Sabda Hidup
Kamis, 6 Agustus 2026, Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Bacaan: Dan. 7:9-10,13-14 atau 2Ptr. 1:16-19; Mzm. 97:1-2,5-6,9; Mat. 17:1-9
"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." [Mat 17: 5]
Hari ini kita rayakan sebuah pesta penting – Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya atau juga disebut Transfigurasi, sebuah peristiwa yang disebut dalam ketiga Injil Synoptik. Peristiwa ini menghubungkan secara simbolis awal dari pelayanan publik Yesus, pembaptisan-Nya, dengan akhir dari pelayanan-Nya yaitu Salib.
Di awal bacaan Injil dikatakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Dalam Injil Matius, setiap kali Yesus melakukan atau mengatakan sesuatu yang penting, Ia naik ke atas gunung: Godaan Terakhir saat Yesus dicobai Iblis terjadi di atas gunung (Mat 4:8); Sabda Bahagia diucapkan di atas gunung (Mat 5:1); Ia melipatgandakan roti di atas gunung (Mat 15:29) dan, di akhir Injil, ketika para murid bertemu dengan Kristus yang telah bangkit dan diutus ke dunia, mereka berada “di gunung yang telah ditunjukkan kepada mereka” (Mat 28:16).
Dalam Perjanjian Lama, gunung merupakan tempat pertemuan dengan Allah. Musa mengalami penampakan Allah dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai. Matius, sang penginjil, bermaksud untuk menggambarkan Yesus sebagai Musa yang baru, yang menyampaikan hukum baru kepada umat yang baru, yang diwakili oleh ketiga murid tersebut.
Wajah yang bersinar dan jubah yang bercahaya juga sering muncul dalam Kitab Suci. Tuhan “berpakaian keagungan dan semarak yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda,” kata pemazmur (Mzm 104:1-2). Awan bercahaya yang menyelimuti umat adalah tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya saat bangsa Israel melakukan eksodus melintasi padang gurun. Ketika Musa menerima Hukum Taurat, awan menyelimuti gunung itu. Ia juga turun dengan wajah yang bersinar. Awan dan wajah yang bercahaya itu, oleh karena itu, merupakan cerminan kehadiran Allah.
Dengan menggunakan gambaran-gambaran ini, Matius mengatakan bahwa Petrus, Yakobus, dan Yohanes telah diperkenalkan pada “dunia Allah”, yang membuat mereka memahami identitas sejati Sang Guru dan tujuan perjalanan-Nya. Ia bukanlah Mesias seperti yang mereka harapkan, melainkan seorang Mesias yang akan ditentang, dianiaya, dan dibunuh. Hal ini pun telah disampaikan Yesus sebelum-Nya kepada para murid.
Pada bab sebelumnya, menanggapi pertanyaan: “Menurutmu, siapakah Anak Manusia itu?” Petrus mewakili para Rasul dan menyuarakan keyakinan mereka bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Kini, dalam adegan transfigurasi, suara dari langit mengukuhkan keyakinan para murid bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi, dan kepada-Nya Allah berkenan. Suara itu menambahkan perintah: “Dengarkanlah Dia.” Ini menjadi poin penting bagi kita: kita diperintahkan untuk “mendengarkan Dia.”
Dalam Kitab Suci, kata “mendengarkan” berarti “mematuhi” (Kel 6:12; Mat 18:15-16). Perintah Bapa kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes — dan melalui mereka kepada semua murid—adalah untuk mematuhi—“menerapkan” apa yang diajarkan Yesus. Ini adalah undangan untuk memusatkan hidup pada Yesus.
Setiap hari kita mendengar banyak hal. Kita mendengar suara orang lain, media, bahkan suara roh jahat, dan suara kita sendiri. Siapa yang kita dengarkan? Siapa yang kita patuhi? Suara Tuhan bersaing dengan semua itu. Tetapi pilihan ada di tangan kita, suara mana yang akan kita dengarkan dan patuhi. Bapa memerintahkan kita untuk mendengarkan Yesus. Suara Tuhan tidak hanya menjawab kekhawatiran kita. Suara Tuhan menuntun kita kepada keselamatan. Dia adalah Gembala yang Baik dan kita adalah domba-domba-Nya. Suara gembala adalah kehidupan bagi domba-domba-Nya. Suara Tuhan adalah kehidupan umat beriman.
Tuhan, ketika kebisingan dalam hidupku menenggelamkan suara-Mu, bukalah telinga hatiku agar aku dapat mendengar dan mematuhi-Mu. Amin.

