Sabtu, 4 Oktober 2025, Peringatan Wajib St. Fransiskus Asisi
Bacaan: Bar. 4:5-12,27-29; Mzm. 69:33-35,36-37; Luk. 10:17-24.
“Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." [Luk 10: 20]
Hari ini kita rayakan Peringatan Santo Fransiskus dari Assisi, orang miskin Allah yang melihat seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudarinya, dan kita juga mengakhiri Bulan Doa untuk Memelihara Keutuhan Ciptaan (Season of Creation). Kalau anda ingat, tanggal 1 September 2025 yang lalu kita membukanya dengan Hari Doa untuk Memelihara Keutuhan Ciptaan, dan gerakan Doa Ekumenis untuk Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan ini ditutup tiap tahunnya pada Peringatan St. Fransiskus Asisi, tanggal 4 Oktober. Firman Allah hari ini mengingatkan kita akan kegembiraan, sukacita, kerendahan hati, dan anugerah melihat dengan hati yang polos seperti anak-anak.
Dalam Injil, ketujuh puluh murid kembali dengan penuh sukacita karena mereka telah menyaksikan kuasa Yesus bekerja. Namun Yesus mengingatkan mereka: sumber sukacita yang sejati bukanlah dalam prestasi mereka, melainkan dalam mengetahui bahwa nama mereka tertulis di surga. Kesombongan dapat membuat kita buta, tetapi kerendahan hati membuka mata kita terhadap kasih karunia Allah. Santo Fransiskus hidup sesuai dengan kebenaran ini. Ia menolak kenyamanan dunia ini untuk memeluk harta kekayaan terbesarnya — cinta Kristus. Kesederhanaannya memungkinkan dia melihat kehadiran Allah tidak hanya pada orang miskin dan penderita kusta, tetapi juga pada burung-burung di udara, matahari, angin, dan bahkan “Saudari Kematian.”
Dalam bacaan pertama Baruch mengingatkan kita bahwa bahkan ketika kita telah menjauh dari Allah, Dia memanggil kita kembali dengan belas kasihan: “Hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin.” Ini adalah pesan bagi kita hari ini. Kita hidup di dunia yang terluka oleh kesombongan, keserakahan, dan kerusakan lingkungan. Tangisan bumi dan jeritan orang miskin saling terhubung. Mengikuti Fransiskus berarti kembali dengan kerendahan hati, menemukan kembali kegembiraan hidup sebagai anak-anak Allah yang merawat ciptaan-Nya sebagai anugerah, bukan sebagai sesuatu yang harus dieksploitasi.
Saat kita menutup Hari-hari doa untuki Keutuhan Ciptaan (Season of Creation) ini, mari kita bawa semangatnya: bersukacita bukan atas apa yang kita miliki, tetapi atas belas kasihan Allah; bukan atas apa yang kita kuasai, tetapi atas keajaiban menjadi anak-anak-Nya. Bersama Santo Fransiskus, mari kita memuji Allah dalam segala hal, hidup dengan sukacita yang rendah hati dan kesederhanaan yang bersinar.
Ya Allah, anugerahi kami sukacita sejati sebagai anak-anak-Mu, yang senantiasa bersyukur atas anugerah-anugerah-Mu, yang selalu tergerak untuk merawat keutuhan ciptaan-Mu. St. Fransiskus dari Asisi, doakanlah kami. Amin.

