Kamis, 19 Maret 2026, Hari Raya St Yusuf Suami Maria
Bacaan: 2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; Rm. 4:13,16-18,22; Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a.
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” (Mat 1: 24)
Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Santo Yusuf, suami Maria. Perayaan kita terasa seperti selingan yang berbeda dalam suasana Prapaskah. Tetapi, sukacita pesta ini hendaknya tidak menjadi penghalang bagi kita untuk semakin maju di sepanjang jalan pertobatan kita di masa Prapaskah.
Setiap orang yang memandang ke depan dan berusaha keras untuk menyelaraskan hidupnya dengan rencana Tuhan, sungguh terpuji. Demikian juga orang yang berusaha selalu memandang tindakan orang lain dengan positif dan berusaha untuk tidak menjatuhkan reputasi baik sesama. Dalam Injil hari ini, Santo Yusuf ditampilkan di hadapan kita dalam kedua aspek kebaikan itu. Ia mempunyai rencana terhadap hidup-Nya, tetapi ia memilih untuk mengikuti rencana Tuhan. Ia menjaga reputasi Maria.
Tuhan mempunyai bagi kita masing-masing rencana kasih-Nya, karena «Allah adalah kasih» (1Yoh 4: 8). Tetapi, sering kali dalam kesulitan dan kesusahan hidup kita sulit untuk melihat rencana kasih-Nya itu. Dan kemudian, kita menggerutu serta enggan menerima untuk memikul beban itu.
Pastilah Santo Yusuf mengalami masa yang sulit ketika menyadari Maria yang «bertunangan dengannya, ternyata mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri» (Mat 1:18). Dia berencana untuk menceraikannya, «dengan diam-diam» (Mat 1:19). Dan, pada saat yang sama, ketika «seorang malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi» (Mat 1:20), mengatakan bahwa ia harus menjadi ayah yang sah dari anak itu, ia langsung menerimanya «mengambil Maria sebagai isterinya» (Mat 1:24).
Melalui Surat Apostolik Patris Corde Paus Fransiskus dalam rangka Tahun St. Yusuf 8 Desember 2020 hingga 8 Desember 2021 yang lalu menyebut kualitas-kualitas St. Yusuf yang satu persatu telah kita renungkan sepanjang Novena kita kepada St. Yusuf: Santo Yusuf adalah bapa yang terkasih, bapa yang lembut dan penuh kasih, bapa yang patuh, bapa yang menerima, bapa yang secara kreatif pemberani, bapa yang sedang bekerja, bapa yang menjadi gambaran duniawi dari Bapa surgawi.
Santo Yusuf, “secara nyata mengungkapkan kebapaannya” dengan mempersembahkan dirinya dalam kasih, “kasih yang ditempatkan untuk melayani Mesias yang tumbuh hingga dewasa di rumahnya.” Santo Yusuf “selalu dihormati sebagai seorang bapa oleh umat Kristiani” (PC, 1). Di dalam dia, “Yesus melihat kasih Allah yang lembut”, yang membantu kita menerima kelemahan kita, karena “melalui” dan terlepas dari “ketakutan kita, kerapuhan kita, dan kelemahan kita,” sebagian besar rencanan ilahi terwujud.
Santo Yusuf juga seorang bapa dalam ketaatan kepada Allah : dengan ‘ya’-nya ia melindungi Maria dan Yesus serta mengajarkan Putra-Nya untuk “melakukan kehendak Bapa”. Dipanggil oleh Tuhan untuk melayani perutusan Yesus, ia “bekerjasama… dalam misteri agung Penebusan”, seperti yang dikatakan Santo Yohanes Paulus II, “dan benar-benar seorang pelayan keselamatan” (PC. 3).
Pada saat yang sama, Santo Yusuf adalah “Bapa yang menerima”, karena ia “menerima Maria tanpa syarat” – sebuah isyarat penting bahkan hingga hari ini, kata Paus Fransiskus, “di dunia kita di mana kekerasan psikologis, verbal dan fisik terhadap perempuan begitu nyata”. Tetapi sang mempelai Maria tersebut juga adalah orang yang, dengan percaya kepada Tuhan, menerima dalam hidupnya bahkan peristiwa-peristiwa yang tidak ia pahami, “mengesampingkan gagasan-gagasannya” dan mendamaikan dirinya dengan sejarahnya sendiri.
Santo Yusuf juga mempunyai “keberanian kreatif” dalam caranya menghadapi kesulitan.” “Sang tukang kayu dari Nazareth”, mampu mengubah masalah menjadi kemungkinan dengan percaya akan pemeliharaan ilahi. Ia harus menghadapi “masalah nyata” yang dihadapi keluarganya.
Sebagai seorang bapa yang sederhana, ia adalah “Seorang tukang kayu yang mencari nafkah dengan jujur untuk menafkahi keluarganya.” Dengan itu ia juga mengajari kita “nilai, martabat dan kegembiraan dari apa artinya makan roti yang merupakan buah dari kerja kerasnya sendiri”.
Sebagai gambaran duniawi dari Bapa surgawi, St. Yusuf adalah bapa yang “paling tulus”, yang berlawanan dengan sifat posesif yang menguasai. Ia, kata Paus Fransiskus, “tahu bagaimana mengasihi dengan kebebasan yang luar biasa. Ia tidak pernah menjadikan dirinya pusat dari segala hal. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi berfokus pada kehidupan Maria dan Yesus”.
Dan bagi kita, St. Yusuf mempunyai tempat istimewa dalam Keluarga Chevalier. Kita menghormati St. Yusuf dan menempatkan diri kita di bawah perlindungan sosok yang benar dan setia, yang telah dipersatukan begitu erat dengan Yesus dan Maria dalam cinta [Konstitusi MSC No. 19]. Kita menjadikannya pelindung dan teladan.
Dalam katekese tentang Santo Yosef, Paus Fransiskus juga mengingatkan kita bahwa Allah mempercayakan apa yang paling berharga bagi-Nya – Yesus dan Maria – ke dalam tangan Yusuf. Hari ini, Tuhan mengundang kita masing-masing untuk menjadi pemelihara kehidupan dalam keluarga, komunitas, dan Gereja. Kita dipanggil untuk saling memperhatikan, menemani mereka yang membutuhkan, dan membina kehidupan di mana kerentanan lebih nyata.
Kehidupan Yusuf juga mengingatkan kita akan pentingnya menularkan iman di dalam keluarga kita. Tindakan-tindakan sederhana setiap hari – seperti berdoa bersama, Misa bersama keluarga, atau memberkati anak-anak – menanamkan benih-benih iman yang kelak akan berbuah dalam hidup mereka.
Marilah kita memandang Yusuf sebagai teladan dan pelindung kita. Mari kita mempercayakan diri kita sendiri, keluarga kita, dan Gereja ke dalam perlindungannya yang penuh kasih, memintanya untuk membimbing kita saat kita mencari Yesus setiap hari.
“Datanglah kepada Yusuf!” Biarlah dia mengajarkan kita bagaimana berjalan dalam iman, memelihara kehidupan, dan hidup dalam kehadiran Allah.
Santo Yusuf, doakanlah kami!

