mengenangkan arwah

Belas Kasih Allah dan Tanggung Jawab Kita

Minggu, 2 November 2025, Peringatan Arwah Semua Orang Beriman
Bacaan: 2Mak. 12:43-46Mzm. 143:1-2,5-6,7ab,8ab.101Kor. 15:20-24a.25-28Yoh. 6:37-40.

“Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” [Yoh 6: 39]

Kemarin, kita merayakan sukacita Hari Raya Semua Orang Kudus — Gereja yang menang, saudara-saudari kita yang kini turut menikmati kemuliaan surga. Hari ini, hati kita tertuju dengan penuh kasih pada saudara-saudari kita yang Telah Meninggal. Dua perayaan ini saling terkait erat, seperti kegembiraan dan kesedihan yang dipersatukan dalam Kristus. Para kudus mengingatkan kita akan tujuan akhir kita, dan para arwah orang beriman mengundang kita untuk mengingat dengan cinta, berdoa dengan harapan, dan berjalan dengan iman. 

Liturgi hari ini menempatkan dua kebenaran di hadapan kita: belas kasih Allah dan tanggung jawab kita. Dalam Injil Matius (25: 31 – 46), dituturkan tentang Penghakiman Terakhir: Anak Manusia memisahkan domba dari kambing, memberkati mereka yang melayani orang lapar, orang asing, orang sakit, dan orang yang dipenjara. Inilah inti kehidupan Kristen — iman kepada Kristus yang diungkapkan dalam kasih kepada sesama.

Ingatlah bahwa misteri Gereja adalah bahwa keselamatan selalu merupakan anugerah dari Allah. Kita dibenarkan bukan oleh usaha kita sendiri, tetapi melalui anugerah — anugerah yang ditawarkan secara bebas oleh Allah, yang selalu mengambil inisiatif. Iman adalah anugerah yang harus diterima. Namun, seperti setiap anugerah, ia memerlukan respons. Anugerah Allah hanya menghasilkan buah ketika kita membuka hati kita kepada-Nya.

Hari ini, saat kita berdoa untuk jiwa-jiwa yang telah meninggal, kita diingatkan akan misteri besar persekutuan orang kudus. Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ada tiga dimensi persekutuan ini: Gereja yang menang di surga, Gereja yang menderita di api penyucian, dan Gereja yang berziarah di bumi. Mengunjungi pemakaman, mengadakan Misa, dan mengingat orang yang sudah meninggal bukanlah tindakan kesedihan semata, tetapi harapan — harapan yang berakar pada keyakinan bahwa kematian tidak memiliki kata akhir.

Persekutuan ini juga mengingatkan kita akan tanggung jawab. Apa yang kita lakukan di bumi bergema di kehidupan kekal. Pilihan kita, tindakan kita, kemampuan kita untuk mencintai — semua itu penting. Seperti yang diajarkan Yesus, tidak cukup hanya menghindari perbuatan jahat; kita dipanggil untuk berbuat baik, memberi makan orang lapar, menyambut orang asing, dan menghibur orang yang menderita.

Namun di sini kita dihadapkan pada godaan keserakahan dan kesombongan, yang menutup mata dan mengeraskan hati kita. Mereka membuat kita buta terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita. Hidup dengan baik berarti melihat—bukan hanya diri kita sendiri, tetapi juga mereka yang menderita di dekat kita. Iman membuka mata kita, melembutkan hati kita, dan memberi kita keberanian untuk bertindak dengan kedermawanan. 

Hari ini, saat kita berdoa untuk orang-orang yang telah meninggal, kita juga merenungkan jalan kita sendiri. Hari Penghakiman Akhir tidak seharusnya menakuti kita; sebaliknya, ia seharusnya mendorong kita untuk hidup di masa kini dengan iman, belas kasihan, dan cinta. Anugerah Allah selalu datang terlebih dahulu—keselamatan adalah karunia-Nya. Injil hari ini menegaskan bahwa Ia tak menghendaki seorangpun hilang, tetapi supaya dibangkitkan pada akhir zaman. Sabda Yesus itu meneguhkan pengharapan kita. Tetapi Dia meminta kita untuk merespons, menanggapi anugerah itu dengan menjadikan hidup kita sebagai saksi kasih.

Semoga Tuhan, pada akhir hari-hari kita, mengenali kita sebagai hamba yang baik dan setia. Semoga Bunda Maria, Pintu Surga, menemani kita dalam perjalanan kita, sehingga suatu hari kita dapat bersukacita bersama para kudus, bersatu dengan semua orang beriman yang telah meninggal dalam pelukan abadi Allah.

Tuhan, saat kami mengenangkan saudara-saudari kami yang telah meninggal, teguhkanlah pengharapan kami akan kehidupan kekal. Semoga kami, umat-Mu yang masih berziarah, menanggapi kasih-Mu dengan menjadikan hidup kami sebagai tanda kasih-Mu bagi setiap orang yang kami jumpai. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *