Rabu, 3 September 2025, Peringatan wajib St. Gregorius Agung
Bacaan: Kol. 1:1-8; Mzm. 52:10,11; Luk. 4:38-44.
“Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.” [Luk 4: 38 – 39]
Dalam Injil hari ini, kita menjumpai Yesus yang meninggalkan sinagoga dan kemudian masuk ke rumah Simon Petrus. Di sana, Ia menemukan ibu mertua Petrus yang sakit demam tinggi. Tanpa ragu, Yesus mendekatinya, memegang tangannya, dan menyembuhkannya. Segera, ia bangkit dan melayani.
Adegan sederhana ini mengungkapkan inti misi Yesus. Ia selalu siap untuk melayani. Bahkan ketika lelah, bahkan setelah mengajar, Ia merespons panggilan kebutuhan manusia. Kasih Yesus tidak berhenti di pintu rumah; Ia masuk ke tempat-tempat paling biasa dalam hidup, ke dapur kita, keluarga kita, perjuangan sehari-hari kita.
Perhatikan juga bagaimana mukjizat terjadi secara pribadi. Tidak ada kerumunan, tidak ada tepuk tangan — hanya belas kasih Yesus yang tenang. Betapa sering kita bertindak dermawan di depan umum tetapi melupakan kebaikan di rumah! Namun Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kasih dimulai dari lingkaran terkecil — rumah kita, keluarga kita, komunitas kita, hubungan sehari-hari kita.
Dan kemudian, ibu mertua Petrus mengajarkan sesuatu yang penting: setelah disembuhkan, ia segera mulai melayani. Penyembuhannya bukan hanya untuk dirinya sendiri; itu adalah rahmat yang harus dibagikan. Kesehatan, kekuatan, bahkan hidup kita sendiri, bukanlah harta untuk kenyamanan, tetapi hadiah, rahmat, yang harus dibagikan untuk orang lain.
Akhirnya, Yesus menarik diri pada pagi hari untuk berdoa. Kekuatannya untuk melayani berasal dari persatuannya dengan Bapa. Doa bukanlah pelarian dari kebutuhan manusia, tetapi sumber yang memungkinkan kita untuk memenuhinya.
Di sini kita juga mendengar Yesus berbicara untuk pertama kalinya tentang Kerajaan Allah. Kerajaan itu sudah ada di sini dalam penyembuhan-Nya, pengajaran-Nya, dan kasih-Nya. Kerajaan itu ada di antara kita setiap kali kita membiarkan kehendak Allah terlaksana. Dan Kerajaan itu akan mencapai kesempurnaan ketika seluruh ciptaan hidup dalam kasih.
Ada sebuah moto: ad omne opus bonum paratus semper, selalu siap sedia untuk pekerjaan yang baik. Apakah kita seperti Yesus selalu siap sedia untuk apa saja yang baik? Atau hati kita tertutup sehingga tiada tempat lagi untuk orang lain? Atau kita hanya tinggal dalam kenyamanan kita?
Tuhan, sembuhkanlah kami, sehingga kami pun dapat bangkit dan melayani dalam Kerajaan-Mu. Amin.
St. Gregorius Agung

Hari ini kita peringati St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja. Gregorius lahir di Roma pada tahun 540. Ia menjabat sebagai senator dan prefek Roma sebelum usia 30 tahun. Setelah lima tahun, ia mengundurkan diri dan menjadi biarawan, mengubah rumahnya sendiri menjadi biara Benediktin, serta mendirikan enam biara lainnya. Pada usia 50 tahun, ia terpilih menjadi Paus, menjabat dari tahun 590 hingga 604. Dalam 14 tahun, ia melakukan banyak hal untuk Tubuh Mistik Kristus.
Setelah melihat anak-anak Inggris dijual sebagai budak di Roma, ia mengirim 40 biarawan, termasuk Santo Agustinus dari Canterbury, dari biaranya sendiri untuk “mengubah orang-orang Inggris menjadi malaikat.” Inggris berhutang pertobatan kepadanya. Pada masa ketika invasi suku barbar Lombard menciptakan situasi baru di Eropa, ia berperan besar dalam memenangkan mereka untuk Kristus. Ketika Roma sendiri diserang, ia secara pribadi pergi menemui Raja Lombard (Langobardi).
Pada saat yang sama, ia juga mengawasi dengan ketat kesucian para imam dan pemeliharaan disiplin Gereja, kepentingan duniawi umatnya di Roma, serta kepentingan rohani seluruh umat Kristiani. Ia memberhentikan imam-imam yang tidak layak dari jabatannya, melarang penerimaan uang untuk berbagai layanan, dan mengosongkan kas kepausan untuk menebus tawanan Lombard, merawat orang-orang Yahudi yang dianiaya, serta korban wabah dan kelaparan. Perbuatan-perbuatan ini dan lainnya menjadikannya, sebagaimana disebutkan dalam salah satu antifon dalam ibadat harian/brevir: seorang gembala dan pembimbing umat yang ulung. Apa yang dikotbahkan, dilaksanakannya.
Gregorius mereformasi liturgi, dan hingga kini liturgi tersebut masih mengandung beberapa doa terindah karyanya. Nama “Nnyanyian Gregorian” mengingatkan kita pada karya besar Paus ini dalam pengembangan musik Gereja. Komentar-komentarnya tentang Kitab Suci memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemikiran Kristen pada Abad Pertengahan. Santo Gregorius wafat pada 12 Maret 604. Jenazahnya dimakamkan di Basilika Santo Petrus di Roma.
St. Gregorius adalah pelindung anak-anak paduan suara; pendidik; rematik; tukang batu; musik; musisi; paduan suara; penyanyi; tukang ukir batu; guru; paus; pelajar; cendekiawan; melawan wabah; melawan rematik; melawan demam; Inggris; Kepulauan Karibia.

