Sabda Hidup
Kamis, 1 Oktober 2026, Pesta St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus
Bacaan: Yes. 66:10-14b atau 1 Kor. 12:31-13:13; Mzm. 131:1,2,3; Mat. 18:1-5.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." (Mat 18: 3 – 5)
Para murid mendatangi Yesus dengan sebuah pertanyaan: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Yesus tidak berdebat dengan mereka. Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkan anak itu di tengah-tengah mereka.
Dalam komentarnya, William Barclay mencatat bahwa pertanyaan itu sendiri menunjukkan para murid “sama sekali tidak tahu apa itu Kerajaan Sorga.” Ketika Yesus berkata, “jika kamu tidak bertobat (berbalik),” Ia memperingatkan mereka bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang salah. Selama kita menganggap diri kita sebagai hal terpenting di dunia, “punggung kitalah yang menghadap ke Kerajaan Sorga.” Masuk ke dalam Kerajaan Sorga dimulai dengan berbalik arah, dengan pertobatan.
Anak kecil di tengah-tengah mereka itu menunjukkan tiga sifat seorang murid sejati:
- Kerendahan hati. Seorang anak kecil tidak berusaha menonjolkan diri agar diperhatikan. Kita kehilangan kerendahan hati saat kita belajar bersaing untuk mendapatkan hadiah dan peringkat pertama.
- Ketergantungan. Seorang anak kecil tidak pernah berpikir bahwa ia bisa menghadapi hidup sendirian. Jika kita menerima ketergantungan kita pada Allah, “kekuatan baru dan kedamaian baru akan masuk ke dalam hidup kita.”
- Kepercayaan. Seorang anak tidak mampu membayar makanan atau tempat tinggal, namun tidak pernah meragukan bahwa semuanya akan tersedia saat ia pulang ke rumah.
Kerendahan hati seorang anak menunjukkan kepada kita cara memperlakukan orang lain, sedangkan ketergantungan dan kepercayaan seorang anak menunjukkan kepada kita cara berdiri di hadapan Allah. Yesus juga mengingatkan kita bahwa “menyambut seorang anak demi nama-Ku,” menyambut mereka yang kecil dan diabaikan dunia, berarti melihat Kristus sendiri di dalam diri mereka.
St. Teresia menghidupi Injil ini. Ia tidak pernah berusaha menjadi besar. Ia menggambarkan kekudusan sebagai pengakuan atas “betapa tidak berartinya kita, untuk mengharapkan segalanya dari Allah sebagaimana seorang anak kecil mengharapkan segalanya dari ayahnya.” Ia bahkan berkata, “Aku tidak pernah ingin tumbuh dewasa.” Ia juga tidak putus asa karena kegagalannya, “karena anak-anak sering jatuh, tetapi mereka terlalu kecil untuk terluka parah.”
Yang paling menonjol adalah bahwa biarawati Karmelit muda ini tidak pernah meninggalkan biaranya, namun Paus Pius XI menunjuknya sebagai pelindung misi, bersama St. Fransiskus Xaverius. Ia mendukung misi melalui doa, pengorbanan kecil, dan kasih. Baginya, kehidupan sekecil apa pun yang dipersembahkan kepada Tuhan dapat menjangkau ujung bumi.
Bagi kita saat ini, menjadi besar di Kerajaan Allah tidak bergantung pada seberapa jauh kita pergi atau seberapa banyak yang kita capai. Hal itu bergantung pada seberapa spenuh hati kita percaya. Masing-masing dari kita dapat menjadi misionaris tepat di tempat kita berada, melalui kebaikan yang tersembunyi, doa untuk seseorang yang jauh, atau tugas yang dilakukan dengan cinta.
Mari kita renungkan, di mana dan kapan saya masih bertanya, “Siapakah yang terbesar?” Di mana Tuhan mengajak saya untuk menjadi kecil kembali?
Tuhan Yesus, Engkau menempatkan seorang anak di tengah-tengah kami untuk mengajarkan jalan menuju Kerajaan-Mu. Berikanlah kepada kami hati yang rendah hati yang tidak membutuhkan pujian, serta kepercayaan seperti anak kecil yang bersandar pada pemeliharaan Bapa. Melalui doa-doa Santa Teresia, pelindung misi, bantulah kami membawa kasih-Mu ke seluruh dunia, mulai dari tindakan-tindakan kecil, saat ini dan di sini. Amin.

