Selasa, 26 Mei 2026, Peringatan Wajib St. Filipus Neri
Bacaan: 1Ptr 1:10-16; Mzm 98:1.2-3ab.3c-4; Mrk 10:28-31
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” [Mrk 10: 29 - 30]
Perikope Injil hari ini adalah kelanjutan kisah tentang seorang muda yang kaya yang mendekati Yesus dan bertanya bagaimana caranya memperoleh hidup yang kekal. Yesus menantang pemuda itu untuk menjual segala miliknya dan membagikan hasilnya kepada orang miskin, lalu mengikuti Dia. Tetapi orang muda kaya itu menolak tantangan itu dan pergi. Melihat hal ini Petrus mengatakan bahwa ia dan para murid lainnya telah meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus. Apa yang akan menjadi ganjarannya?
Injil mengingatkan kita bahwa mengikut Yesus membutuhkan pilihan setiap hari, kesediaan untuk melepaskan keterikatan duniawi dan mencari hidup yang kekal. Ketika Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Engkau,” Yesus menjawab dengan sebuah janji: mereka yang meninggalkan rumah, keluarga, dan harta benda demi Dia akan menerima lebih banyak lagi sebagai balasannya – baik dalam kehidupan sekarang ini maupun kehidupan kekal.
Apa yang dikatakan Injil ini berlaku bagi kita semua, bukan hanya bagi mereka yang menjalani hidup sebagai imam atau religius. Setiap orang Kristen dipanggil untuk membuat pilihan-pilihan sesuai dengan kehendak Tuhan. Memilih untuk menghadiri Ekaristi daripada memprioritaskan hiburan, mendedikasikan waktu untuk berdoa daripada rekreasi, memilih untuk bekerja dengan jujur daripada mengikuti godaan korupsi, memilih untuk mengabdikan diri bagi kebaikan banyak orang ketimbang mementingkan kepentingan sendiri, atau menghidupi panggilan kita dengan Kristus sebagai pusatnya – ini adalah keputusan sehari-hari yang menentukan iman kita.
Mengikuti Yesus juga berarti mengizinkan Dia memasuki panggilan hidup kita sepenuhnya. Jika Anda sudah menikah, undanglah Kristus ke dalam pernikahan Anda. Jika Anda seorang imam atau religius, biarkan Kristus menjadi pusat pelayanan Anda. Tanpa Dia, pelayanan kita dapat menjadi rutinitas, dan kita berisiko menjadi aktor dalam sebuah peran dan bukannya menjadi murid yang sejati.
Pada akhirnya, Yesus mengingatkan kita bahwa tujuan kita adalah kehidupan kekal. Dia tidak meminta kita untuk meninggalkan segala sesuatu dengan cuma-cuma – melainkan, meninggalkan yang lebih kecil untuk memperoleh yang lebih besar. Apa yang kita pegang teguh hari ini yang menghalangi kita untuk sepenuhnya memeluk-Nya? Apakah kita mencari kekekalan, atau apakah kita puas dengan apa yang bersifat sementara?
Kiranya Tuhan memberi kita keberanian untuk berjalan di jalan-Nya, percaya bahwa dengan meninggalkan segala sesuatu bagi-Nya, kita menerima segala sesuatu yang benar-benar penting: kasih-Nya, damai sejahtera-Nya, dan kehidupan kekal.
Tuhan, semoga kami mampu untuk selalu menjadikan Engkau yang utama dalam hidup kami. Amin.
St. Filipus Neri

Santo Filipus Neri, yang lahir di Florence pada tahun 1515, dikenal sebagai tokoh terkemuka dalam Gereja Katolik, terutama selama masa-masa penuh gejolak pada era Kontra-Reformasi. Tumbuh dalam keluarga sederhana, Filipus lebih menonjolkan sikap yang ramah dan baik hati daripada minat yang luar biasa terhadap agama. Pada usia enam belas tahun, ia beralih dari pendidikan formal ke perjalanan spiritual yang dipimpin oleh dirinya sendiri, dan akhirnya mengabdikan hidupnya kepada Tuhan. Filipus dikenal karena khotbah-khotbahnya yang santai dan karya amalnya, sehingga menjadi sosok yang dicintai di kalangan rakyat Roma, terutama karena selera humor dan sifatnya yang ceria.
Pada tahun 1548, ia mendirikan Kongregasi Oratorium, sebuah kelompok yang mengundang baik awam maupun imam untuk berkumpul demi doa, studi, dan diskusi spiritual tanpa terikat oleh sumpah formal. Pendekatan unik Filipus mencakup mendorong pengakuan dosa secara rutin di kalangan pengikutnya serta mempromosikan kerendahan hati melalui penebusan dosa yang tidak konvensional. Reputasinya semakin meningkat berkat pengalaman mistisnya dan dampak transformatif yang ia berikan pada banyak kehidupan, termasuk para rohaniwan dan seniman berpengaruh. Dikanonisasi pada tahun 1622, Santo Filipus Neri dikenang karena kemampuannya menginspirasi pembaharuan pribadi dan kekudusan melalui perpaduan bimbingan rohani dan keceriaan, meninggalkan warisan abadi dalam Gereja Katolik.

