yesus di bait allah

Ia Menarik Siapapun yang Dikasihi-Nya

Sabtu, 21 Maret 2026, Sabtu Pekan Prapaskah IV
Bacaan: Yer. 11:18-20Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12Yoh. 7:40-53.

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." [Yoh 7: 40]

Nampaknya sulit bagi seseorang yang “telah terpikat oleh Allah,” sebagaimana dikatakan oleh Yeremia. Ia ditolak oleh umat yang sama di mana ia telah mengabdikan hidupnya. Ia menjadi sumber perbantahan. Demikian pula Yesus. Hal itu nampak dalam Injil hari ini. Kita melihat orang-orang yang berbantahan. Sebagian percaya bahwa Yesus adalah Nabi atau Mesias; yang lain menolaknya karena Dia tidak sesuai dengan harapan mereka. Para pemimpin agama menyingkirkan-Nya dengan sombong, yakin bahwa hanya mereka yang memahami jalan Allah. Mereka meremehkan orang-orang biasa sebagai orang-orang yang bodoh. Namun, kebenaran kasih Allah tidak dapat dibatasi oleh kesombongan manusia.

Pelukan Yesus terhadap para pendosa, penerimaan-Nya terhadap orang-orang terpinggirkan, serta tanda-tanda dan perbuatan-Nya yang dahsyat — terutama kebangkitan Lazarus — menjadi ancaman bagi otoritas para penguasa. Mereka telah memonopoli akses kepada Allah, tetapi Yesus menghancurkan kendali itu. Ia menunjukkan bahwa kasih Allah menjangkau semua orang, bukan hanya kaum elit saja. Namun, semakin mereka berusaha membungkam-Nya, semakin banyak pengikut yang Ia tarik. Yesus bertindak seperti magnet, menarik kepada-Nya semua orang yang Ia cintai —dan kasih-Nya mencakup kita semua.

Bahkan para penjaga Bait Suci, yang dikirim untuk menangkap-Nya, terpikat oleh kata-kata-Nya. Nikodemus, yang dulu takut terlihat bersama Yesus, kini mulai melangkah ke dalam terang. Nanti, kita akan melihatnya berdiri di kaki Salib untuk merawat tubuh Yesus. Keberanian untuk mengikuti Kristus tumbuh pada diri mereka yang membuka hati kepada-Nya.

Drama ini berlanjut hingga hari ini, di mana mereka yang berkuasa sering mengabaikan atau menargetkan orang-orang beriman. Namun, sejarah menunjukkan bahwa diktator pada akhirnya runtuh dan kerajaan-kerajaan tumbang. Pada akhirnya, hanya Kristus dan Gereja-Nya yang bertahan, memberikan kehidupan bagi dunia.

Hari ini, Yesus mengundang kita untuk hidup dalam kebenaran — bukan sebagai “orang yang merasa tahu segalanya,” atau sebagai hakim atas orang lain — tetapi sebagai orang-orang yang dekat dengan hati-Nya. Apakah kita cukup rendah hati untuk berkata, “Saya tidak tahu,” dan membiarkan Allah mengajar kita? Apakah kita siap untuk berhenti menghakimi dan mulai mengasihi?

Tuhan, ajar kami mengosongkan diri kami untuk memberi ruang bagi Yesus dalam kehidupan sehari-hari kami, sekalipun itu menyakitkan. Bantulah kami, agar bersama-Nya kami senantiasa mencari dan melakukan kehendak-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *