transfigurasi dengarkanlah dia

Dengarkanlah Dia!

Minggu, 1 Maret 2026, Minggu Prapaskah II Tahun A
Bacaan: Kej. 12:1-4aMzm. 33:4-5,18-19,20,222Tim. 1:8b-10Mat. 17:1-9.

"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Mat 17: 5)

Ketiga bacaan hari ini, Minggu II Prapaskah, cukup pendek, dan isi pesannya sama, yaitu kita sebagai orang beriman diajak selalu mendengarkan, taat dan setia kepada Allah dan Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Lama disebut tokoh Abraham, yang selalu mendengarkan dan melaksanakan sabda/kehendak Allah. Bacaan Injil menampilkan Yesus, yang di atas puncak bukit Tabor ditegaskan lagi sebagai Putera Allah, dan yang harus selalu didengarkan dan dilakukan sabda-Nya. Seperti di dalam Perjanjian Lama hidup Abraham telah mengubah total perjalanan sejarah Israel, demikian pula Yesus dalam Perjanjian Baru mengubah arah seluruh perjalanan hidup kita di dunia ini.

Abraham dipanggil Tuhan supaya demi rencana dan kehendak-Nya ia meninggalkan segala ikatannya dengan apapun: dengan keluarga, dengan suku, milik, tanah airnya. Ia harus pergi ke tanah yang tidak dikenalnya. Tetapi sekaligus Allah menjanjikan kepadanya berkat luhur, yaitu bahwa ia akan menjadi bapak suatu bangsa besar dengan segala keturunannya, yang akan dilimpahi-Nya dengan kesejahteraan dan nama harum.

Dari Bacaan I tentang Abraham itu kita dapat mengetahui, bahwa Israel sebagai bangsa terpilih tidak pernah lepas dari perlindungn Tuhan. Bangsa ini dipanggil Allah bukan hanya untuk menyelamatkan keberadaannya sendiri, melainkan juga diutus untuk menyelamatkan bangsa-bangsa lain. Abraham melakukan-nya itu sesuai dengan tuntutan keadaan zaman dan kemampuannya. Misalnya Abraham menolong Lot kemanakannya dengan membagi tanah miliknya menurut kebutuhannya (lih. Kej 13). Ia juga tampil untuk memperjuangkan keselamatan nasib penduduk Sodom dan Gomora menghadapi kebinasaannya (lih. Kej 18:22-33). Dan ia membuktikan tekadnya untuk selalu mengadakan perdamaian dengan orang lain, apabila ada perselisihan (lih. Kej 21:22-34).

Sikap dan perbuatan Abraham itu berlatar belakang Bacaan I hari ini: “Aku (Tuhan) akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar. Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau” (Kej 12:2-3). Sebelumnya di dalam Kitab Kej. 11 diceriterakan pembangunan menara Babel setinggi langit. Tetapi Tuhan menghancurkannya, karena orang-orang membangun menara yang megah itu melulu untuk memasyhurkan namanya sendiri (egoisme). Akibatnya justru terjadi kekacauan dan permusuhan antar manusia dan bangsa. Sebaliknya Abraham dipanggil Tuhan untuk tampil sebagai berkat, yaitu membangun persatuan dan persaudaraan sebagai manusia dan bangsa. Itulah berkat Tuhan!

Salah satu pesan Bacaan Injil hari ini juga soal “mendengarkan”. Di atas gunung Yesus ditegaskan identitas-Nya sebagai Putera Allah yang dikasihi, diikuti dengan pesan agar kita “mendengarkan Dia.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam Injil Matius, ketika Yesus melakukan atau mengatakan sesuatu yang penting, Ia naik ke atas gunung: Godaan terakhir saat Yesus dicoba terjadi di atas gunung (Mt 4:8); Sabda Bahagia diucapkan di atas gunung (Mat 5:1); Ia melipatgandakan roti di atas gunung (Mat 15:29), dan pada akhir Injil, ketika para murid bertemu dengan Kristus yang bangkit dan diutus ke dunia, mereka berada “di atas gunung yang telah ditunjukkan kepada mereka” (Mat 27:16).

