Senin, 19 Januari 2026, Senin Pekan Biasa II
Bacaan: 1Sam. 15:16-23; Mzm. 50:8-9, 16bc-17,21,23; Mrk. 2:18-22.
Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." [Mrk 2: 21 – 22]
Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita bahwa pesan-Nya selalu baru, menantang kita untuk hidup sebagai murid-Nya yang sejati dengan menerima Sabda-Nya yang transformatif. Dengan analogi anggur baru dalam kantong kulit yang baru, Yesus mengajak kita untuk melepaskan pola pikir kaku dan usang, serta memberi ruang bagi kejutan-kejutan dalam kehidupan baru yang Ia tawarkan.
Yesus mengajarkan bahwa Sabda-Nya melampaui semua ideologi manusia, memecahkan ikatan kesombongan dan keangkuhan diri. Ia mengundang kita ke dalam kebebasan kepercayaan pada belas kasih Allah. Perintah Tuhan bahwa “Ia menghendaki belas kasih, bukan persembahan” menekankan bahwa kemuridan sejati bukanlah tentang ketaatan kaku pada praktik eksternal, melainkan tentang perubahan batin dan hidup dalam kasih Allah melalui keadilan, cinta, pengampunan, dan belas kasih.
Dalam peziarahan hidup, kita dipanggil untuk tunduk pada Sabda Allah dan terbuka terhadap karya Roh Kudus dalam hidup kita. Hal ini membutuhkan keberanian untuk melampaui zona nyaman kita dan kesediaan untuk menerima keindahan panggilan Kristus. Kita tahu dari pengalaman bahwa perubahan selalu menjadi masalah bagi kita. Perubahan memaksa kita untuk meninggalkan kenyamanan kebiasaan yang sudah tertanam dalam diri kita dan keyakinan yang kita miliki. Dan perubahan memaksa kita untuk menempuh jalan yang tidak familiar. Itulah mengapa, seolah-olah secara alami, kita menolak perubahan. Merupakan hukum alamiah dalam Kristen untuk selalu terbuka terhadap pembaruan dan pertobatan. Sabda-Nya dapat mengganggu rencana kita dan menantang asumsi kita, tetapi selalu memberi kehidupan, mendekatkan kita pada hati Allah.
Ya, memang tidak mudah untuk mengubah diri kita sendiri, Gereja kita, dan dunia kita. Tetapi hidup adalah pertumbuhan. Kita harus bertumbuh hingga mencapai ukuran dan kedewasaan Kristus. Kita harus menjadi orang Kristen yang dewasa dalam komunitas yang dewasa. Untuk itu, kita perlu percaya kepada kasih karunia-Nya, membiarkan Sabda-Nya terus-menerus memperbarui kita, dan membiarkan belas kasih, bukan penghakiman, yang membimbing tindakan kita.
Marilah kita memohon perantaraan Santa Perawan Maria, yang pertama kali menerima “anggur baru” Sang Sabda, agar kita pun menjadi kantong anggur yang baru, siap membawa sukacita, harapan, dan belas kasih Kristus ke dunia.
Tuhan, semoga kami tidak takut terhadap perubahan yang otentik dan berani untuk memulai pembaruan dunia dan Gereja melalui pembaruan diri kami sendiri.

