Minggu, 7 Desember 2025, Minggu Advent II Tahun A
Bacaan: Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-2,7-8,12-13,17; Rm. 15:4-9; Mat. 3:1-12.
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3: 2)
Suatu ketika, kapten sebuah kapal yang sedang berlayar di malam yang berkabut melihat lampu, nampaknya lampu sebuah kapal yang lain yang sedang mengarah kepadanya.
Maka ia memerintahkan petugas signal untuk mengontak kapal lain itu dengan pesan: “Ubah haluanmu 10 derajat ke utara. Saya adalah laksamana.”
“Pesan diterima,” datang balasan, “tetapi andalah yang harus mengubah haluan ke selatan.” Jawaban itu membuat sang laksamana tersinggung. Maka ia mengirim pesan kembali: “Saya adalah kapal perang, jadi anda harus mengubah haluan ke utara, kalau tidak……” Belum selesai pesan disampaikan sudah ada jawaban: “Saya adalah mercu suar… putar haluanmu… atau… kalian hancur binasa!
* * *
Dalam bacaan Injil hari ini, Minggu Advent ke-2, Yohanes Pembaptis meyampaikan pesan kepada kita semua: “Ubah haluanmu! Ubah hidupmu! Kerajaan Sorga sudah dekat!” Jika kita tidak mengubah haluan hidup kita ke arah yang ditunjukkan oleh Tuhan, maka kita menuju pada kebinasaan.
Dalam bahasa Yunani, pertobatan adalah metanoia. Kata Yunani metanoia berarti perubahan hati. Metanoia menurut Kitab Suci adalah perubahan hati sepenuhnya yang menjauhkan seseorang dari dosa untuk melayani Allah yang hidup. Dalam Perjanjian Lama, para nabi menyerukan pertobatan yang akan membuat orang menjauh dari penyembahan berhala dan dari praktik agama yang dangkal untuk hidup dalam kesetiaan pada hukum Allah dan tanggung jawab sosial mereka (Yes 1: 10-20). Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis dan kemudian, Yesus (Markus 1:15), menyerukan perubahan hati yang radikal seperti yang dituntut oleh kedatangan Kerajaan Allah. Itulah sebabnya Baptisan Santo Yohanes Pembaptis adalah baptisan untuk pertobatan. Pada masa para rasul, dalam nama Yesus, para rasul mengundang orang-orang untuk bertobat dan dibaptis, sehingga memulai kehidupan baru dalam Roh (Kisah Para Rasul 2:38).
Pertobatan sejati bukanlah soal melakukan atau tidak melakukan hal-hal tertentu. Sebaliknya itu adalah perubahan sikap. Contohnya: perubahan dari kesenangan diri yang egois menjadi sikap altruis, memperhatikan orang lain; dari kesombongan menjadi kerendahan hati; dari kemarahan dan balas dendam menjadi pengampunan yang sungguh seperti Kristus.
Panggilan untuk mengubah arah itu begitu mendesak. Yohanes Pembaptis menegaskan, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api,” (Mat 3: 10).
Yohanes pembaptis mungkin akan mengatakan kepada kita sekarang ini: “Jika engkau pikir-pikir mau mengaku dosa untuk mempersiapkan Natal, lakukan sekarang. Jika engkau merencanakan untuk berekonsiliasi dengan seseorang, sekaranglah waktunya. Jika engkau ingin berbuat kebaikan kepada saudara-saudari yang berkekurangan, jangan tunda-tunda, lakukanlah sekarang!
* * *
Ada cerita tentang tiga iblis yang sedang berdebat tentang cara yang paling ampuh untuk menghancurkan jiwa-jiwa manusia di dunia.
Iblis yang pertama bilang: “Mari kita katakan kepada orang-orang Kristen bahwa Kitab Suci itu cuma dongeng belaka.
“Ah itu tidak akan berhasil,” kata Iblis yang kedua. “Lebih baik kita katakan kepada mereka: “Surga dan neraka itu tidak ada. Kita hapus saja ketakutan dan hukuman dan manusia tidak akan percaya lagi pada hal itu.”
Iblis yang ketiga bilang, “Ada cara yang lebih ampuh. Katakan kepada orang-orang Kisten bahwa Allah itu memang ada, bahwa Kitab Suci memang diilhami Roh-Nya, bahwa surga dan neraka itu ada. Tetapi saya akan bilang kepada mereka: santai saja… tak usah buru-buru; akan selalu ada hari esok….” Sampai akhirnya sudah terlambat…..
Dan semua iblis yang lain sepakat dengan hal itu… dan mengirim Iblis ketiga itu ke dunia….
* * *
Mengapa menunggu sampai sakit menghantam kita untuk meninggalkan kebiasaan buruk seperti merokok atau minum terlalu banyak, mengumpat, memaki dan gossip, atau nonton tv terlalu banyak…..
Advent adalah suatu kesempatan untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan Kristus dalam hidup kita, dengan menghasilkan buah-buah kebaikan. Persiapan untuk kedatangan Kristus itu kita lakukan dengan membiarkan Dia dilahirkan kembali setiap hari dalam hidup kita: Masa Adven adalah waktu bagi kita untuk membuat persiapan ini dengan bertobat dari dosa-dosa kita dan memperbarui hidup kita melalui doa, penebusan dosa, dan berbagi berkat kita dengan orang lain. Marilah kita dengan rendah hati mengakui kebenaran kata-kata mistikus Jerman Angelus Silesius: “Kristus dapat dilahirkan seribu kali di Bethlehem – tetapi semuanya sia-sia sampai Dia lahir di dalam saya.” Maksudnya bahwa Yesus harus dilahirkan kembali dalam hati kita selama masa Adven ini dan setiap hari dalam hidup kita, memancarkan kasih, kebaikan, belas kasihan, pengampunan, dan semangat pelayanan-Nya yang rendah hati kepada dunia melalui hidup kita.
“Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api!” St Yohanes Pembaptis mengingatkan kita!
Tuhan, biarkan cahayamu menyala terang di hatiku agar aku bisa mengetahui kegembiraan dan kebebasan kerajaanmu. Penuhi aku dengan Roh Kudus-Mu dan berdayakan aku untuk bersaksi tentang kebenaran Injil-Mu dan mengarahkan orang lain kepada Yesus Kristus. Amin.

