benih menghasilkan buah

Ketika Semak Duri Menghimpit Benih Sabda

Sabda Hidup
Jumat, 24 Juli 2026, Jumat Pekan Biasa XVI
Bacaan: Yer 3:14-17; MT Yer. 31:10.11-12ab.13Mat 13:18-23.

“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.Benih ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (13: 22 - 23).

Tafsir atas perumpamaan tentang benih yang ditaburkan dalam Injil hari ini umumnya dipandang oleh para ahli bukan sebagai perkataan Yesus, melainkan sebuah penafsiran atau semacam khotbah oleh komunitas Kristen paling awal atau Gereja purba. Gereja purba mengembangkan perumpamaan ini untuk mengelompokkan macam-macam tanggapan terhadap Firman Allah. Mereka menyadari betapa rapuhnya komitmen mereka. Dalam pengalaman mereka dan juga pengalaman kita masa kini, Firman Allah sering kali mendapat tanggapan yang beragam: ada yang setengah hati, ada yang antusias namun dangkal, ada yang fanatik, dan ada pula yang tulus serta menghasilkan buah berlimpah.

Hari ini, mari kita secara khusus merenungkan jenis tanah ketiga tempat benih itu jatuh, yaitu tanah yang dipenuhi semak duri. Benih itu memang tumbuh dan berbunga. Namun, “keprihatinan duniawi” menghimpit benih yang bertumbuh itu sehingga benih itu tidak mampu menghasilkan buah. Tanaman itu hidup, tetapi tidak mencapai kematangan. Inilah tanggapan ketiga dari manusia dalam perumpamaan itu: mereka yang gelisah atau terlalu terjerat oleh kekhawatiran serta kekayaan dunia. Sejak awal Kekristenan, Gereja selalu mengakui perlunya semangat kemiskinan. Berulang kali Yesus juga bersabda tentang kelekatan terhadap harta benda. Ia meminta agar kita mengumpulkan harta di surga, yang tidak dapat dirusak oleh ngengat, karat atau dicuri. Ia juga mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi Allah tetapi sekaligus kepada Mamon. Ia juga menunjukkan betapa sukarnya orang yang terikat pada harta benda dunia untuk masuk Kerajaan Allah. Maka, sangatlah penting untuk melepaskan diri dari jerat harta benda dan kekayaan jika kita ingin maju dalam kehidupan Kristen kita.

Hal ini sangat terasa terutama di zaman sekarang, di mana materialisme telah menjadi godaan yang merasuki seluruh aspek kehidupan kita. Ketika seseorang begitu mencintai hal-hal duniawi hingga tak bisa hidup tanpanya, ia membuka diri pada penderitaan yang besar, baik secara fisik maupun mental. Ada orang, misalnya, sampai mengambil risiko yang tidak masuk akal demi mempertahankan kekayaan mereka. Suatu ketika, enam perampok bersenjata membobol safety box di sebuah bank di London dan mencuri barang-barang berharga senilai lebih dari US$ 7 juta. Seorang wanita, yang perhiasannya dinilai senilai us$ 500.000, menangis histeris, “Celaka! Semua yang aku miliki ada di sana. Seluruh hidupku ada di dalam kotak itu!” Betapa menyedihkan pandangan hidupnya!

Dan di tengah kehidupan kita yang padat dan sibuk ini, mungkin inilah bahaya terbesar yang kita hadapi: bahwa hubungan kita dengan Kristus dan Gereja menjadi sekadar salah satu aspek di antara banyak aspek lainnya. Jika hal itu terjadi, pertumbuhan rohani kita pasti akan terhambat.

Aspek-aspek apa saja dari “kecemasan duniawi” yang cenderung mencekik hidupku yang penuh kasih karunia? Bagaimana cara menghilangkannya dengan lebih efektif? Adakah waktu yang cukup untuk Tuhan?

Adakah waktu hening untuk mendengarkan Tuhan dan Sabda-Nya?

  • Kita perlu diam. Kita tidak akan bisa mendengar suara Tuhan jika sendiri sibuk berbicara.
  • Kita perlu tenang. Kita tidak boleh terburu-buru terhadap Tuhan. Jika kita panik, kita tidak akan mendengar suara Tuhan. Kitab Suci berkata, “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Tuhan.” Secara praktis kita dapat terjemahkan: “Duduklah dan diamlah.”
  • Kita perlu bersih. Sebelum bisa bertemu dengan Tuhan, kita perlu membuang sampah emosional dan rohani. Kita perlu menyingkirkan hal-hal yang busuk dalam hidup. Kita membuang sampah itu dengan mengakui dosa kita kepada Tuhan dan setuju dengan-Nya bahwa apa yang kamu lakukan itu salah. Kapan terakhir kali mengaku dosa?
  • Kita harus rendah hati. Bersiaplah untuk melakukan apa pun yang Tuhan perintahkan melalui Sabda-Nya. Sikap sombong tidak akan berhasil.

Marilah kita menjadi tanah yang subur dan menghasilkan panen seratus kali lipat dengan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, merenungkan dengan setia, serta menanamkan setiap hari Sabda Tuhan yang telah kita terima, agar Roh Kudus dapat menghasilkan buah-buah-Nya dalam hidup kita.

Tuhan, tolonglah aku agar menjadi tanah yang subur sehingga Sabda-Mu dapat berakar dan berbuah dalam diriku. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *