Sabda Hidup
Kamis, 25 Juni 2026, Kamis Pekan Biasa XII
Bacaan: 2Raj 24:8-17; Mzm 79:1-2.3-5.8.9; Mat 7:21-29.
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” [Mat 7: 24 – 25].
Apakah yang menjadi fondasi “rumah” hidup kita? Hari ini Yesus mengajak kita untuk merenungkannya. Ia berkata bahwa kita harus membangun rumah hidup kita di atas Batu Karang, dan Batu Karang itu adalah Dia sendiri. Bukan ide-ide, bukan perasaan, bukan penampilan, bukan kekuatan kita sendiri, tetapi Kristus. Hanya Dia yang memberi kita keamanan yang kita butuhkan, terutama saat badai hidup datang.
Yesus memperingatkan kita: “Tidak semua orang yang berkata kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan,’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 7:21). Kata-kata saja tidak cukup. Kita dipanggil untuk hidup dalam iman, bukan hanya mengatakannya. Apa perbedaan antara orang Kristen yang hanya bicara dan orang Kristen yang bertindak? Yang pertama mungkin terlihat baik untuk sementara waktu, tetapi ketika hujan turun dan angin bertiup, rumah mereka runtuh. Yang kedua, membangun hidup mereka di atas Kristus sebagai fondasinya. Ketika badai hidup dan kesusahan datang, mereka tetap teguh.
Sepanjang sejarah, kita telah menyaksikan banyak orang Kristen yang hidup “tanpa Kristus”: mereka yang lebih mencintai ide-ide daripada Injil, atau lebih mencintai aturan daripada belas kasih. Ada juga yang hidup dalam iman spiritualitas yang kabur tanpa Yesus, nampak seperti seorang beragama (Katolik), tetapi acuh tak acuh, tak peduli akan praktek hidup beragama. Yang lain berpegang teguh pada bentuk dan tradisi namun tanpa cinta atau sukacita. Keduanya kehilangan sesuatu yang esensial: Yesus yang hidup, Sang Batu Karang.
Seorang Kristen sejati tidak kaku, juga tidak lemah. Ia berakar pada Kristus, teguh namun bebas. Hati yang didasarkan pada Yesus dipenuhi dengan sukacita, kerendahan hati, dan Roh Kudus. Ia memberi kita kebebasan untuk memanggil Allah “Bapa” dan kekuatan untuk memanggul salib kita dengan harapan.
Mari kita mohon rahmat ini kepada Tuhan hari ini: untuk membangun hidup kita di atas-Nya, Batu Karang yang kokoh. Dan mari kita meneladan Maria, Bunda kita, yang hidup dalam iman ini sepenuhnya. Dia tahu kekuatan yang datang dari iman atas Kristus. Semoga dia membantu kita untuk melakukan hal yang sama, dengan keberanian, sukacita, dan kebebasan.
Tuhan, Sang Batu Karang, dasar hidupku, bantu aku agar tidak hanya menjadi pendengar sabda, tetapi melaksanakannya. Bantu aku untuk menyatakan dalam tindakan apa yang aku katakan. Amin.

