Selasa, 9 Desember 2025, Selasa Pekan Advent II
Bacaan: Yes. 40:1-11; Mzm. 96:1-2,3,10ac,11-12,13; Mat. 18:12-14.
“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat,” (Mat 18: 12 – 13)
Sendirian, tersesat, dan bingung tanpa arah adalah salah satu pengalaman terburuk yang dapat kita temui. Betapa melegakan, ketika kita menemukan panduan yang dapat menuntun kita kembali ke jalan yang aman, ke rumah dan keluarga. Namun, tak jarang kita asyik dengan kesenangan sendiri, merasa nyaman, berbuat sesuka hati tanpa menyadari bahwa kita tersesat!
Sabda Tuhan hari ini memberi jaminan bahwa Allah tidak akan berhenti mencari sampai kita menemukan jalan kembali kepada-Nya. Kitab Suci menggunakan gambaran seorang gembala yang memelihara domba-dombanya untuk menggambarkan Allah. Allah berjanji bahwa Dia sendiri yang akan menggembalakan umat-Nya dan memimpin mereka ke tempat yang aman (Yesaya 40:11). Itulah sebabnya Allah mengutus putra tunggal-Nya sebagai Juruselamat yang tidak hanya akan memulihkan perdamaian dan kebenaran di negeri itu, tetapi juga akan menggembalakan dan merawat umat-Nya dengan cinta dan kasih sayang. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik yang memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya (Yohanes 10:11).
Apa yang dapat kita pelajari dari perumpamaan Yesus tentang domba yang hilang? Perumpamaan ini memberi kita gambaran tentang hati seorang gembala sejati, dan kegembiraan sebuah komunitas yang dipersatukan kembali dengan anggotanya yang hilang. Para gembala tidak hanya harus menjaga domba mereka siang dan malam; mereka juga harus melindungi mereka dari serigala, atau singa, atau binatang buas lain yang memangsa mereka, dan dari medan berbahaya serta badai. Gembala sering memiliki kawanan domba yang besar, terkadang berjumlah ratusan atau ribuan. Merupakan hal yang umum untuk memeriksa dan menghitung domba di penghujung hari. Anda dapat membayangkan betapa terkejut dan sedihnya sang gembala yang menemukan bahwa salah satu dombanya hilang! Apakah dia menunggu sampai hari berikutnya untuk mencarinya? Tidak, dia segera pergi mencari domba yang hilang ini. Keterlambatan satu malam saja dapat berarti bencana yang menyebabkan kematian si domba. Domba pada dasarnya adalah makhluk yang sangat sosial. Domba yang terisolasi dapat dengan cepat menjadi bingung, kehilangan arah, dan cemas. Itu membuatnya menjadi mangsa empuk bagi serigala dan singa!
Kesedihan dan kegelisahan sang gembala berubah menjadi kegembiraan ketika dia menemukan domba yang hilang membawanya kembali ke kandang. Gembala mencari sampai domba yang hilang ditemukan. Kegigihannya membuahkan hasil. Apa yang baru dalam ajaran Yesus adalah desakan bahwa para pendosa harus dicari berkali-kali. Betapa mudahnya lupa dan teralihkan dengan urusan lain, atau merasa puas dengan mereka yang tidak hilang, sementara yang tersesat menjadi mangsa serigala-serigala yang memangsa jiwa. Rasul Petrus mengingatkan kita: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya,” (1 Petrus 5:8).
Sahabat-sahabat, betapa sering kita menjadi domba yang hilang itu. “Hilang” karena dosa-dosa kita menyebabkan ketakutan, kekhawatiran, kebingungan, kemarahan, keresahan, kegalauan…… Akan tetapi betapa besar keinginan sang Gembala untuk menemukan kita. Betapa besar usaha-Nya yang tanpa lelah untuk menemukan kita. Itulah kasih dan perhatian Bapa kepada kita. Ketika kita menyadari bahwa Sang Gembala tiada henti berusaha untuk menemukan kita, kita boleh berpengharapan. Kita punya pengharapan karena Allah sangat peduli terhadap kita masing-masing sehingga tiada henti mencari kita. Dan ketika Ia menemukan kita, Hati-Nya penuh dengan suka-cita.
Mari kita kembali kepada-Nya. Kita perlu mengakui dosa-dosa kita agar kita berdamai kembali dengan-Nya. Perlulah kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita membutuhkan pengampunan-Nya untuk menjadi utuh. Ia tidak akan membiarkan kita hilang dan selalu siap sedia menerima kita kembali. Dan pada gilirannya, kita yang telah mengalami cinta Allah yang melimpah ruah itu, dipanggil untuk menjadi gembala satu terhadap yang lain. Seberapa sering kita menahan belas kasihan terhadap orang-orang yang kita benci, yang berada di luar kelompok kita, atau yang menantang kita, hanya karena terasa tidak nyaman atau tidak logis?
Terima kasih, Tuhan, karena tidak pernah meninggalkanku, karena selalu mengikuti dan menemukanku di mana pun aku berada, apa pun yang telah aku lakukan. Semoga aku dapat mengikuti Engkau lagi sekarang dan selamanya. Amin.

