quandary

Menjadi Dewasa dan Lepas Bebas

Sabda Hidup

Senin, 18 Agustus 2025, Senin Pekan Biasa XX
Bacaan: Hak. 2:11-19Mzm. 106:34-35,36-37,39-40,43ab,44Mat. 19:16-22.

“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mat 19: 21)

Kisah tentang orang yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal terdapat dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Tetapi hanya Matius yang menyebutkan bahwa orang yang bertanya itu masih muda. Bahkan dua kali Matius menyebut: “orang muda itu….”

Orang muda biasanya memiliki banyak pertanyaan, antara lain pertanyaan tentang nilai dan idealisme dalam hidup. Bahkan pertanyaannya tentang idealisme bukan hanya menyangkut sukses saat ini dan di sini, bukan hanya menyangkut prospek bisnis, atau soal politik dan sosial, tetapi menyangkut hal yang sangat rohani: hidup kekal.

Pertanyaan orang muda ini mengundang kita untuk bermenung; perhatian mereka akan idealisme dan keutamaan membawa kita melampaui pandangan pragmatis belaka… Semoga kita, bersama orang-orang muda tetap semangat mengejar cita-cita, bukan hanya bagi kehidupan yang fana, tetapi juga untuk kehidupan kekal. Semoga idealisme kita juga mencakup soal spiritualitas!

Namun ada sisi lain yang ditunjuk oleh Matius dengan mengatakan: “orang muda itu…” Yaitu sikap belum dewasa, belum matang, dengan penilaian yang sempit.

Apa tandanya belum dewasa? Pertama, terlalu bangga tentang apa yang dilakukan. Ketika ia diminta untuk menuruti segala perintah Allah, ia berkata: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” (Mat 19: 20). Kita acap kali terlalu cepat merasa puas dengan apa yang kita lakukan.

Hal kedua yang menjadi tanda bahwa orang muda yang kaya itu belum dewasa adalah bahwa perintah Yesus untuk menjual harta miliknya itu dilihatnya hanya sebagai sesuatu yang menyakitkan. Tanda belum dewasa adalah ketika seorang anak menangis ketika ia harus merelakan mainannya…. Orang Kristen yang dewasa memandang tindakan “melepaskan” atau “merelakan” sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan Kristus. Seorang Kristen yang dewasa memandang tindakan melepaskan harta milik itu sebagai kesempatan mengikuti Kristus secara lebih penuh. Sebagai orang Kristen kita diukur berdasarkan seberapa baik kita mengikuti Yesus Kristus dan Injil, bukan berdasarkan ide-ide dan kemandirian kita sendiri,” kata mendiang Paus Fransiskus.

Sudah dewasakah kita? Tanda kedewasaan antara lain adalah kesadaran bahwa kita belum sempurna…. Usaha mengikuti Yesus, tidak untuk ditakar-takar dengan ukuran tertentu. Total, meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Dia.

Tuhan, janganlah aku dibutakan oleh harta benda. Berikanlah aku semangat lepas bebas untuk mengikuti Engkau secara lebih penuh. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *