Senin, 26 Januari 2026, Peringatan St. Timotius dan Titus
Bacaan: 2Tim 1:1-8 atau Tit. 1:1-5; Mzm. 96:1-22b-3.7-8a.10; Luk. 10:1-9
“Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.” (Luk 10: 3 – 4).
Hari ini kita peringati St. Timotius dan Titus. Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mengutus 70 murid-Nya. Mereka diutus berdua-dua, dengan instruksi: “Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut,” (Luk 10: 4).
Kita pasti pernah merasakan betapa beratnya ketika kita mengadakan perjalanan dengan banyak barang bawaan. Apalagi kalau kita membawa barang terlarang. Bebannya akan berlipat-lipat sebab kita bukan hanya lelah tetapi juga cemas dan takut, jangan-jangan nanti disita oleh petugas, atau kita ditangkap.
Mengapa para murid “dilarang” membawa pundi-pundi atau bekal? Para murid diharapkan lebih fokus untuk membawa Kristus daripada hal-hal “tambahan” yang lain. Demikian juga, dalam perjalanan hidup, kita diperintahkan untuk membawa Tuhan dalam perjalanan kita. Ada begitu banyak orang yang dalam hidup tangannya penuh tetapi hatinya kosong, sebab mereka membawa diri mereka sendiri, bukan Tuhan. Kita harus belajar untuk meletakkan agenda pribadi kita, rencana-rencana kita, dan menjadikan Kerajaan Allah prioritas utama dalam perjalanan kita. Jika anda silap mata karena harta dan lupa salib, maka hidup anda akan kosong dan kecewa dalam peziarahan hidup.
Berikutnya, seperti para murid kita diperintahkan untuk berjalan berdua-dua dan melaksanakan tugas perutusan bersama. Kita diutus dan mewartakan damai dan memaklumkan Kerajaan Allah sebagai team. Lupakan keinginan untuk menjadi selebriti dan superstar di jalan. Tuhan yang kita abdi, bukan diri sendiri!
Selain itu, hidup Kristiani harus dijalani dalam, bersama, dan melalui komunitas Gereja. Tidak ada Kristianitas tanpa komunitas. Hari ini kita memperingati dua orang kudus bersama-sama—Timotius dan Titus. Tidak ada yang bekerja sendirian untuk Injil. Mungkin lebih mudah dan jauh lebih nyaman menjadi seorang Kristen sendirian, karena seringkali sulit bekerja dengan orang lain, terutama ketika keunikan, perbedaan pendapat, dan sikap mereka bertentangan dengan kita. Yesus memiliki momen-momen frustrasi dengan murid-murid-Nya, tetapi Dia memilih untuk melibatkan mereka dalam pekerjaan-Nya daripada melakukannya sendiri. Tidak selalu mudah untuk hidup dalam komunitas, bersama dengan orang lain. Sering terjadi momen-momen menantang dalam komunitas, namun dari sanalah kita belajar menjadi komunitas Kristen yang autentik.
Akhirnya kita diperintahkan oleh Yesus agar berjalan dengan sukacita. Kita dibekali dengan karunia-karunia untuk melaksanakan pelayanan kita, tetapi sukacita terbesar kita adalah bahwa “nama kita tercatat di surga”. Adalah hal yang menggembirakan saat kita tahu bahwa hidup kita bermakna dan ada karunia yang menanti bukan hanya di perjalanan tetapi juga di akhir perjalanan. Hal yang perlu kita ingat bahwa tangan kita harus terbuka, kita pakai untuk bekerja, melayani dan berbagi dan hati kita dipenuhi oleh Tuhan sendiri.
Tuhan ingatkan kami untuk mengutamakan Dikau, untuk berjalan bersama sesama dan berjalan dalam sukacita dalam peziarahan hidup kami. Amin.

