melaksanakan perintah

Melakukan Perintah Tuhan

Minggu, 10 Mei 2026, Minggu Paskah VI Tahun A
Bacaan: Kis. 8:5-8,14-17Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,201Ptr. 3:15-18Yoh. 14:15-21.

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." (Yoh 14: 15)

Suatu ketika, seorang Yahudi sedang berdebat dengan seorang Kristen. “Seluruh agama kalian itu didasarkan pada agama kami,” kata orang Yahudi itu. “Bahkan kalian mengambil Sepuluh Perintah Allah dari kami.”

“Yah… Kami mungkin memang mengambilnya,” kata orang Kristen itu, “tetapi kalian tentu tidak bisa mengatakan bahwa kami telah melaksanakannya.”

Pada Minggu Paskah ke-6 ini, Kristus mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah sekadar memiliki atau mengetahui perintah-perintah Allah, melainkan melaksanakannya.

Yesus bersabda: “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” (Yoh 14:21).

Banyak dari kita pergi ke Misa hari Minggu karena jika tidak melakukannya berarti melakukan dosa berat, dan jika kita mati, nanti akan masuk neraka. Kita menaati perintah-perintah Tuhan karena takut akan hukuman. Itu artinya kita menaati perintah-perintah itu bukan karena alasan yang Yesus berikan dalam Injil hari ini, yaitu karena kasih.

Ada berbagai cara untuk memandang perintah-perintah Tuhan. Kita bisa menganggapnya sebagai beban atau pembatasan terhadap kebebasan kita. Ambil contoh, perintah untuk setia kepada pasangan hidup. Mungkin ada orang yang merasa kebebasannya untuk menikmati kebersamaan dengan wanita lain dibatasi. Namun, perselingkuhan dapat menimbulkan luka yang mendalam, pertengkaran yang pahit, dan kehancuran keluarga!

Dan hal ini membawa kita pada cara kedua untuk memandang perintah-perintah Tuhan. Kita dapat memandangnya sebagai PETUNJUK dalam perjalanan hidup kita. Perintah-perintah ini dapat diibaratkan seperti rambu-rambu lalu lintas — “Bahaya di Depan,” “Dilarang Mendahului,” dan sebagainya. Perintah-perintah itu ada untuk membimbing kita agar kita dapat mencapai tujuan dengan selamat dan, pada akhirnya, rumah surgawi kita.

Beberapa tahun yang lalu, Asosiasi Medis Amerika mengumumkan hasil sebuah survei yang mengejutkan yang dilakukan terhadap ribuan dokter umum. Para dokter tersebut menjawab bahwa mereka merasa hanya mampu menangani sekitar 10 persen dari pasien mereka.

Ketika ditanya mengenai 90 persen sisanya, para dokter tersebut mengatakan bahwa pasien-pasien tersebut memang mengalami rasa sakit yang nyata. Namun, masalah yang mereka hadapi bukanlah masalah kimiawi atau fisik; melainkan masalah psikologis.

Dengan kata lain, penyebab sebenarnya dari penyakit mereka adalah hal-hal seperti kemarahan, kebencian yang terpendam, kesepian, perasaan negatif, atau gaya hidup yang merusak.

Misalnya, ketika kita menyimpan dendam atau menolak untuk memaafkan, kita menyakiti diri sendiri sama seperti kita menyakiti musuh kita. Untuk mengatakannya dengan lebih gamblang, pedang yang kita gunakan untuk menyakiti musuh justru terlebih dahulu menembus tubuh kita sendiri.

Singkatnya, perintah Yesus untuk mengampuni musuh bukanlah sekadar pembatasan atas kebebasan kita, melainkan membawa kesejahteraan fisik dan penyembuhan.

Akhirnya, kita dapat memandang perintah Yesus sebagai ajakan untuk mengasihi. “Jika kamu mengasihi Aku,” kata Yesus dalam Injil hari ini, “kamu akan menaati perintah-perintah-Ku.”

Saya ingat bagaimana salah satu teman saya dulu sering merasa kesal dan memberontak ketika diperintah oleh orang tuanya. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika ia memiliki pacar yang menyuruhnya melakukan hal-hal yang sulit dan merepotkan, ternyata ia justru menurut — semua itu karena cinta.

Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri, mengapa saya menaati perintah-perintah Yesus? Apakah saya melakukannya karena takut akan hukuman? Atau saya melakukannya karena kasih yang selalu mencari kesempatan untuk melayani?

Agar kita semakin mengasihi Yesus, maka kita harus ingat bahwa perjumpaan paling penting setiap hari adalah perjumpaan dengan-Nya dan agenda kita yang paling penting adalah untuk mengasihi. Hidup didasarkan pada kasih selalu mencari kesempatan untuk lebih mengasihi. Kasih berusaha untuk melayani.

Tuhan semoga aku semakin mengasihi-Mu dan melaksanakan perintah-perintah-Mu karena aku mengasihi-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *