presentation of the lord

Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Senin, 2 Februari 2026, Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Bacaan: Mal 3:1-4Mzm 24:7.8.9.10Ibr 2:14-18Luk 2:22-40.

“Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,” [Luk 2: 22]

Hari ini kita rayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah/Bait Allah. Dalam tradisi Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah (sejak abad ke-5) dirayakan di kota Yerusalem (Ritus Timur), dan sejak abad ke-6 diperluas ke seluruh Gereja Katolik Roma. Di Roma pesta ini dirayakan dengan nada pertobatan, sedangkan di Perancis dengan pemberkatan meriah dan perarakan lilin, sehingga sekarang masih dikenal sebagai “Misa Terang” (Candlemas/misa lilin) atau sering juga disebut candelaria.

Menurut bacaan Injil hari ini, ada dua peristiwa yang dibuat oleh keluarga Yusuf: pentahiran ibu, 40 hari setelah melahirkan (Im 12:1-8), dan persembahan/penebusan anak sulung (Kel 13:1-2,11-16). Persembahan yang mereka berikan amatlah sederhana yaitu  sepasang burung tekukur dan dua ekor anak burung merpati, tanpa domba (bdk Im 12:6-8). Di antara banyak orang yang berlalu larang di Bait Allah, Simeon dan Hana segera mengenali bayi Yesus, membuka nubuat bagi Yesus dan bagi Maria ibuNya. Dan setelah itu, Keluarga Kudus kembali ke Nazareth dan Yesus bertumbuh di sana, terutama dalam iman. Tentunya semua itu tidak lepas dari figur pendidik Yesus yaitu Yusuf.

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah juga merupakan Hari Doa Sedunia untuk Hidup Bakti, menghormati dan mendoakan semua orang baik pria maupun wanita yang telah mempersembahkan dan mengkuduskan hidup mereka kepada Tuhan, karena cinta kepada Allah dan dalam pelayanan kepada umat Allah. Walau demikian, setiap orang beriman dipersembahkan kepada Tuhan, maka kita juga mengenang pengudusan kita masing-masing kepada Tuhan pada saat baptisan kita. Sebagai orang yang dikuduskan, kita dikhususkan untuk melakukan pekerjaan Allah, tidak pernah sendirian tetapi bersama saudara-saudari kita.

Injil Lukas menceritakan Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah, di mana Maria dan Yusuf menaati Hukum Musa dengan menyerahkan Anak mereka kepada Allah. Perayaan ini mengingatkan kita pada tiga pelajaran penting bagi iman dan keluarga kita saat ini.

Pertama, ketaatan Keluarga Kudus terhadap Hukum Tuhan menonjolkan keselarasan mereka dengan Firman Allah. Di tengah kemiskinan dan tantangan, mereka hidup sesuai dengan kehendak Allah. Merela menjadi contoh bagaimana kita menempatkan Allah sebagai pusat keluarga kita, mempercayai Firman-Nya untuk membimbing kita melalui pelbagai macam cobaan hidup.

Kedua, persitiwa Yesus dipersembahkan ini mengajarkan bahwa anak-anak bukanlah milik kita, melainkan anugerah yang dipercayakan Allah kepada kita. Maria dan Yusuf, meskipun memiliki harapan untuk Yesus, menyerahkan-Nya kepada rencana Allah yang lebih besar. Orang tua saat ini diundang untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada Allah, membesarkan mereka untuk memenuhi rencana dan tujuan Allah bagi mereka.

Ketiga, kesederhanaan persembahan Keluarga Kudus—sepasang merpati—menunjukkan bahwa Yesus lahir di antara orang-orang miskin. Kesederhanaan ini mengundnag kita untuk mendekati Kristus, yang mengidentifikasi diri-Nya dengan perjuangan kita.

Simeon dan Hana, yang dipenuhi Roh Kudus, mengenali Bayi Yesus sebagai Mesias. Hidup mereka yang penuh iman dan penantian yang sabar mewakili harapan dan kepercayaan pada janji-janji Allah. Kidung Simeon, sebuah doa penyerahan diri yang damai, mengingatkan kita bahwa hidup yang dijalani untuk Allah membawa kepenuhan sejati. Persembahan hidup Hana yang tak tergoyahkan selama berpuluh-puluh tahun di Bait Allah mewakili sisa umat yang setia yang menantikan kedatangan campur tangan Allah dengan sukacita.

Sukacita Maria dan Yusuf dalam menaati Hukum mencerminkan hubungan yang dalam dan penuh kasih dengan Allah, sementara keterbukaan Simeon dan Hana terhadap Roh Kudus mengungkapkan vitalitas hidup yang berakar pada iman. Perjumpaan ini juga mencerminkan hidup yang dikuduskan: perjumpaan dengan Kristus yang mengubah kita. Melalui Gereja dan karisma komunitas religius, kita, orang-orang yang dibaktikan, bertemu dengan Kristus, mengenali-Nya, dan menerima misi-Nya. Semoga Roh Kudus memimpin kita untuk hidup dengan sukacita dalam panggilan kita, memupuk persatuan dan keterbukaan terhadap suara Allah, saat kita melanjutkan perjalanan bersama.

Tuhan, saat kami mengenangkan Dikau yang dipersembahkan di kenisah, teguhkanlah persembahan diri kami kepadamu, baik sebagai biarawan-biarawati maupun sebagai umat biasa. Semoga kami seperti Simeon dan Hana, mengenali Engkau dan menerima serta menjalankan misi-Mu dengan setia. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *