Selasa, 17 Februari 2026, Selasa Pekan Biasa VI
Bacaan: Yak. 1:12-18; Mzm. 94:12-13a,14-15,18-19; Mrk. 8:14-21.
“Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes," (Mrk 8: 14 – 15)
Injil hari ini memberikan peringatan terhadap ragi orang-orang Farisi dan ragi Herodes. Berkat para ahli Alkitab, kini kita mengetahui bahwa Markus menulis Injilnya untuk para katekumen di Roma. Ia ingin menyampaikan pesan khusus kepada mereka yang akan dibaptis dan masuk ke dalam iman: Kabar Baik tentang Yesus Kristus menyebar dan berkembang seperti ragi. Namun, tidak semua yang berkembang (seperti ragi) adalah kabar baik! Dalam bab-bab sebelumnya, Markus menggambarkan para Farisi sebagai orang-orang munafik dan pencari kekuasaan. Dalam setiap kisah mukjizat Yesus, ada suara-suara yang menentang-Nya dari para pemimpin agama. Mereka menentang pengampunan Allah, pengamalan Sabat dipaksakan sebagai beban bagi orang-orang, mereka mencari pengakuan di tempat-tempat umum. Mereka iri terhadap kuasa luar biasa dan popularitas yang diperoleh Yesus. Iri hati, kemunafikan, dan semua kecenderungan jahat bekerja seperti ragi yang mencemari masyarakat.
Ragi Herodes telah digambarkan dan dijelaskan oleh Markus dengan apik dalam “dramatisasi” eksekusi Yohanes Pembaptis. Herodes menginginkan keamanan politik dengan segala cara dan tidak dapat menerima kritik. Ia lebih mengutamakan kehormatan pribadi daripada nyawa orang lain. Tampil baik adalah hal yang mutlak; berbuat baik adalah hal yang tidak relevan. Ia dapat berpesta dan bersenang-senang sementara rakyatnya dieksploitasi hingga batas daya tahan mereka. Kita pun mesti waspada terhadap ragi “Herodes-Herodes masa kini” yang haus kekuasaan dan pengakuan, yang menghalalkan segala cara untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya, yang korupsi di depan mata secara brutal!
Referensi Markus tentang satu roti di dalam perahu sangatlah signifikan. Perahu merupakan simbol komunitas Markus yang sedang bermisi. Di dalam komunitas murid-murid, hanya ada satu roti, Roti Hidup yang turun dari surga. Itu lebih dari cukup untuk semua orang, Yahudi dan non-Yahudi.
Dalam Perjamuan Terakhir, kita melihat Yesus mengambil roti di tangan-Nya dan mengundang murid-murid-Nya untuk memakannya, sambil menyatakan bahwa roti itu adalah tubuh-Nya yang dipecahkan untuk semua. Dalam pikiran Yesus, Ekaristi akan menjadi perayaan visi Allah yang inklusif, tawaran Allah yang universal akan pengampunan dan kehidupan yang penuh. Roti Ekaristi tidak akan memberi tempat bagi ragi orang Farisi atau ragi Herodes.
Markus mencatat kesedihan mendalam Yesus bahwa bahkan para murid-Nya belum memahami pikiran-Nya dan visi yang Ia coba ungkapkan selama pelayanan-Nya di Galilea.
Namun Yesus tidak mundur dari misinya. Ia terus bekerja dengan para murid-Nya yang keras hati. Meskipun semua keterbatasan mereka, Ia mencintai mereka, Ia berharap pada mereka. Mari bangun kewaspadaan agar tidak tercemar “ragi” yang membusukkan kehidupan. Hari ini adalah tahun baru Imlek, memasuki tahun kuda api. Kuda api menyiratkan energi yang kuat, penuh semangat, serta dorongan bagi perubahan dan peluang baru dalam kehidupan. Mari bekerja keras mengusahakan perubahan menuju hidup yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih bersih, dikuatkan oleh Sang Roti Hidup yang ada di tengah-tengah kita.
Tuhan Yesus, hanya Engkaulah roti kehidupan sejati yang menopang kami setiap hari. Berilah kami sukacita dan kekuatan untuk selalu melayani Engkau dan bantulah kami untuk berpaling dari ragi dosa dan keduniawian yang membawa kerusakan dan kematian. Amin.

