yohanes murid terkasih

Menjadi Murid-Murid Terkasih

Sabtu, 27 Desember 2025, Pesta St. Yohanes
Bacaan: 1Yoh. 1:1-4Mzm. 97:1-2,5-6,11-12Yoh. 20:2-8.

“Ia melihatnya dan percaya,” (Yoh 20: 8)

Kita rayakan hari ini Pesta St. Yohanes Penginjil, murid terkasih Tuhan Yesus. Yohanes Penginjil adalah rasul Yesus yang tidak mati sebagai martir. Menurut tradisi Kristen, ia hidup sampai usia lanjut dan wafat pada sekitar tahun 101 M di Efesus atau Turki modern saat ini, ketika usianya lebih dari 90 tahun. Ia adalah anak dari Zebedeus dan Salome. Ia adalah seorang nelayan, saudara dari Santo Yakobus, salah satu yang disebut Putra Petir, murid Santo Yohanes Pembaptis dan sahabat Rasul Petrus. Ia dipanggil oleh Yesus pada tahun pertama pelayanan-Nya dan melakukan perjalanan ke mana-mana bersama-Nya. Ia ikut serta dalam Perjamuan Terakhir. Dialah satu-satunya dari Dua Belas Rasul yang tidak meninggalkan Yesus pada saat sengsara-Nya, berdiri di kaki salib. Tuhan menyerahkan Bunda Maria kepadanya dan ia membawanya ke dalam rumahnya. Setelah mendengar tentang Kebangkitan, dialah orang pertama yang mencapai kubur dan ketika ia bertemu dengan Tuhan yang Bangkit di Danau Tiberias, ia juga orang pertama yang mengenali-Nya.

Yohanes tinggal untuk waktu yang lama di Yerusalem, tetapi tahun-tahun terakhirnya dihabiskan di Efesus, tempat ia mendirikan banyak gereja di Asia Kecil. Yohanes menulis Injilnya setelah para Penginjil lainnya, sekitar enam puluh tiga tahun setelah Kenaikan Kristus; juga tiga Surat, dan Kitab Wahyu yang indah dan misterius. Dia dibawa ke Roma dan, menurut tradisi, dilemparkan ke dalam kuali berisi minyak mendidih atas perintah Kaisar Domitianus. Seperti Tiga Remaja di dalam perapian Babel yang berapi-api, dia secara ajaib tidak terluka.

Dia kemudian diasingkan ke Pulau Patmos, di mana dia menulis kitab Wahyu, tetapi setelah itu kembali ke Efesus.

Pada usia yang sangat tua, ia terus mengunjungi gereja-gereja di Asia. St Hieronimus menceritakan bahwa ketika usia dan kelemahannya semakin bertambah sehingga ia tidak lagi mampu berkhotbah kepada orang-orang, ia akan dipapah oleh murid-muridnya, dengan susah payah, dan setiap kali ia mengatakan kepada jemaatnya kata-kata ini: “Anak-anakku yang terkasih, kasihilah satu sama lain.”

Menurut St Epiphanus, Yohanes wafat dengan tenang di Efesus pada tahun ketiga pemerintahan Trajanus (seperti yang dapat dilihat dari sejarah Santo Eusebius); yaitu tahun ke seratus dari era Kristen, atau tahun ke enam puluh enam dari penyaliban Kristus; Yohanes saat itu berumur sembilan puluh empat tahun.

Injil hari ini menawarkan sebuah permenungan tentang murid yang dikasihi, yang sering diidentifikasikan sebagai rasul Yohanes. Meskipun Injil Yohanes tidak pernah secara eksplisit menyebutkan namanya, Murid yang Terkasih mewakili sebuah realitas yang lebih dalam – komunitas iman yang baru, yang terbentuk di sekitar Yesus.

Di kaki Salib, kita melihatnya sebagai simbol yang kuat: Murid yang Terkasih berdiri bersama Maria, Bunda Yesus. Maria melambangkan Perjanjian Lama, dan Murid yang dikasihi melambangkan komunitas Perjanjian Baru. Ketika Yesus mempercayakan Maria dan Murid yang dikasihi kepada satu sama lain, Dia menjembatani yang Lama dan yang Baru, menyatukan iman dan kehidupan. Kesatuan ini mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat memisahkan janji-janji Allah yang kekal di dalam Perjanjian Lama dengan penggenapannya di dalam Kristus.

Dalam kisah Kebangkitan, Murid yang dikasihi melihat dan percaya ketika ia sampai di kubur yang kosong. Dia merasakan kehadiran Yesus yang baru dan penuh kuasa. Ia percaya bukan karena melihat Yesus yang bangkit mulia, tetapi karena ia mengenali tanda-tanda kenangan kehadiran Tuhan, kain kafan yang mengingatkan Kasih yang tercurah dalam hidup dan wafat Yesus. Kemudian, pada saat para murid menangkap ikan secara ajaib setelah kebangkitan Yesus, Murid yang Terkasih mengenali Tuhan dan menyatakan, “Itu Tuhan!” (Yohanes 21:7). Imannya mengilhami Petrus untuk bertumbuh, yang pada akhirnya mengubahnya pula menjadi Murid yang dikasihi.

Hari ini, kita dipanggil untuk menjadi Murid-murid yang dikasihi, yakni orang-orang beriman yang melihat dengan mata kasih. Seperti Yohanes, dalam hidup kita, kita tidak dapat melihat kehadiran Tuhan secara penuh. Kita hanya melihat tanda-tanda. Iman kitalah yang memungkinkan kita melihat kehadiran-Nya di balik tanda-tanda itu. Di tengah dunia yang sering memisahkan antara iman dan kehidupan sehari-hari, kita diundang untuk mengintegrasikan keduanya secara utuh, dengan mengambil kekuatan dari Firman dan Sakramen. Perjalanan Murid Terkasih mengilhami kita untuk memupuk hubungan pribadi yang mendalam dengan Kristus dan membawa orang lain kepada-Nya melalui kesaksian kita.

Saat kita menghormati Rasul yang unik dan kudus ini, renungkanlah hari ini kebenaran sederhana bahwa Anda juga diundang untuk berbagi di dalam kasih yang kudus dan intim yang dibagikan oleh Yesus dan Santo Yohanes. Renungkanlah fakta bahwa Tuhan kita juga mengasihi Anda dengan cinta yang sempurna, keintiman dan totalitas. Jika Anda dapat menatap cinta di dalam hati murid yang terkasih ini, maka Anda juga dapat berbagi dalam cinta itu dan menjadi murid yang terkasih.

Apakah saya mengenali kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari saya dengan mata seorang Murid yang dikasihi? Bagaimana saya dapat menyatukan iman saya dengan tindakan saya di dunia saat ini? Bagaimana saya memupuk hubungan yang erat dan intim dengan Yesus?

Tuhan, curahkanlah kepadaku cinta yang sama yang Kaucurahkan kepada St. Yohanes, dan tariklah aku ke dalam Hati-Mu agar aku juga menjadi murid-Mu yang terkasih. Santo Yohanes, doakanlah kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *