Minggu, 21 Juni 2026, Minggu Biasa XII Tahun A
Bacaan: Yer. 20:10-13; Mzm. 69:8-10,14,7,33-35; Rm. 5:12-15; Mat. 10:26-33.
“Janganlah kamu takut!” [Mat 10: 6. 28. 31].
Bacaan Bacaan hari ini menarik untuk kita renungkan berdasarkan konteks penulisannya. Bacaan pertama, yang diambil dari nubuat Yeremia, merefleksikan penderitaan orang beriman. Nabi Yeremia (sekitar 650 SM hingga 580 SM) mengalami bahaya yang ditimbulkan oleh teman-temannya karena ia menyampaikan firman yang diberikan kepadanya oleh Yahweh. Sebagian besar pelayanannya dilakukan di Yerusalem, ibu kota Yehuda. Yeremia berusaha menjaga agar rakyat dan raja-raja tetap setia kepada Allah di tengah dunia yang penuh intrik politik. Ia menghadapi permusuhan yang nyata. Namun demikian, Yeremia yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan musuh-musuhnya mengalahkannya. Ia menyatakan, “TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.” Ia memuji Allah atas keselamatan sebelum ia benar-benar mengalaminya. “Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.”
Dalam Injil hari Minggu ini, Yesus memperingatkan para murid-Nya tentang berbagai cobaan yang menanti mereka. Yesus sedang mempersiapkan para Rasul-Nya bagi pengalaman pertama mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah. Berulang kali Yesus menasihati mereka: “Janganlah kamu takut.”
Matius menulis Injil ini pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus, yang menganiaya orang-orang Kristen karena menolak menyembahnya sebagai “Tuhan dan Allah.” Di Efesus, sebuah kuil dibangun dengan patung raksasa Kaisar Domitianus. Pihak berwenang setempat ingin semua orang bersujud dan menyembah patung kaisar tersebut.
Orang-orang Kristen yang menolak menyembah kaisar disiksa, didiskriminasi, dan harta benda mereka disita. Semakin sulit bagi banyak orang Kristen untuk menanggung pelecehan yang terus-menerus ini, dan mereka berada di ambang murtad. Bagaimana cara membantu mereka melewati masa sulit ini?
Dalam konteks sejarah ini, untuk menguatkan dan menghibur umat Kristen di komunitasnya, Matius menulis Sabda Yesus mengenai kesulitan-kesulitan yang harus mereka tanggung. Injil hari ini sebanyak tiga kali menegaskan: “Janganlah kamu takut!” Bagi mereka yang telah memilih untuk mengikuti Kristus, ketakutan adalah musuh terburuk mereka. Seseorang mungkin cemas akan kehilangan posisinya, kehilangan persahabatan, kehilangan harta benda, dihukum, dihambat kariernya, atau bahkan dibunuh. Kini para murid takut akan kekerasan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Kristus. Mereka takut bahwa misi mereka mungkin gagal.
Sabda Yesus di awal perikop yang berbunyi, “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah,” mungkin akan sedikit membingungkan. Mari mitamencoba memahaminya dari adat istiadat Yahudi. Setiap kali para rabi ingin mengutus murid-murid mereka untuk berkhotbah di depan umum, mereka terlebih dahulu melatih mereka secara rahasia. Oleh karena itu, para murid, yang belajar secara rahasia dari para rabi, menyimpan pengetahuan mereka untuk diri sendiri dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya memaklumkannya kepada publik. Itulah tepatnya peran murid-murid Yesus saat ini. Para murid harus memberitakan di depan umum apa yang mereka dengar dari Yesus. Namun rasa Takut dapat melumpuhkan mereka.
Hidup, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus adalah bukti terbaik bagi para murid, agar mereka tidak perlu takut. Setelah penyaliban dan penguburan-Nya, musuh-musuh Yesus yakin bahwa mereka telah membungkam-Nya selamanya dan meletakkan batu besar yang tak tergoyahkan untuk “membungkam”-Nya. Namun, pada hari Paskah, Ia bangkit, sama seperti benih yang dikubur di tanah, mati namun kemudian tumbuh kembali seratus kali lipat.
Bagaimanakah situasi pewartaan Injil di masa kini? Warta Injil masa kini pun masih sering dibungkam. Penganiayaan tetap ada, walau tidak melalui penumpahan darah. Hal itu dapat terwujud secara terbuka melalui hinaan, ejekan di depan umum, marginalisasi yang halus dan terselubung, diskriminasi, serta pengucilan. Karya pewartaan Injil sering kali dihadapkan pada rasa curiga, tuduhan, atau bahkan penolakan dari lingkungan terdekat atau masyarakat luas. Gereja dipanggil untuk tetap tegar dalam menghadapi tantangan ini dengan berpegang pada kasih.
Tantangan-tantangan lain bagi pewartaan Injil pun kini sudah mengintip. Masyarakat modern cenderung lebih mengandalkan pemikiran rasional, sains, dan prinsip-prinsip sekuler. Hal ini sering kali menggeser nilai-nilai spiritual ke pinggiran, di mana kehidupan duniawi dianggap lebih prioritas daripada dimensi kekekalan. Sekularisme yang merembes ke dalam kehidupan gereja dapat memicu keraguan terhadap otoritas Alkitab dan doktrin, sehingga muncul upaya untuk menafsirkan ajaran agama secara terlalu longgar agar sesuai dengan standar nilai-nilai sekuler masa kini.
Perkembangan teknologi digital masa kini pun menjadi tantangan tersendiri yang dapat “membunuh” pewartaan Injil. Adanya distraksi digital, banjir informasi yang tidak terverifikasi (hoaks), serta polarisasi konten di media sosial menuntut kesiapan etis dan kedewasaan rohani yang tinggi agar pesan Injil tidak terdistorsi atau disalahpahami.
Selain itu, kita juga menyadari bahwa pengalaman intoleransi beragama di negeri kita ini Masih tinggi. Belum lagi pelbagai beban dan pergulatan hidup menimbulkan skeptisme terhadap warta Injil.
Namun, menghadapi semuanya itu warta Tuhan bagi kita: JANGANLAH KAMU TAKUT! “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat!” (Mat 24: 13).
Ya Tuhan, Allah kami, dengan Engkau di sisi kami, tak ada alasan untuk takut. Bangunkanlah kami, bimbinglah langkah kami, dan berikanlah kami kekuatan untuk terus berjalan hingga sampai kepada-Mu. Amin.

