi satu sama lain. Setiap saat, di media masa, dalam percakapan kita sehari-hari, kita baca, kita dengar, atau kita saksikan penghakiman terus menerus. Nampaknya manusia jatuh dalam sikap mudah menghakimi. Kalau tidak menilai dan menghakimi, kita sering tergoda menjadi seperti imam dan orang Lewi dalam kisah itu. Kita tergoda untuk menutup mata dan telinga terhadap mereka yang membutuhkan. Apalagi ketika kita sudah jatuh dalam pengkotak-kotakan atas dasar pelbagai macam kategori.

Semua itu membuat kita sering mengabaikan kebutuhan sesama mereka saat mereka “lewat” di hadapan kita. Kita perlu meluangkan waktu sejenak untuk memper-HATI-kan dan menanggapi kesulitan mereka yang ada di tengah-tengah kita. Untuk itu kuncinya adalah belas kasih dan bela rasa yang dinyatakan dengan murah hati.

Renungkan hari ini panggilan Allah terhadap kita masing-masing untuk berbelaskasih. Kita dipanggil menjadi alat belas-kasih-Nya. Sering kali untuk menyatakan belas kasih secara sungguh-sungguh, kita mesti berani terluka. Kita harus berani terluka karena belas kasih sejati menuntut kita melepaskan ego, kesombongan, kemarahan, dendam, pandangan pribadi, dsb. Untuk berbelas kasih kita harus memilih KASIH. Kita memilih untuk mengasihi hingga terluka. Luka yang menjadi sumber kesembuhan.

Ibu Teresa dari Calcutta pernah berkata, “Saya temukan suatu paradoks, yaitu jika kita mengasihi hingga terluka, maka tidak akan ada luka lagi, hanya kasih, dan semakin mengasihi.”

Semoga kita semakin hari semakin menjadi alat belas kasih Tuhan. “Pergi dan buatlah demikian!” perintah Yesus kepada kita.

Tuhan Yesus, belas kasihan-Mu sungguh sempurna. Berikanlah aku hati yang penuh belas kasih bagi mereka yang membutuhkan. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *