persembahan janda miskin

Pemberian yang Murah Hati

Senin, 24 November 2025, Peringatan Wajib St. Andreas Dung Lac dan para Martir Vietnam
Bacaan: Dan. 1:1-6,8-20; MT Dan 3:52,53,54,55,56Luk. 21:1-4.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya,” (Luk 21: 3 – 4).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengarahkan perhatian kita pada sebuah peristiwa yang kebanyakan orang akan abaikan — seorang janda miskin yang diam-diam memasukkan dua peser kecil ke dalam peti persembahan Bait Suci. Bagi banyak orang, persembahannya tampak tidak berarti, terutama dibandingkan dengan orang kaya yang memberi dari kelimpahan mereka. Namun Yesus melihat dengan cara yang berbeda. Ia melihat hati.

Yang menggerakkan Yesus bukanlah jumlah yang diberikan, tetapi cinta dengan mana persembahan itu diberikan. Janda itu memberikan “segala yang dia miliki untuk hidupnya.” Kedermawanannya berasal dari iman — keyakinan bahwa Allah akan menyediakan. Sementara orang lain memberikan apa yang bisa mereka sisihkan, dia memberikan hidupnya sendiri.

Injil hari ini menantang cara kita mengukur nilai. Di mata Allah, kedermawanan bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa banyak diri kita yang kita tempatkan dalam pemberian itu. Dunia mengagumi sumbangan besar, proyek yang mengesankan, tindakan yang terlihat, apalagi yang diliput media… Tetapi Allah melihat lebih dalam — ke pengorbanan yang tenang, cinta yang tersembunyi, persembahan yang diberikan dengan kerendahan hati dan iman.

Di tengah umat Gereja purba, semangat berbagi ini menandai komunitas Kristen. “Tidak ada orang yang kekurangan di antara mereka,” kata Kisah Para Rasul, karena umat beriman memiliki segala sesuatu secara bersama-sama. Namun, seiring dengan pertumbuhan kekayaan dan kenyamanan, semangat solidaritas asli itu sering memudar. Tantangan bagi kita saat ini tetap sama: untuk menimba kembali cinta dari hati janda miskin itu.

Kita dikelilingi oleh orang-orang yang membutuhkan — secara materi, emosional, dan spiritual. Setiap tindakan cinta yang kecil — kunjungan, doa, makan bersama, atau saat mendengarkan — dapat menjadi “dua peser kecil” kita. Yang penting bukanlah seberapa banyak yang kita berikan, tetapi apakah kita memberikannya dengan cinta.

Semoga janda miskin ini mengajarkan kita untuk lebih percaya, mencintai dengan lebih bebas, dan memberi bukan dari kelebihan kita, tetapi dari hati kita — hingga hidup kita sendiri menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah.

Tuhan, ajarkanlah kami kami agar bermurah hati untuk berbagi tidak hanya dari kelimpahan kami, tetapi juga, ketika diperlukan, dari kemiskinan kami sendiri. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *