for god so loved the world (1)

Begitu Besar Kasih Allah akan Dunia

Rabu, 15 April 2026, Rabu Pekan Paskah II
Bacaan: Kis 5:17-26Mzm 34:2-3,4-5,6-7,8-9Yoh 3:16-21.

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,” (Yoh 3: 16).

Suatu hari Obet menemui mamanya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan selembar kertas kepada mamanya. Mamanya segera membersihkan tangan, lalu menerima kertas yang diberikan oleh Obet dan membacanya.

Obet menulis begini:

Ongkos upah membantu mama:
1) Membantu pergi ke Warung: Rp 20.000
2) Menjaga adik Rp 20.000
3) Membuang sampah Rp 5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp 10.000
5) Menyiram bunga Rp 15.000
6) Menyapu Halaman Rp 15.000
Jumlah : Rp 85.000

Selesai membaca, Mama tersenyum memandang Obet yang raut mukanya berbinar-binar. Lalu ia mengambil ballpoint dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.


1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan – GRATIS
2) Ongkos jaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) Ongkos air mata yang menetes karenamu – GRATIS
4) Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS
5) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu – GRATIS
6) Ongkos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku: GRATIS

Kertas itu dikembalikannya kepada Obet yang dengan segera membacanya. Obet menatap wajah mamanya, matanya berkaca-kaca, kemudian ia memeluk mamanya dan berkata, “Sa sayang Mama….”

Apakah orang tua mencatat dan menghitung semua pengorbanan yang mereka lakukan untuk anak-anak mereka? Kasih yang sejati tidak menghitung-hitung; kasih yang sejati menuntun seseorang untuk berkorban dengan sukarela dan penuh sukacita. Seorang pencinta sejati memberikan semua yang mereka miliki dan yang terbaik yang dapat mereka berikan kepada orang yang mereka cintai. Allah membuktikan kasih-Nya kepada kita dengan memberikan yang terbaik yang Dia miliki – Anak-Nya yang tunggal, Yesus. Yesus mengorbankan nyawa-Nya untuk membuat kita hidup dan selamat.

Keselamatan dimulai dari inisiatif Allah. Allah mengutus Anak-Nya karena Dia mengasihi dunia dan setiap kita yang telah Dia ciptakan. Kasih Allah ada di balik segala sesuatu.

Tindakan-tindakan Allah bukan untuk kepentingan-Nya sendiri, tetapi untuk kepentingan kita. Tindakan-tindakan itu bukan untuk memuaskan hasrat-Nya untuk berkuasa atau untuk menaklukkan alam semesta, tetapi untuk mewujudkan kasih-Nya. Allah tidak seperti seorang raja absolut yang memperlakukan setiap individu sebagai subjek yang harus tunduk dan patuh. Dia adalah Bapa yang tidak dapat berbahagia hingga anak-anak-Nya yang mengembara pulang.

Bagian Injil ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” telah disebut sebagai “teks untuk semua orang.” Ayat ini menyoroti fakta bahwa setiap orang adalah inti dari Injil.

Kasih Allah tidak terbatas pada bangsa, budaya, atau agama tertentu. Allah mengasihi “dunia” secara keseluruhan, bukan hanya bangsa tertentu, orang-orang baik saja, atau mereka yang mengasihi Dia saja. Kasih Allah mencakup semua orang, seperti yang dinyatakan oleh Santo Agustinus: “Allah mengasihi kita masing-masing seakan-akan hanya ada satu orang yang harus dikasihi.”

Dalam sebuah wawancara dengan Eugenio Scalfari untuk majalah La Republicca, mendiang Paus Fransiskus berkata: “Saya percaya pada Tuhan, bukan pada Tuhan Katolik. Tidak ada Tuhan Katolik. Yang ada adalah Tuhan dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasi-Nya. Yesus adalah Guru dan Gembala saya, tetapi Allah, Bapa, Abba, adalah Terang dan Pencipta.”

Lebih lanjut Paus Fransiskus mengatakan: “Ke-Putra-an Yesus dinyatakan bukan untuk menekankan pemisahan yang tidak dapat diatasi antara Yesus dan semua orang; sebaliknya, hal itu dinyatakan untuk memberi tahu kita bahwa di dalam Dia, kita semua dipanggil untuk menjadi anak-anak di dalam Bapa yang Esa, dan dengan demikian menjadi saudara dan saudari satu sama lain.”

Pesannya sangat jelas. Yesus tidak datang untuk memecah belah, tetapi untuk mempersatukan kita sebagai putra dan putri dari satu Abba, Bapa kita di surga. Marilah kita memupuk persatuan dan perdamaian, dan semoga melalui kita semua orang merasakan kasih Bapa yang Esa.

Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk memupuk perdamaian dengan menolak budaya mengucilkan dan merangkul budaya perjumpaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *