tanda perbantahan

Tanda Perbantahan

Jumat, 27 Maret 2026, Jumat Pekan Prapaskah V
Bacaan: Yer. 20:10-13Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7Yoh. 10:31-42

"Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" (Yoh 10: 32)

Kita sudah semakin dekat dengan Pekan Suci. Sejak minggu keempat masa Prapaskah, teks-teks Injil untuk liturgi harian hampir secara eksklusif diambil dari Injil Yohanes. Selama dua minggu terakhir, kita telah mendengarkan penyingkapan misteri Allah Bapa secara bertahap, seperti yang diungkapkan oleh Yesus. Bersamaan dengan itu, kita juga telah menyaksikan penolakan yang semakin meningkat terhadap pesan Yesus oleh orang-orang Yahudi, yang semakin lama semakin menentangnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus sekali lagi menghadapi permusuhan. Kata-kata-Nya memancing kemarahan sehingga lawan-lawan-Nya mengambil batu, siap untuk membunuh-Nya. Mengapa? Karena Yesus menantang pemahaman mereka tentang Tuhan, mengundang mereka untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri siapa Tuhan itu. Alih-alih menerima kebenaran, mereka justru berpegang teguh pada ketakutan mereka dan memilih kekerasan. Mereka “membela” Tuhan mereka. “Tuhan koq dibela…” kata mendiang Gus Dur.

Seberapa sering kita melakukan hal yang sama? Siap melempar batu terhadap mereka yang tidak sepaham atau berbeda pendapat, yang mengusik kemapanan kita. Di dunia kita saat ini, batu yang kita lemparkan mungkin bukan batu secara harfiah, tetapi berupa kata-kata, pendapat, dan penilaian kita yang kasar dan dapat melukai. Media sosial telah menjadi wilayah di mana orang dengan bebas melempar batu tanpa mengetahui hati atau pribadi yang mereka lukai. Yesus memanggil kita ke jalan yang berbeda – jalan yang penuh belas kasih, dialog, dan pengertian.

Dia juga mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang ilahi. Ia mengutip Kitab Suci: “Kamu adalah allah,” (Yoh 10: 34), bukan untuk menyangkal keilahian Allah, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa kita diciptakan menurut gambar-Nya dan dipanggil untuk mencerminkan kekudusan-Nya. Kita membawa percikan keilahian dalam diri kita. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memelihara kehadiran ilahi ini melalui doa, keheningan, dan karya amal.

Yesus juga menunjukkan karya-Nya sebagai kesaksian tentang siapa Dia. Tindakan-tindakan-Nya mengungkapkan kasih Bapa. Demikian juga, tindakan kita – bukan hanya kata-kata kita – harus mengungkapkan siapa kita sebagai murid, sebagai putra dan putri Bapa. Iman bukanlah label yang kita kenakan; iman adalah kehidupan yang kita jalani. Orang lain akan mengetahui bahwa kita adalah milik Kristus dari cara kita bertindak.

Menjelang Pekan Suci, marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria, yang berdiri dengan setia di dekat Salib. Ketika hidup terasa hancur, dan harapan tampak jauh, dia mengingatkan kita bahwa janji Tuhan tetap kekal. Bahkan ketika musuh-musuh Yesus berusaha membungkam-Nya, kasih-Nya tetap menang. Demikian juga, kesetiaan kita akan menghasilkan buah jika kita tetap tinggal di dalam Dia.

Tuhan, bantulah kami untuk setia menyatakan kasih, keadilan dan kebenaran-Mu, meski kami menghadapi pertentangan. Semoga tindakan konkrit kami memberikan kesaksian, bahwa kami adalah murid-murid-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *