perumpamaan 10 gadis

Pelita Tanpa Minyak Akan Padam

Sabda Hidup
Minggu, 8 November 2026, Minggu Biasa XXXII Tahun A
Bacaan: Keb. 6:12-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes. 4:13-18 (panjang) atau 1Tes. 4:13-14 (singkat); Mat. 25:1-13.

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." [Mat 25: 13]

Bayangkan gadis-gadis pengiring pengantin itu meninggalkan rumah mereka untuk pergi menanti kedatangan mempelai laki-laki. Percakapan berikut terjadi di antara mereka:

“Menurutmu, apakah kita perlu membawa minyak cadangan?”
“Kenapa? Mempelai laki-laki akan tiba saat matahari terbenam. Begitulah yang tertulis di jadwal.”
“Tapi bagaimana kalau dia terlambat? Nanti kita tidak punya cukup minyak untuk semalam?”
“Ayolah! Kenapa kamu begitu pesimis? Kenapa kamu selalu memperumit masalah? Kamu mau kita bawa minyak ekstra yang tidak akan kita pakai? Tidak usah repot lah…”
“Iya, tapi siapa tahu! Aku sih akan bawa minyak ekstra, buat jaga-jaga…”

Kita semua tahu kelanjutan ceritanya. Mempelai laki-laki terlambat, dan para pengiring pengantin yang membawa minyak ekstra terbukti sebagai yang bijaksana. Kebijaksanaan di sini sedikit hubungannya dengan kecerdasan pribadi atau IQ. Kebijaksanaan adalah pilihan — pilihan untuk melakukan segala yang diperlukan guna bersiap menghadapi kemungkinan terburuk sambil berharap yang terbaik. Yang bodoh hanya berharap yang terbaik dan tidak bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Perumpamaan tentang Gadis-gadis Bijaksana dan Bodoh ini diceritakan dalam latar belakang budaya yang sangat berbeda dari budaya kita saat ini. Beberapa penjelasan tentang pernikahan Yahudi pada zaman Perjanjian Baru mungkin dapat membantu kita memahami kisah ini dengan lebih baik. Pada hari pernikahan, mempelai laki-laki dan teman-temannya akan pergi menjemput mempelai wanita dari keluarganya. Upacara tersebut berlangsung pada malam hari, sehingga rombongan mempelai laki-laki biasanya berangkat untuk tiba di rumah mempelai wanita beberapa saat setelah matahari terbenam. Sementara itu, mempelai wanita dan para pengiringnya menanti kedatangan mempelai pria beserta rombongannya. Begitu mereka tiba, para pengiring pengantin akan bergabung dengan rombongan saat mereka mengantar mempelai wanita ke keluarga mempelai pria, tempat pesta akan diadakan. Mereka membawa lampu yang menyala untuk perjalanan malam dan menyanyikan lagu-lagu cinta saat berjalan dalam prosesi.

Dalam Perumpamaan tersebut, mempelai laki-laki terlambat dan tiba pada tengah malam. Sementara itu, kelima pengiring pengantin yang tidak membawa minyak cadangan menyadari bahwa minyak mereka hampir habis dan pergi ke desa untuk membeli minyak tambahan. Sementara itu, rombongan telah berangkat menuju rumah mempelai laki-laki. Saat mereka mendapatkan minyak dan menemukan jalan ke rumah mempelai laki-laki, pesta telah dimulai dan mereka tidak diizinkan masuk. Mereka pasti sangat terkejut ketika mereka berseru, “Tuan, tuan, bukakanlah bagi kami!” dan mendengar suara mempelai pria, “Aku tidak mengenal kamu” (ay. 11-12).

Perumpamaan ini, yang hanya terdapat dalam Injil Matius, kemungkinan besar berfungsi sebagai peringatan bagi orang-orang Kristen awal yang mengharapkan kedatangan kembali Sang Juruselamat dalam waktu dekat. Matius memberitahu mereka bahwa kedatangan Tuhan mungkin tertunda melebihi harapan mereka dan oleh karena itu, mereka harus mempersiapkan diri untuk penantian yang panjang dengan menyediakan minyak yang cukup untuk pelita mereka. Banyak detail dalam perumpamaan ini masuk akal jika dilihat dalam kerangka tema utama ini. Mempelai laki-laki itu adalah Kristus. Mempelai wanita adalah Gereja (Wahyu 22:17). Sepuluh gadis pengiring mewakili seluruh anggota Gereja. Pelita yang dimiliki oleh semua gadis pengiring dapat melambangkan iman yang dimiliki oleh semua orang Kristen. Minyak, yang dimiliki oleh sebagian dari mereka dan tidak oleh yang lain, melambangkan perbuatan baik. Sebuah lampu tanpa minyak sama seperti iman tanpa perbuatan baik — mati dan tidak berguna (Yakobus 2:17).

Apakah pesan Matius kepada sesama orang Kristen masih relevan bagi orang Kristen zaman kita? Tentu sangat relevan! Saat kita mendekati akhir tahun liturgi, Gereja, melalui Injil, mengajak kita untuk merenungkan saat akhir — akhir hidup kita dan akhir zaman. Cara mempersiapkan diri untuk akhir zaman bukanlah dengan hidup dalam ketakutan dan kecemasan, atau mengejar para nabi dan pelihat yang mengklaim bahw mereka tahu bagaimana dan kapan dunia akan berakhir. Yesus telah memberitahu kita bahwa Anak Manusia akan kembali pada Hari Terakhir untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Bagaimana dan kapan hal itu akan terjadi, kita tidak tahu pasti. Lalu, bagaimana seharusnya seorang Kristen yang bijaksana mempersiapkan diri untuk akhir zaman? Perumpamaan hari ini memberi kita jawabannya: Cara terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir zaman adalah dengan mengikuti teladan para gadis bijak. Para gadis bijak itu membawa minyak yang cukup agar pelita mereka tetap menyala. Demikian pula, kita harus terlibat dan tekun dalam perbuatan baik untuk menjaga iman kita tetap hidup. Itulah cara terbaik untuk mempersiapkan diri menyambut Tuhan, kapan pun Tuhan datang.

Tuhan, semoga kami tetap berjaga dan bertekun. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *