Selasa, 23 Desember 2025, Hari Biasa Khusus Advent
Bacaan: Mal. 3:1-4; 4:5-6; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; Luk. 1:57-66.
"Namanya adalah Yohanes." (Luk 1: 63)
Bacaan pertama hari ini adalah nubuat nabi Maleakhi tentang datangnya seorang utusan yang akan mempersiapkan jalan bagi YHWH. Ia akan menjadi kritik tajam bagi cara hidup umat Allah dan memanggil mereka pada pertobaan (metanoia). Ia akan datang seperti “api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu,” (Mal 3: 2). Kita dapat melihat bahwa nubuat ini terpenuhi dalam diri Yohanes Pembaptis. Perannya adalah mempersiapkan umat Israel untuk memberikan persembahan yang berkenan bagi YHWH seperti “pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah,” (Mal 3: 4).
Dari nubuat ini, jelaslah peran dan fungsi utusan itu. Perannya yaitu mengembalikan tatanan dan harmoni. Maleakhi juga membandingkan sang utusan itu dengan Elia, nabi agung itu. Belakangan, atas permintaan murid-murid-Nya, Yesus sendiri menghubungkan Yohanes Pembaptis dengan peran Elia, yang “membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah,” (Mal 4: 6). Nampaklah dengan jelas di sini hati Bapa yang berbelas-kasih. Ia mengusahakan apa saja untuk membawa anak-anaknya kembali kepada-Nya.
Injil hari ini mengisahkan reaksi tetangga-tetangga dan sanak saudara Zakharia dan Elisabeth terhadap kelahiran Yohanes Pembaptis dan dampaknya kepada mereka. Pada kelahirannya, Elisabeth yang telah menyerah pada kondisi mandulnya, secara ajaib mendapatkan kembali “keibuannya” dan ayahnya mendapatkan kembali kemampuannya berbicara. Tetangga-tetangga dan saudara-saudara yang datang hendak menamai bayi itu Zakharia, untuk melanjutkan atau melestarikan nama ayahnya, tetapi Elisabeth mengusulkan nama Yohanes, sesuai pesan malaikat kepada Zakharia. Nama Yohanes dalam bahasa Ibrani adalah Yohanan, yang berarti “dirahmati oleh YHWH” atau Yehohanan, “YHWH Mahapemurah”. Menjadi kecenderungan kita manusia, untuk melupakan kebaikan yang kita terima. Tetapi Elisabeth dan Zakharia bukanlah orang-orang seperti itu. Ketimbang berusaha untuk melanggengkan nama leluhurnya, mereka lebih ingin mewartakan nama YHWH dan kemurahan hati-Nya.
Seharusnya kita masing-masing harus diberi nama Yohanes (Yohanan) sebab kita masing-masing adalah anugerah Allah yang Mahamurah. Siapa saja yang hidup dengan kesadaran itu tentu akan sangat berbeda dengan mereka yang menerima begitu saja kehidupan mereka. Sebab “tangan Tuhan menyertai kita.” Tinggal sehari lagi kita akan merayakan Vigili Natal. Kita akan merayakan kedatangan Tuhan yang pertama sebagai manusia pada hari Natal. Natal tak lain adalah kemurahan Tuhan yang menjadi nyata, dalam diri Sang Imanuel, Allah beserta kita. Apakah kita sungguh siap menyambut Dia di dalam hati dan hidup kita? Apakah ada tempat di hatimu? Betapa menyedihkan jika pada hari Natal ketika Tuhan datang Ia tidak menemukan tempat di hati kita karena sudah tergantikan oleh hal-hal lain yang menjejali hati dan pikiran kita di hari-hari penuh rahmat ini.
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah begitu murah hati kepada kami, karena telah menjadi salah satu dari kami dan mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Kami berdoa agar kami dapat menghargai kasih-Mu dan mulai bermurah hati dan berbaik hati kepada sesama sehingga kami dapat menyatakan kehadiran-Mu di dunia saat ini. Amin.

