yesus di ladang gandum

Terlalu Cepat Menghakimi

Selasa, 20 Januari 2026, Selasa Pekan Biasa II
Bacaan: 1Sam. 16:1-13Mzm. 89:20,21-22,27-28Mrk. 2:23-28.

“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." (Mrk 2: 27 – 28)

Dalam keluarga, tidak jarang kita menjumpai anak-anak yang dengan polos menghampiri orang tua mereka dan mengeluh bahwa salah satu dari saudara mereka telah melakukan ini atau itu atau telah melanggar beberapa peraturan tidak tertulis di rumah. Bayangkan orang-orang Farisi dalam Injil hari ini yang dengan polos dan lugu protes terhadap Yesus karena murid-murid-Nya telah memetik dan mengunyah sebutir gandum pada hari Sabat. Seperti “paparazi”, mereka memata-matai Yesus untuk melihat apa yang Dia lakukan, kapan Dia melakukannya dan bagaimana Dia melakukannya. “Lihat, murid-murid-Mu melanggar aturan! Mengapa?! Mereka dalam masalah besar! Mereka melakukan sesuatu yang dilarang di hari Sabat!”

Tidak jarang juga kita mendengar pertikaian dalam komunitas gereja kita bahwa kelompok ini atau kelompok itu melakukan ini dan itu dan karena itu kita harus menghentikan perbuatan mereka. Kelompok ini atau itu melanggar peraturan gereja! Cara mereka membaca sebagai lektor tidak sesuai aturan! Jawaban mereka tidak sesuai aturan liturgi! Cara mereka melakukan ini dan itu tidak sesuai aturan! Mungkin beberapa orang menemukan kepuasan jika mendapati orang lain melakukan kesalahan dan mendapat masalah.

Saya tergelitik saat memperhatikan perilaku orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Perilaku mereka mengingatkan saya pada diri sendiri – bagian dari diri sendiri yang kadang-kadang merasa senang saat “menangkap basah” orang lain yang melakukan sesuatu yang salah, bagian dari diri sendiri yang menonjolkan sikap “saya yang paling tahu”. Bagian dari diri saya sendiri yang menganggap diri saya lebih baik dari orang lain. Bagian dari diri saya yang senang membuat keributan karena beberapa orang “memetik dan mengunyah gandum sambil berjalan di ladang pada hari Sabat.”

Tetapi Yesus menggunakan kritik dari orang-orang Farisi itu sebagai kesempatan untuk berbicara tentang kasih Allah kepada kita. Hari Sabat adalah anugerah Allah dan bukan beban yang diberikan kepada kita. Pribadi seseorang lebih penting daripada norma dalam hal hal-hal yang mempengaruhi martabat dan kelangsungan hidup. Tergantung kepada kita untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah seperti Yesus, memperhatikan kebutuhan satu sama lain.

Ngomong-ngomong, sebelum menjadi “paparazi” bagi saudara-saudara kita, mari kita ingat kata-kata Santo Fransiskus de Sales: “Sebelum menghakimi sesama kita, marilah kita menempatkan dia pada posisi kita dan diri kita pada posisinya, maka penilaian kita akan menjadi benar dan penuh kasih.”

Ingatlah, ketika kita hendak menudingkan jari untuk mengkritik atau menyalahkan, lebih banyak dari jari-jari itu menunjuk pada diri kita sendiri. Yang diperlukan hanyalah mengembangkan kebiasaan untuk berhenti dan berpikir sejenak sebelum saya membuka mulut saya!

Seberapa cepat kita menghakimi orang-orang di sekitar kita?

Tuhan, ampunilah aku jika aku cenderung menghakimi orang lain. Berikanlah mata dan hati-Mu agar aku bisa lebih mengasihi orang lain. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *