Kamis, 2 April 2026, Kamis Putih
Bacaan: Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.
“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” [Yoh 13: 4 – 5]
Hari ini, Gereja merayakan Ekaristi dan Imamat. Liturgi Kamis Putih juga mengingatkan kita akan panggilan kita untuk berlutut dan membasuh kaki satu sama lain. Marilah kita berdoa untuk para imam kita dalam menjalani liturgi hari ini!
Mari kita coba menyelami maknanya yang mendalam. Bayangkanlah adegan ini: Sang Guru memimpin murid-murid-Nya ke dalam perjamuan Paskah. Ketika tamu memasuki sebuah rumah, adalah tugas para budak untuk membasuh kaki para tamu. Namun, di sini berdiri Yesus – Sang Guru dan Tuhan kita – membungkuk untuk membasuh kaki murid-murid-Nya. Sebuah pembalikan peran yang menentang kebiasaan yang ada. Inilah paradoks Injil. Sang Raja Semesta berlutut. Guru dan Tuhan membasuh kaki.
Mengapa Yesus melakukan hal ini? Ini bukan sekadar karena alasan kebersihan atau mengikuti tradisi. Ini adalah sebuah pelajaran tentang KASIH dan KERENDAHAN HATI yang terukir indah. Perjamuan Terakhir – Ekaristi, mendapatkan maknanya hanya ketika digabungkan dengan pembasuhan kaki. Ketika Dia membasuh kaki mereka, Dia berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu,” (Yohanes 13:15).
Sementara ketiga Injil (Matius, Markus, Lukas) mencatat Yesus mengucapkan kata-kata institusi pada Perjamuan Terakhir – “Inilah tubuh-Ku… inilah darah-Ku… perbuatlah ini untuk mengenang Aku” – Yohanes hanya menceritakan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Bagi Yohanes, tindakan ini sama pentingnya dengan institusi Ekaristi. Ekaristi harus menuntun kita keluar dari Gereja ke dalam pelayanan yang rendah hati kepada sesama.
Ini merupakan kritik bagi kita. Di dunia kita, banyak yang arogan, main kuasa, brutal, tidak punya hati, merasa diri paling benar, paling harus ditakuti. Mereka nampak kuat, tetapi sebenarnya rapuh. Mereka membangun ketakutan, bukan kepercayaan; menciptakan jarak, bukan kedekatan; menuntut hormat, tetapi gagal menghadirkan kasih.
Ekaristi mengundang kita untuk melepaskan kesombongan dan kepentingan diri sendiri dan mengubah posisi istimewa kita menjadi sebuah kesempatan untuk melayani. Tidak ada yang lebih baik dalam mengungkapkan makna Ekaristi selain Yesus yang mengundang kita untuk membasuh kaki satu sama lain.
Tuhan, tolonglah aku untuk memahami apa artinya menjadi pelayan. Tolonglah aku untuk menghidupi kerendahan hati dalam hidupku. Semoga karunia Tubuh dan Darah-Mu yang Maha Kudus mengubah aku menjadi pribadi yang Engkau kehendaki. Amin.

