rabu abu

Rabu Abu: Doa, Pengorbanan, Berbagi

Rabu, 18 Februari 2026, Rabu Abu
Bacaan: Yl. 2:12-18Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,172Kor. 5:20 – 6:2Mat. 6:1-6,16-18.

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” (Yl 2: 13)

Hari ini, Rabu Abu, (dies cinerum), adalah “Hari Pendamaian” Gereja. Sebutan untuk hari itu berasal dari praktik kuno dalam berkabung atau melakukan silih dosa dengan mengenakan “karung goni dan abu” untuk mengungkapkan penyesalan, tidak hanya oleh Umat Terpilih tetapi juga oleh orang-orang kafir. Perjanjian Lama menunjukkan kepada kita orang-orang kafir Niniwe, Raja Ben Haddad dari Syria yang kafir, dan Ratu Ester Yahudi, yang semuanya berpuasa, mengenakan kain kabung dan abu. Gereja menginstruksikan kita untuk merayakan Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai hari puasa penuh dan pantang. Puasa dimaksudkan untuk memperkuat doa pertobatan kita selama masa Prapaskah.

Dengan Rabu Abu kita mengawali Masa Prapaskah, empat puluh hari yang adalah retret tahunan umat Allah, meneladan Yesus yang empat puluh berpuasa di padang gurun. Empat puluh adalah angka penting dalam Kitab Suci. Musa pergi ke gunung untuk mencari wajah Allah selama empat puluh hari dalam doa dan puasa. Bangsa Israel berada di padang gurun selama empat puluh tahun sebagai persiapan untuk masuk ke tanah perjanjian. Elia berpuasa selama empat puluh hari saat dia melakukan perjalanan di padang gurun menuju gunung Allah. Kita dipanggil untuk melakukan perjalanan bersama Tuhan dalam waktu khusus doa, puasa, sedekah, dan pertobatan; saat kita mempersiapkan diri untuk merayakan Paskah, kemenangan Yesus atas dosa, Setan, dan maut.

Bacaan-bacaan hari ini memberi kita peneguhan. Dari Nubuat Nabi Yoel dan Surat Rasul Paulus kepada Umat di Korintus, kita diyakinkan bahwa saat inilah kesempatan bagi kita untuk menjadi lebih baik. Kita diyakinkan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk bangkit dan keluar dari kebiasaan-kebiasaan buruk, dari kemalangan kita, dari keberdosaan kita dan menjadi lebih baik. Hari Rabu Abu adalah saat terbaik untuk menjadi baik. Lalu bagaimana dengan waktu yang lain? Bagaimana dengan minggu ketiga November, atau minggu pertama September, atau minggu terakhir bulan Januari? Waktu yang lain juga merupakan waktu yang baik untuk menjadi lebih baik. Artinya, kita tidak harus menunggu Rabu abu untuk berbalik dari dosa-dosa kita. Setiap hari sepanjang tahun adalah undangan bagi kita untuk berbalik dari dosa-dosa kita.

Apa yang diminta dari kita jika kita ingin berbalik dari dosa-dosa kita? Ada tiga hal. Yang pertama adalah keheningan, kesendirian. Tentu kita sangat menghargai kebersamaan kita sebagai komunitas. Tetapi kebersamaan kita sebagai komunitas juga harus dilengkapi dengan kesendirian: menyendiri dari orang lain, menyendiri dari orang banyak dan keramaian, untuk bersatu dengan Tuhan. Kita harus menyediakan waktu untuk membangun semangat doa.

Yang kedua adalah pengorbanan. Hari ini adalah hari puasa. Ini adalah hari untuk berpantang. Kita diharapkan untuk melepaskan apa saja yang kita “nikmati”. Kita diharapkan untuk melepaskan apa saja yang memberi kesenangan rasa dan selera. Mengapa harus kita lepaskan? Mengapa kita harus berkorban? Pengorbanan dalam dirinya barangkali tidak baik. Pengorbanan menjadi baik jika disertai dengan hal ketiga, berbagi. Dengan kata lain, jatah makanan yang tidak kita makan hari ini karena puasa dan pantang, bagikanlah kepada orang lain. Jangan karena kita pantang hari ini lalu kita simpan untuk dimakan besok… Jadi, apa yang tidak kita makan, tidak kita nikmati hari ini, bagikanlah kepada mereka yang miskin, yang lapar, yang kekurangan sepanjang hari sepanjang tahun. Itulah cara kita berpuasa.

Doa, pengorbanan dan berbagi. Mari, hal-hal itu tidak hanya kita lakukan pada Rabu Abu. Mari kita lakukan setiap hari sepanjang tahun. Rabu Abu membuat kita memusatkan diri dan perhatian kita pada ketiga hal itu: Doa, Pengurbanan dan Berbagi. Namun, hidup kristiani yang baik ditandai dengan ketiga hal itu setiap hari, sepanjang tahun.

Tuhan Yesus, berilah aku iman yang hidup, harapan yang teguh, amal kasih yang sungguh-sungguh, dan cinta yang besar kepada-Mu. Ambillah dari padaku segala keengganan untuk merenungkan Sabda-Mu, dan kemalasan dalam doa. Beri aku semangat dan kegembiraan, penuhi aku dengan belas kasih terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan, agar aku dapat menanggapinya dengan murah hati.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *