hope in the lord

Teguh dalam Pengharapan

Minggu, 16 November 2025, Minggu Biasa XXXIII Tahun C
Bacaan: Mal. 4:1-2aMzm. 98:5-6,7-8,9a2Tes. 3:7-12Luk. 21:5-19.

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21: 19)

Injil hari ini dimulai dengan adegan yang mengagumkan. Beberapa orang berbicara dengan bangga tentang keindahan Bait Suci—batu-batunya yang indah, emasnya, dan kemegahannya. Memang, Bait Suci adalah salah satu keajaiban dunia kuno. Namun, Yesus melihat melampaui apa yang memukau mata. Ia berkata, “Akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Kata-kata itu pasti mengejutkan pendengarnya. Bait Suci adalah pusat iman Israel, simbol kehadiran Allah. Bagaimana mungkin ia bisa runtuh? Namun Yesus tidak berusaha menakut-nakuti. Ia mengajar murid-murid-Nya untuk melihat apa yang benar-benar abadi. Hal-hal yang kita bangun — bangunan kita, prestasi kita, bahkan kesuksesan kita — akan lenyap suatu hari nanti. Hanya iman, harapan, dan kasih yang abadi.

Para murid bertanya, “Bilamanakah hal itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Seperti mereka, kita pun sering penasaran tentang masa depan. Kita ingin tahu apa yang akan datang, untuk merasa aman. Namun Yesus menolak memberitahukan waktunya. Ia hanya berkata, “Jangan tertipu. Jangan takut.” Perang, revolusi, gempa bumi, dan bencana akan datang, ya — tetapi semua itu bukan akhir. Semua itu adalah bagian dari kelahiran Kerajaan Allah yang sering berupa proses yang panjang dan menyakitkan.

Lukas menulis kata-kata dalam Injil ini sekitar lima puluh tahun setelah kematian Yesus, ketika Bait Suci memang telah dihancurkan, dan orang-orang Kristen mengalami penganiayaan. Banyak yang berpikir bahwa itu adalah akhir dunia. Tetapi Lukas mengingatkan mereka, dan kita semua, bahwa semua itu bukan tanda ketidakhadiran Allah, melainkan tanda pekerjaan-Nya yang penuh misteri dalam sejarah. Allah tidak mengakhiri dunia; Dia sedang mengubahnya.

Yesus lalu berbicara langsung kepada murid-murid-Nya: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya oleh karena nama-Ku.” Namun Ia menambahkan, “Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.” Apa yang tampak seperti kekalahan menjadi kesempatan untuk bersaksi. Allah dapat mengubah penderitaan menjadi misi.

Dan kemudian Ia menyampaikan kata-kata penghiburan: “tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu…. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.” Tuhan menjanjikan bukan keselamatan, tetapi kehadiran-Nya. Ia tidak berkata, “Kalian tidak akan menderita.” Ia berkata, “Tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Dengan kata lain, hidup sejati kalian — jiwa kalian, martabat kalian sebagai anak-anak Allah — tidak dapat dihancurkan.

Ketekunan adalah kuncinya: “Dengan ketekunan kalian akan menyelamatkan hidup kalian. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Hidup Kristen bukanlah tentang menghindari cobaan, tetapi tetap setia di dalamnya. Dunia mungkin runtuh; iman tetap teguh.

Saudara-saudari, Injil ini mengajak kita untuk menaruh hati kita bukan pada apa yang fana, tetapi pada apa yang kekal. Ketika hidup tampak tidak pasti, ketika kejahatan seolah-olah menang, marilah kita ingat bahwa Kerajaan Allah sudah mulai lahir, secara diam-diam, melalui iman mereka yang bertahan dalam kasih.

Banyak hal cepat berubah saat ini, ada yang menjadi lebih baik, ada yang menjadi lebih buruk. Kita sepertinya berada di titik balik sejarah baik di dalam Gereja maupun di dunia. Ada banyak kekhawatiran di kalangan kita. Tetapi intinya bukanlah: Apakah ini akhir dunia? Apakah akhir jaman segera tiba? Kita harus menyerahkan hal itu kepada Tuhan. Yang lebih penting adalah: Apa yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia ini lebih manusiawi, lebih layak huni, sesuai dengan pesan Injil?

Mari kita melangkah maju, bukan dalam ketakutan, tetapi dalam harapan — percaya bahwa Kristus, yang telah mengalahkan maut, akan menyempurnakan pekerjaan yang telah Dia mulai dalam diri kita.

Tuhan, bimbing kami untuk tetap setia, bertekun dalam menghidupi iman kami serta senantiasa berharap pada-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *