berpakaian pesta

Undangan bagi Orang-Orang Berdalih

Sabda Hidup
Minggu, 11 Oktober 2026, Minggu Biasa XXVIII Tahun A
Bacaan: Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Flp. 4:12-14,19-20; Mat. 22:1-14 (panjang) atau Mat. 22:1-10 (singkat).

“Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang..... Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.” (Mat 22: 2, 3, 8 – 10).

Suatu hari di pinggiran kota Merauke, Papua Selatan….

“Pace, hari ini hari Minggu… mari pi gereja!” kata seorang bapak kepada temannya.
“Hmmmm….. Sa sibuk ini, sobat, biar mace dengan anak-anak saja pi gereja.”
Sehari sebelumnya, teman-teman akrabnya juga sudah mengingatkannya: “Sobat, besok pi gereja eh….”
“Hmmmmm….. biar mace dan anak-anak saja pi gereja besok,” jawabnya.
Ternyata, sebelumnya ia juga sudah bertemu dengan pastor paroki. “Anak, besok pi gereja eh…” pastor mengingatkannya.
“Pastor, sa so janji deng teman-teman mo pi jaring ikan ni…. Kalau sa tra pigi gereja, gereja tra kosong juga to? Biar mace deng anak-anak saja besok pi gereja.”

Singkat cerita, suatu kali keluarga itu bepergian bersama satu mobil dan mengalami kecelakaan. Semua penumpang dalam mobil tewas. Ketika keluarga itu sampai di pintu surga, Santo Petrus melihat mereka berbondong-bondong bersama-sama masuk. Melihat bapak itu St Petrus berkata: “Eeee…. Ko mo pi mana?”
“Ke dalam to…” jawab bapak itu. “Sama-sama to satu keluarga….,” lanjutnya.
Santo Petrus menjawab: “Hmmmmmm……. Mace deng anak-anak saja!”

* * *

Dalam Injil hari ini, Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah dengan sebuah perjamuan pernikahan. Namun demikian, kita juga diingatkan bahwa soal menerima atau menolak undangan tersebut adalah keputusan pribadi, dan Allah tidak memaksa siapa pun. Beberapa tamu yang diundang menolak hadir, karena menganggap mereka memiliki hal-hal yang lebih penting atau lebih baik untuk dilakukan.

Tentu saja tak seorang pun menganggap sebuah pesta itu sebagai sesuatu yang menyedihkan atau membosankan. Mereka yang menolak untuk hadir itu hanya “tidak peduli”. Alasan kita menjauhkan diri dari kasih Allah dan sesama bukanlah karena niat jahat, melainkan karena keinginan akan kenyamanan dan kesenangan diri sendiri.

Ketika pilihan kita adalah mengejar keuntungan, kesenangan, dan hobi yang membuat kita merasa senang, kita gagal mengenali panggilan Allah. Coba kita perhatikan, kita lebih mudah memberikan waktu untuk semua kegiatan lain — untuk pekerjaan, bersosialisasi, ngopi-ngopi, liburan, makan-makan, dan kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan — tetapi tidak untuk Gereja, doa, dan Firman Allah karena kita tidak peduli.

Selain itu, ketika segalanya bergantung pada diri sendiri, kita menjadi kaku dan dapat berubah menjadi jahat. Para tamu yang diundang begitu egois hingga mereka menghina, menangkap dan bahkan membunuh orang-orang yang membawa undangan (ay. 6).

Namun, meski dihadapkan pada penolakan dan penolakan terus-menerus terhadap undangannya, sang raja tetap melanjutkan; ia tidak menunda pesta itu. Ia terus mengundang dan melibatkan lebih banyak orang. Terlepas dari ketidakadilan dan penolakan, Allah menanggapi dengan kasih yang lebih besar. Meskipun kita berkata “tidak” terhadap undangan-Nya, Allah terus mengambil inisiatif berulang kali. Begitulah cara kasih bekerja; begitulah cara kejahatan dapat dikalahkan.

Injil menekankan satu poin terakhir: aturan berpakaian para tamu, yang tak tergantikan. Menanggapi undangan berarti kita harus mengenakan pakaian pesta; kita harus menumbuhkan kebiasaan hidup dalam kasih setiap hari. Seseorang tidak dapat berkata “Tuhan, Tuhan” tanpa hidup sesuai kehendak Allah (lih. Mat 7:21). Kita perlu mengenakan kasih-Nya setiap hari dan memperbarui pilihan Allah setiap hari. St. Paulus juga berkata, “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang…” (Roma 13: 14). Kita sudah menerima undangan-Nya, mari kita kenakan manusia baru, kita tanggalkan sifat lama yang berdosa dan mengenakan kebajikan rohani seperti belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, serta kasih sebagai pengikatnya (Kolose 3:12-14).

Kita telah menerima pakaian itu saat kita menerima Sakramen Baptis, pakaian pengantin bagi Allah. Marilah kita memohon rahmat-Nya agar kita dapat mengenakan pakaian ini setiap hari serta menjaganya tetap bersih.

Ya Tuhan, sungguh indah menerima undangan dan berada bersama-Mu. Biarlah hati kami dipenuhi sukacita dan biarlah kami saling berbagi segala karunia baik yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *