Senin 9 Februari 2026, Senin Pekan Biasa V
Bacaan: 1Raj. 8:1-7,9-13; Mzm. 132:6-7,8-10; Mrk. 6:53-56.
“Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.” (Mrk 6: 55 – 56).
Bacaan pertama hari ini mengisahkan Tabut Perjanjian yang diangkut ke Yerusalem dan ditempatkan di tempat maha kudus dalam Bait Allah yang dibangun oleh Salomo, di Yerusalem. Ketika Tabut Perjanjian itu diangkut ke Yerusalem, hal itu menimbulkan ketakutan dan kegentaran, dan tidak ada yang berani menyentuh Tabut karena menyentuh Tabut dapat membuat mereka mati, seperti halnya Uza (2 Sam 6:6-7). Namun, Yesus, Anak Allah, datang berbaur menyatu dengan orang-orang di sekitar-Nya.
Banyak orang datang, mendekat di sekitar Yesus, memohon agar mereka dapat menjamah jubah-Nya dan menjadi sembuh! Di sini kita saksikan kenosis yang sejati (Fil. 2:6-8) — pengosongan diri Allah demi kita. Allah yang menyatakan diri kepada Musa dengan mengatakan, “Aku Adalah Aku” menjadi Emmanuel, “Allah beserta kita”. Allah yang tinggal dalam Tabut Perjanjian menjadi daging dan tinggal di tengah-tengah kita sebagai salah satu dari kita. Kehadiran Allah yang menakutkan dalam Tabut Perjanjian menjadi sentuhan kasih Allah dalam Kristus.
Markus menekankan pesan penting: “Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.” Memang, kita membutuhkan penyembuhan. Kita hidup di zaman ketika ‘sentuhan’ tidak lagi dihargai karena takut menimbulkan skandal! Injil berbicara tentang sentuhan, jamahan, yang dapat menyembuhkan — yaitu menjamah Tuhan.
Kita mempunyai banyak kesempatan untuk menjamah Tuhan: dalam Ekaristi, dalam Firman Allah, dalam waktu doa kita, dan dalam kehidupan semua saudara dan saudari kita di sekitar kita, Yesus hadir bagi kita. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa membawa orang-orang agar dapat menjamah Tuhan dan disembuhkan sama pentingnya dengan menjamah-Nya secara pribadi. Melalui tindakan cinta dan belas kasih, kita membawa Yesus kepada orang-orang di sekitar kita.
Misi pengosongan diri Kristus menantang kita saat ini untuk melaksanakan misi membawa penyembuhan, penghiburan, dan pengharapan bagi kehidupan saudara-saudari kita yang sedang menderita. Tuhan memanggil kita untuk mengasihi tidak hanya sebatas keprihatinan, tetapi mengulurkan tangan, menyentuh, menjamah mereka yang menderita. Untuk menguatkan mereka yang putus asa, untuk mengingatkan mereka yang menderita bahwa mereka tidak sendirian, bahwa Tuhan mengasihi mereka.
Tuhan, semoga kami mengikuti-Mu dengan keberanian dan cinta. Ajarlah kami untuk melintasi batas-batas, memberikan kesembuhan, dan membawa harapan bagi mereka yang membutuhkan. Semoga kami dapat menjadi tanda dan sarana kehadiran-Mu. Amin.