Dalam Perjanjian Lama, gunung adalah tempat pertemuan dengan Allah. Musa menerima wahyu Allah dan menerima Hukum Tuhan di Gunung Sinai. Matius, sang penginjil, bertujuan untuk memperkenalkan Yesus sebagai Musa yang baru, yang memberikan hukum baru kepada umat yang baru, yang diwakili oleh ketiga murid.

Wajah yang bersinar dan jubah yang bercahaya juga sering muncul dalam Kitab Suci. Tuhan “TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, yang berselimutkan terang seperti kain,” kata pemazmur (Mzm 104:1-2). Awan bercahaya yang mengelilingi umat adalah tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya saat Israel dalam perjalanan di padang gurun. Ketika Musa menerima hukum, awan mengelilingi gunung. Dia juga turun dengan wajah yang bersinar. Awan dan wajah yang bersinar adalah, oleh karena itu, cerminan kehadiran Allah.

Dengan menggunakan gambaran-gambaran ini, Matius mengatakan bahwa Petrus, Yakobus, dan Yohanes telah diperkenalkan ke dalam dunia Allah, yang membuat mereka memahami identitas sejati Sang Guru dan tujuan perjalanan-Nya. Dia tidak akan menjadi Mesias yang mulia yang mereka harapkan, tetapi seorang Mesias yang akan ditentang, dianiaya, dan dibunuh.

Di bab sebelumnya, ketika ditanya: “Siapakah Aku ini?” Petrus mewakili para rasul dan menyatakan keyakinan mereka bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Kini, dalam adegan transfigurasi, suara dari langit membenarkan keyakinan para murid: bahwa Yesus adalah “Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Suara itu menambahkan perintah: “Dengarkanlah Dia.”

Dalam Kitab Suci, kata “mendengarkan” berarti “menuruti” (Kel 6:12; Mat 18:15-16). Perintah Bapa kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, dan melalui mereka kepada semua murid, adalah untuk menuruti — “melaksanakan” apa yang diajarkan Yesus. Ini adalah undangan untuk memusatkan hidup pada ajaran kebahagiaan.

Musa adalah orang yang memberikan Hukum kepada bangsanya, dan Elia dianggap sebagai nabi pertama. Bagi orang Israel, kedua tokoh ini mewakili Kitab Suci. Penampakan wajah Allah hanya dapat dipahami melalui Kitab Suci. Pada hari Paskah, untuk menjelaskan makna wafat dan kebangkitan-Nya kepada para murid-Nya, Yesus akan merujuk pada Perjanjian Lama: “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lk 24:27). Tanpa Yesus, Perjanjian Lama tidak dapat dipahami, dan tanpa Perjanjian Lama, Yesus tetap menjadi misteri.

Namun penting bagi kita untuk “mendengarkan Dia”. Yang diperintahkan kepada kita tidak lebih daripada perintah-Nya kepada Abraham. Yakni kita diminta mendengarkan Sabda-Nya dan melakukannya! Mungkin secara jujur kita mengakui, bahwa iman kita belum kuat, masih lemah, penuh keraguraguan. Namun, kita harus yakin bahwa Allah telah menentukan arah perjalanan hidup kita, yaitu meninggalkan “tanah” kita sendiri menuju Tanah Terjanji. Itu berarti bersedia meninggalkan kekekurangan, kelemahan, keterikatan akan kepentingan pribadi kita sendiri, supaya sungguh siap mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Seperti dahulu Abraham, tetapi sekarang terutama seperti Yesus sendiri! Masa Prapaskah ini menjadi saat yang baik untuk melihat kembali, sejauh mana kita mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya.

Ya Bapa, Engkau telah memaklumkan kepada kami bahwa Yesus Kristus adalah Putra-Mu terkasih. Ajarilah kami untuk selalu mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya dan berilah kami pengertian akan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya demi keselamatan kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *