Minggu, 5 Oktober 2025, Minggu Biasa XXVII Tahun C
Bacaan: Hab. 1:2-3; 2:2-4; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 2Tim. 1:6-8,13-14; Luk. 17:5-10.
"Tambahkanlah iman kami!" (Luk 17: 5)
Mentari musim panas dan kekeringan telah membuat padang berwarna coklat dan tanah terbelah-belah. Tatkala memandang tanaman mereka mengering, penduduk wilayah itu dengan cemas memandang langit, mencari tanda-tanda kekeringan itu segera berlalu.Tetapi hari-hari, minggu berganti minggu, tanda-tanda hujan tak kunjung datang. Para gembala di wilayah itu akhirnya sepakat untuk mengadakan doa bersama memohon turunnya hujan pada hari Sabtu minggu berikutnya, di alun-alun kota. Setiap orang diminta untuk membawa sesuatu yang menandakan iman mereka. Pada hari yang ditentukan, seluruh penduduk berduyun-duyun ke alun-alun dengan wajah cemas, tetapi hati tetap penuh harap. Para gembala tersentuh melihat pelbagai macam benda yang dibawa sebagai tanda iman mereka: buku doa, Kitab Suci, salib, rosario, dsb. Doa didaraskan dengan begitu khusyuk dan menyentuh hati. Di menit-menit terakhir doa bersama itu hampir berakhir, seakan-akan mereka mendapatkan isyarat Ilahi, rintik-rintik air mulai turun. Gemuruh sorak membahana ke seluruh penjuru alun-alun ketika seluruh penduduk itu mengangkat semua benda tanda iman yang mereka bawa dengan penuh syukur dan takjub. Akan tetapi dari tengah-tengah khalayak di alun-alun itu, sebuah benda tanda iman nampak menonjol dibandingkan yang lainnya. Seorang anak kecil membawa sebuah payung! Tanpa berkata sepatah katapun, anak itu menunjukkan kualitas iman yang otentik yang nampak dalam suatu komitmen. Memohon turunnya hujan dengan membawa payung! Keyakinan iman yang begitu dalam!
* * *
Para murid mengajukan permohonan rendah hati kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami.” Ini adalah doa yang dengan mudah dapat menjadi doa kita. Seringkali, ketika kita mengalami perjuangan hidup, ketidakadilan di dunia, atau bahkan kelemahan kita sendiri, kita pun merasa membutuhkan iman yang lebih kuat.
Namun, Yesus tidak menjanjikan kepada mereka, “Ini, Aku akan memberikan kalian iman yang lebih banyak.” Sebaliknya, Ia berkata bahwa benih iman yang paling kecil pun memiliki kuasa yang luar biasa: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”.” Dengan kata lain, pertanyaannya bukan seberapa besar iman yang kita miliki, tetapi apakah kita benar-benar mempercayai Allah dengan apa yang sudah kita miliki.
Iman bukanlah sesuatu yang dapat diukur, tetapi hubungan yang harus dijalani. Ini bukan tentang memiliki kekuatan, tetapi tentang mempercayai Dia yang berkuasa. Nabi Habakkuk mengingatkan kita akan hal ini ketika ia berkata: “Orang benar hidup oleh iman,” (Hab 2: 4). Iman memungkinkan kita untuk terus berjalan bahkan ketika kegelapan mengelilingi kita, mengetahui bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita.
Paulus, dalam suratnya kepada Timotius, mengembangkan hal ini lebih lanjut: “Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu.” Iman adalah karunia, tetapi juga tanggung jawab. Seperti api, ia harus dipelihara atau akan padam. Timotius didorong untuk tidak malu atau takut menderita, tetapi percaya pada Roh yang memberikan keberanian dan kekuatan. Demikian pula, kita telah dipercayakan dengan Injil dan dipanggil untuk melindunginya dengan bantuan Roh. “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.”
Dan Yesus menambahkan suatu pelajaran yang sulit: mengikut Kristus adalah pelayanan. Ia menceritakan perumpamaan tentang hamba yang, setelah bekerja sepanjang hari, tidak dipuji tetapi diharapkan untuk melayani lebih banyak lagi. “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan,” (Luk 17: 10). Pada awalnya, ini terdengar keras. Tetapi Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang esensial: pelayanan kita kepada Allah dan sesama bukanlah tentang mendapatkan imbalan atau membuat Allah berhutang kepada kita. Cinta bukanlah transaksi; itu adalah cara hidup.
Seorang murid selalu menjadi hamba, karena itulah sifat sejati Kristus sendiri. Ia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Iman kita, oleh karena itu, tidak dibuktikan oleh mukjizat atau prestasi, tetapi oleh cinta yang rendah hati dan tanpa pamrih—cinta yang mengampuni, yang melayani orang miskin, yang mengantisipasi kebutuhan orang lain tanpa menunggu diminta.
Jadi hari ini, mari kita berdoa bersama para rasul: “Tambahkanlah iman kami.” Dan mari kita pahami apa yang kita minta: bukan lebih banyak kuantitas, tetapi kepercayaan yang lebih dalam. Iman sebesar biji sesawi dapat mencabut kebencian, mengatasi perpecahan, menyembuhkan hubungan yang rusak, dan membangun dunia baru yang adil dan damai. Itulah mukjizat iman: ketika kita menaruh sedikit kepercayaan pada Yesus, Allah dapat melakukan apa yang tampaknya mustahil.
Tuhan, berilah kami iman yang teguh yang membantu kami mengatasi segala kebimbangan dan keragu-raguan, agar kami tetap mencari kehendak dan rencan-Mu dalam situasi apapun. Amin.

