menurut kamu siapakah aku ini

Pengakuan Iman yang Otentik

Sabda Hidup
Jumat, 25 September 2026, Jumat Pekan Biasa XXV
Bacaan: Pkh 3:1-11; Mzm 144:1a.2abc.3-4; Luk 9:18-22

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." (Luk 9: 20).

Mungkin anda masih ingat iklan AXE deodorant body spray yang mengatakan: “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda!” Begitu pentingkah kesan pertama? Ada pepatah yang mengatakan first impression determine your image. Bahkan ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa 90% persepsi orang lain terhadap Anda sangat ditentukan dari empat menit interaksi pertama. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang menilai orang lain berdasarkan pada kesan mereka. Sebagai konsekuensinya, banyak orang beranggapan bahwa “kesan pertama” itu kekal, selama-lamanya. Akan tetapi pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa kesan itu bisa benar, bisa juga salah. Memang kesan dapat menjadi sarana mencapai kebenaran, tetapi pertama-tama kesan harus diverifikasi sehingga bias dan keraguan dapat disingkirkan.

Itulah sebabnya Yesus bertanya kepada Petrus tentang siapa Dia. Orang banyak nampaknya ragu akan identitas Yesus yang sebenarnya sebab banyak yang hanya berdasarkan desas-desus yang beredar. Mereka ragu akan identitas Yesus sehingga mereka berkata bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, ada pula yang mengatakan nabi-nabi dahulu telah bangkit.

Pengakuan Petrus adalah sebuah pernyataan iman yang otentik. Melalui perjumpaan personal dengan Yesus, imannya telah diperdalam dan diteguhkan. Meski, pemahaman Petrus belumlah lengkap. Petrus dan teman-temannya hanya memiliki sedikit pemahaman tentang arti sebenarnya dari istilah ‘Mesias’. Bagi banyak orang, istilah ini memiliki makna yang terlalu politis, melihat Yesus sebagai pembebas yang diutus untuk membebaskan orang-orang yang tertindas yang akan menggulingkan penjajahan Romawi. Oleh karena itu, Yesus menjelaskan kepada mereka tentang misi Mesias yang sesungguhnya, “… menanggung banyak penderitaan, ditolak, dan dihukum mati, dan kemudian dibangkitkan pada hari ketiga.”

Sangatlah penting bagi kita untuk melampaui pendapat orang banyak dan opini duniawi dalam usaha memahami Yesus, karena menjadi seorang Kristen bukan hanya tentang mengetahui doktrin atau berpartisipasi dalam ritual, tetapi tentang perjumpaan dengan Yesus di dalam hati dan kehidupan kita. Kekristenan bukanlah sekadar mengucapkan pengakuan iman; melainkan sebuah pengenalan dan kepercayaan kepada pribadi Kristus. Jawaban Petrus, meskipun benar, masih mengharuskan Yesus untuk menjelaskan konsekuensi pemuridan: penderitaan, penolakan, dan kematian, yang diikuti dengan kebangkitan. Iman kepada Kristus tanpa Salib tidaklah otentik. Mengikut Yesus berarti memikul salib kita sendiri.

Dalam hidup kita dari hari ke hari, kita juga diundang untuk memupuk relasi yang dalam dan personal dengan Tuhan, memperdalam hubungan kita dengan-Nya. Dengan menghidupi tuntutan Injil dengan setia, pengalaman personal akan kehadiran-Nya dapat membantu kita mencapai apa yang diakui oleh Petrus: “Mesias dari Allah.”

Bagaimanakah saya memupuk relasi yang dekat dengan Yesus? Bagi anda, siapakah Dia? Siapkah anda menerima konsekuensi menjadi murid-Nya?

Tuhan, semoga kepercayaan dan pengenalanku akan Dikau semakin bertumbuh dan semakin dalam. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *