Selasa, 27 Januari 2026, Selasa Pekan Biasa III
Bacaan: 2Sam. 6:12b-15,17-19; Mzm. 24:7,8, 9,10; Mrk. 3:31-35
“Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau," (Mrk 3: 31 – 32)
Injil Markus mencatat dua kali kerabat Yesus mencari-Nya dan ingin menemui-Nya. Yang pertama, setelah kerabat-Nya mendengar bahwa Ia melayani hingga lupa diri, mereka datang untuk mengambil Dia, (Mrk 3: 20 – 21). Kedua, seperti baca dari Bacaan Injil hari ini, Ibu dan saudara-saudara-Nya datang untuk menemui Dia. Markus mencatat reaksi kerabat-Nya yang khawatir bahwa Dia telah kehilangan akal sehat-Nya. Sementara itu, otoritas agama menuduh Dia berada di bawah pengaruh kekuatan jahat. Namun, misi Yesus didorong oleh kuasa Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang memberikan-Nya kebebasan ilahi—kebebasan untuk mencintai dan melayani tanpa batas atau syarat.
Yesus bebas dari ikatan kekayaan. Ia meninggalkan kenyamanan Nazaret, memilih hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian (Mat 6:25-34). Ia melayani orang sakit dan miskin dengan bebas tanpa meminta imbalan apa pun (Mat 10:8). Pelayanannya ditandai oleh kedermawanan murni, teladan bagi semua yang mengikutinya.
Ia juga bebas dari cengkeraman kekuasaan. Meskipun Ia mengundang banyak orang untuk mengikuti-Nya, Ia tidak pernah memaksa siapa pun. Yesus menghindari berasosiasi dengan orang-orang berkuasa dan secara konsisten memilih untuk berdiri bersama orang-orang terpinggirkan, mengajarkan murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama (Lk 22:25-27).
Akhirnya, Yesus bebas dari pengejaran ketenaran dan pengakuan. Ia berbicara kebenaran dengan berani, bahkan ketika hal itu menyebabkan penolakan dan kesalahpahaman (Mrk 3:21). Integritas-Nya yang tak tergoyahkan membawa-Nya ke salib, di mana Ia tetap tak terkorupsi oleh ketakutan, pengaruh, atau ambisi duniawi (Mat 10:28).
Kebebasan Yesus ini menantang kita. Apakah kita bebas, ataukah kekayaan, kekuasaan, ketenaran dan kesuksesan memenjarakan kita? Apakah kita, dalam kehidupan sehari-hari, membawa udara segar kebebasan, kejujuran, dan kasih kepada orang-orang di sekitar kita?
Marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk membimbing kita dalam menerima kebebasan anak-anak Allah (Rom 8:15,20-23), sehingga kita dapat hidup dan mencintai seperti yang diajarkan Kristus—dengan hati yang bebas dan dipenuhi cinta ilahi.
Tuhan, karuniai kami kebebasan sejati, untuk melayani Engkau dan sesama. Amin.

