Sabtu, 16 Mei 2026, Sabtu Pekan Paskah VI, Hari Kedua Novena Roh Kudus
Bacaan: Kis. 18:23-28; Mzm. 47:2-3,8-9,10; Yoh. 16:23b-28
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku,” (Yoh 16: 23).
Suatu kali menjelang akhir tahun ajaran, beberapa anak sekolah datang dan meminta berkat untuk ballpoint yang akan mereka pakai untuk ujian. Mereka bilang mereka percaya bahwa mereka akan lulus ujian dengan bantuan Tuhan. Tetapi kemudian saya katakan kepada mereka, “Benar, Tuhan akan menolong kalian, tetapi kalau kalian tidak belajar, air berkat satu ember besar pun tidak akan membantu kalian.” Mereka katakan, “Benar Romo. Kami juga belajar mempersiapkan diri untuk ujian. Tetapi tanpa berkat, bisa jadi nanti kami tiba-tiba lupa semuanya, atau kami sial.” Akhirnya saya berkati mereka, bukan hanya ballpoint mereka. Memang, tak jarang orang menggunakan barang-barang yang sudah diberkati sebagai “jimat” keberuntungan atau untuk melindungi mereka dari nasib buruk.
Kita dikenal sebagai masyarakat yang religius. Di rumah mungkin terdapat tempat khusus untuk berdoa, dengan salib, patung Bunda Maria, patung Hati Kudus, atau patung santo pelindung. Ke mana-mana juga memakai kalung rosario. Tetapi tetap menjadi pertanyaan, bagaimana kita berdoa? Apakah kita berdoa seperti mengucapkan rumus otomatis? Apakah kita berdoa seakan-akan memaksa Tuhan mengabulkan doa-doa kita? Tak jarang kemudian kita marah ketika kita merasa bahwa doa-doa kita tidak dikabulkan.
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku,” kata Yesus. Apakah kita berdoa kepada Bapa dengan yakin dan percaya? Yesus memberikan jaminan kepada kita bahwa Bapa akan mendengarkan doa-doa kita.
Orang sering mengeluh dan bertanya, “Mengapa doa-doa saya tetap tak terjawab meskipun saya berdoa dalam nama Yesus?” Atau kita membandingkan dengan orang lain, “Itu tetangga saya, hidupnya gak benar-benar amat, jarang-jarang juga dia ikut misa, koq sepertinya doa-doanya dikabulkan terus…”
Benarkah doa-doa kita tidak dikabulkan? Atau Allah ingin agar kita menunggu serta bertumbuh dalam kesabaran dan iman? Mungkin Ia sedang mempersiapkan kejutan yang lebih besar dan lebih baik bagi kita. Mungkin jawabannya sudah ada bahkan di sekitar kita tetapi kita tidak melihatnya.
Atau mungkin doa kita salah dan menggunakan nama Yesus dengan sia-sia. Misalnya, ada yang berdoa agar tidak ketahuan mencuri, atau memohon supaya Tuhan memberkati hubungan gelapnya, atau memohon agar orang yang menyakiti hatinya mengalami kecelakaan dan mati. Dan sungguh, mereka berdoa “dalam nama Yesus”!
Di sini kita memasuki ranah iman dan kepercayaan. Kita percaya bahwa kita berada dalam pelukan kasih Bapa kita yang baik. Terlepas dari rasa sakit, keterbatasan fisik, dan penyakit yang kita alami, Allah tetap mengasihi kita, dengan cara yang tak terduga. “Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah,” (Yoh 16: 27).
Bapa kita sudah mengetahui semua kebutuhan kita dan ingin memenuhinya dengan kasih-Nya. Ketika kita bersatu dalam kasih dan iman dengan Bapa, Dia memberikan apa yang terbaik bagi kita. Doa kita melalui Yesus bukanlah untuk memberitahu Allah sesuatu yang belum Dia ketahui. Sebaliknya, doa itu adalah untuk membantu diri kita sendiri menjadi lebih sadar akan kebutuhan kita yang sebenarnya dan untuk datang kepada Dia yang menyediakan segala kebutuhan kita, sesuai dengan kehendak dan kasih-Nya.
Bapa Surgawi, kasih-Mu tidak mengenal batas dan belas kasihan-Mu selalu baru setiap hari. Penuhi aku dengan rasa syukur atas berkat-Mu yang tak terhingga dan dekatkanlah aku pada takhta kasih karunia dan kemurahan-Mu. Berikanlah aku keyakinan dan keberanian untuk berdoa agar kehendak-Mu terjadi di bumi seperti di surga. Amin.

