good samaritan

Ama, et Fac quod Vis

Senin, 06 Oktober 2025, Senin Pekan Biasa XXVII

Bacaan: Yun. 1:1-17; 2:10; MT Yun. 2:2,3,4,5,8Luk. 10:25-37.

"Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk 10: 37)

Di masa kini, jalan dari Yerusalem ke Yerikho adalah jalan beraspal yang mulus, mobil dan bus melaju kencang menuju kota tertua yang masih dihuni manusia di dunia itu. Pada masa Yesus, barangkali jalan tersebut adalah jalan tanah di padang gurun yang sepi, tidak ada orang yang ramai lalu lalang. Mungkin menakutkan untuk melakukan perjalanan di tempat itu. Bisa dibayangkan bagaimana para pelancong di zaman kuno di jalan padang pasir yang sepi itu menjadi korban perampok.

Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati adalah ilustrasi yang indah tentang perintah Kristus untuk mengasihi sesama, bahkan musuh sekalipun. Ini adalah perintah yang sulit untuk diikuti karena kita semua tahu betapa sulitnya mengasihi musuh. Tetapi bagi para pendengar pertama pada masa Yesus, perumpamaan ini pasti begitu mengejutkan. Mengapa?

Para pemimpin agama, imam dan orang Lewi melewati orang malang itu dan tidak menolongnya sama sekali. Justru yang menolongnya adalah orang Samaria, yang sangat dibenci dan dihina oleh orang Yahudi, yang dijadikan teladan oleh Yesus di hadapan mereka. Dan bagaimana dia menolong? Dia berhenti, menempatkan dirinya dalam bahaya diserang oleh para perampok, mengoleskan anggur untuk membersihkan luka dan mencegah infeksi dan minyak untuk penyembuhan luka. Dia membawa orang yang terluka itu ke sebuah penginapan dan membayar sejumlah uang yang cukup besar, memastikan bahwa pemilik penginapan akan merawat orang itu sampai dia benar-benar pulih. Bagi orang Yahudi, dia adalah seorang “kafir”, tetapi dia membuat kasih Allah menjadi nyata. Tidak heran, Paus Fransiskus mengejutkan banyak orang pada bulan-bulan pertama kepausannya ketika ia mengatakan bahwa belas kasih dan cinta Allah tidak terbatas dan bahkan orang ateis pun memiliki kesempatan untuk diselamatkan.

Pada Penghakiman Terakhir, Tuhan tidak akan bertanya kepada kita tentang berapa banyak uang yang kita miliki atau berapa banyak rumah dan mobil yang kita punyai atau seberapa tinggi dan panjang titel yang kita sandang. Satu-satunya pertanyaan-Nya adalah: Berapa banyak kita telah mengasihi?

Santo Agustinus menulis: “Sekali untuk selamanya, sebuah ajaran singkat diberikan kepadamu: Cintailah, dan lakukanlah apa yang kamu kehendaki. Ama et fac quod vis!”

Apakah Anda hanya mengasihi orang-orang yang baik kepada Anda, atau apakah Anda juga mengasihi mereka yang menyakiti dan merugikan Anda?

Tuhan, Engkau telah memberikan teladan yang sempurna tentang bagaimana seharusnya mengasihi. Engkau telah mati bagiku, seorang pendosa. Terima kasih Tuhan, dan janganlah biarkan aku melupakan kebenaran ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *