berjagalah dan berdoalah

Berjagalah dan Berdoalah

Sabtu, 29 November 2025, Sabtu Pekan Biasa XXXIV
Bacaan: Dan. 7:15-27 ; MT Dan. 3:82-87Luk. 21:34-36.

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat…. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia,” (Luk 21: 34, 36).

Seiring dengan berakhirnya tahun liturgi, Yesus memberikan kepada kita dua kata yang sama mendesaknya hari ini seperti dua ribu tahun yang lalu: “Berjaga-jagalah… dan berdoalah senantiasa.”

Sering kali kita membayangkan kewaspadaan atau berjaga-jaga itu sebagai tindakan mengamat-amati dengan cemas, seperti menunggu badai berlalu. Namun, kewaspadaan yang dimaksudkan oleh Yesus sangat berbeda — itu adalah kesadaran yang penuh perhatian dan kasih, hati yang tetap terjaga terhadap kehadiran Allah. Artinya, hendaklah kita tidak membiarkan hati kita menjadi tumpul oleh gangguan, kesenangan, atau kekhawatiran.

Betapa mudahnya hal ini terjadi! Kita hidup di era yang dipenuhi kebisingan — informasi tanpa henti, berita, dan hiburan. Kita menggulir, bereaksi, terburu-buru — dan sedikit demi sedikit, kepekaan rohani kita memudar. Kita berhenti melihat penderitaan di sekitar kita, berhenti menyadari gerakan-gerakan halus kasih karunia. Di sisi lain, paparan berlebihan terhadap penderitaan dunia juga dapat membuat kita lumpuh karena takut atau kelelahan. Yesus mengajak kita untuk menemukan keseimbangan — tetap sadar, tetapi tidak terombang-ambing; terlibat, tetapi tidak terikat.

Dan kunci keseimbangan ini adalah doa. “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi.” Doa menjaga hati tetap lembut dan hidup. Ia menanamkan kita kembali dan kembali dalam damai Tuhan. Ia memulihkan kejernihan kita dan memberi kita keberanian untuk “berdiri di hadapan Anak Manusia” — yaitu, menghadapi hidup dengan jujur, setia, dan tanpa takut. 

Di akhir tahun ini, mungkin Yesus dengan lembut bertanya kepada kita: “Di manakah hatimu? Apa yang mengisinya?” Panggilan-Nya untuk “berjaga dan berdoa” bukanlah ancaman malapetaka, tetapi undangan untuk hidup terjaga — untuk mencintai dengan dalam, melayani dengan penuh perhatian, dan berdiri siap sedia, bukan dengan ketakutan tetapi dengan kepercayaan.

Mereka yang berjaga dengan cinta dan berdoa dengan tekun, ia tidak akan pernah kedapatan tidak siap. Tuhan datang dan hadir dengan tenang setiap saat dalam keseharian kita — semoga Ia selalu menemukan kita terjaga, berdoa, dan damai.

Tuhan, ajar aku untuk tetap terjaga dalam kehidupan imanku. Tolonglah aku untuk tetap mengarahkan mataku kepada-Mu dalam segala hal sehingga aku selalu siap untuk-Mu ketika Engkau datang kepadaku.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *