Selasa, 16 Desember 2025, Selasa Pekan Advent III
Bacaan: Zef. 3:1-2,9-13; Mzm. 34:2-3,6-7,17-18,19,23; Mat. 21:28-32
“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" (Mat 21: 28 – 31a)
Dalam Bacaan Injil kemarin, para pemimpin agama Yahudi mempertanyakan kuasa Yesus. Melanjutkan konfrontasi dengan para pemimpin agama tersebut, Yesus menceriterakan perumpamaan tentang dua anak laki-laki yang diminta oleh ayah mereka untuk pergi dan bekerja di kebun anggurnya. Yang seorang menolak untuk pergi, tetapi kemudian bertobat dan pergi. Yang lainnya mengatakan “ya” tetapi tidak pergi. Pertanyaan-Nya kemudian: “Siapakah di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya?”
Perumpamaan itu dapat dimaknai dalam dua level. Yang pertama adalah tema umum perikope Injil ini, bahwa melakukan lebih penting daripada sekadar mengucapkan kata-kata. “Bukan mereka yang berseru, ‘Tuhan, Tuhan’ yang akan masuk Kerajaan Surga.” Yang paling utama adalah melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Yang kedua, secara lebih khusus perumpamaan itu menunjuk pada situasi yang sedang dihadapi Yesus saat itu. Para pemimpin agama dan banyak orang yang tampaknya saleh dan merasa diri bahwa mereka mengikuti jalan Tuhan, menolak untuk percaya kepada Yohanes Pembaptis dan kepada Yesus sendiri. Di pihak lain, orang-orang yang dinilai sangat berdosa dan melanggar Hukum – para pemungut cukai dan para pelacur – justru menanggapi panggilan Yohanes untuk bertobat. Mereka sangat tersentuh oleh khotbah Yohanes, mengubah cara hidup mereka, dan dibaptis olehnya di sungai Yordan. Bagaimanakah dengan para pemuka agama Yahudi? Mereka tetap “kepala batu”, tidak bergeming. Ketika Yesus datang, mereka juga menolak untuk melihat karya Allah dalam semua yang dilakukan oleh Yesus, sementara banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya.
Para pemuka agama itu seperti anak laki-laki yang berkata ‘Ya’ pada perintah ayahnya, tetapi tidak melaksanakannya dalam hidupnya. Mereka ahli dalam menyusun kata-kata dan menafsirkan Hukum. Sedangkan para pendosa, pemungut cukai dan pelacur, yang dianggap tidak tahu Hukum Allah, bertobat dan mengubah jalan hidup mereka. Jelas kelompok mana yang menemukan jalan ke Kerajaan-Nya.
Tentu saja, kita merenungkan bacaan ini bukan hanya untuk mengetahui betapa bangga dan sombongnya para imam kepala dan tua-tua itu. Mereka menjadi cermin bagi kita untuk merenungkan hidup kita sendiri. Apakah kita berpikir bahwa karena kita adalah orang Kristiani yang taat, kita berada dalam posisi istimewa? Apakah kita menghabiskan banyak waktu untuk berdoa tetapi tidak berbuat kasih terhadap sesama? Apakah kita mudah menkritik atau merendahkan orang lain yang kita anggap kurang saleh atau tidak bermoral menurut standar kita? Kita telah mengatakan Ya kepada Bapa, Allah kita, melalui pembaptisan dan keanggotaan kita dalam Gereja, tetapi dapatkah kita katakan bahwa kita selalu melaksanakan apa yang Ia perintahkan?
Mungkin, setelah refleksi yang jujur, kita harus mengakui bahwa kita tidak benar-benar dalam posisi yang layak untuk menghakimi orang lain. Kita telah menerima karunia dan rahmat sebagai orang Kristiani, namun belum tentu kita beriman Kristiani secara lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan dukungan yang lebih baik untuk menghidupi iman mereka. Bisa jadi, umat di pelosok yang untuk merayakan Ekaristi saja harus menunggu berbulan-bulan, hidup imannya lebih baik daripada kita.
Menjelang Natal ini, marilah kita berusaha menjadi pengikut Tuhan yang sejati, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus ada dua anak, yang satu mengatakan “Ya” tetapi tidak melaksanakan, yang satunya lagi mengatakan “tidak” tetapi melaksanakan. Tentu lebih baik lagi jika kita menjadi anak-anak Bapa yang mengatakan “ya” dan juga melaksanakan!
Ya Tuhan Yesus, berikanlah aku hati yang setia dan siap untuk melakukan kehendak-Mu.

